Sukses

Perdarahan Saat Hamil, Ini Beda yang Normal dan Berbahaya

Perdarahan saat hamil tak melulu akibat hal yang berbahaya. Kenali bedanya agar Anda tidak salah sangka.

Klikdokter.com, Jakarta Perdarahan saat hamil adalah salah satu kondisi yang sering membuat khawatir. Kondisi ini memang tak melulu terjadi akibat hal berbahaya, namun tetap harus ditanggapi dengan serius.

Fakta menyebut bahwa perdarahan saat hamil bisa terjadi pada trimester pertama, kedua, ketiga. Perdarahan yang terjadi pada tiap trimester kehamilan disebabkan oleh kondisi yang berbebeda-beda.

Perdarahan pada trimester pertama

Perdarahan pada trimester pertama umumnya disebabkan oleh implantasi. Perdarahan biasanya bersifat ringan dan akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa jam.

Pada trimester pertama, perdarahan juga dapat terjadi karena hubungan seksual. Ini terjadi karena leher rahim (serviks) sedang mengalami perubahan, sehingga lebih mudah berdarah saat terkena gesekan. Perdarahan karena adanya perubahan serviks ini juga biasanya berhenti dengan sendirinya.

Namun, perdarahan pada trimester pertama, terdapat pula perdarahan yang menandakan adanya keguguran dan kehamilan ektopik. Pada kasus ini, perdarahan biasanya disertai dengan adanya nyeri atau rak perut bagian bawah dan keluarnya jaringan atau lendir dari vagina.

Bila mengalami perdarahan yang berbahaya, ibu hamil dan suami harus tetap tenang dan segera berobat ke dokter. Selama perjalanan ke dokter, gunakan pembalut agar jumlah perdarahan dapat diketahui dan dievaluasi untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Perdarahan pada trimester kedua

Pada trimester kedua kehamilan, perdarahan lebih mungkin terjadi akibat hal yang berbahaya. Oleh karena itu, jika ibu hamil mengalami perdarahan di masa-masa ini, jangan sungkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab perdarahan pada trimester kedua, misalnya plasenta yang lepas dari dinding rahim, plasenta yang terdapat di jalan lahir, dan adanya kelahiran prematur.

Pada plasenta yang lepas dari dinding rahim, perdarahan biasanya disertai dengan rasa nyeri. Sedangkan, jika terjadi akibat plasenta yang ada di jalan lahir, perdarahan bisanya disertai tanpa rasa nyeri. Apabila terjadi akibat kelahiran prematur, perdarahan biasanya akan disertai dengan lendir dan tanda-tanda persalinan seperti kontraksi pada rahim.

Selain itu, perdarahan pada trimester kedua kehamilan juga bisa disebabkan oleh adanya infeksi vagina, polip, dan perubahan leher rahim (serviks). Semua kondisi ini perlu diperiksakan oleh dokter, karena bisa mengancam ibu dan janin dalam kandungan.

Perdarahan pada trimester ketiga

Pada kehamilan trimester tiga, salah satu kondisi gawat darurat yang bisa menyebabkan terjadinya perdarahan adalah masuknya plasenta ke dalam dinding rahim. Medis menyebut ini sebagai plasenta akreta.

Pada persalinan normal, plasenta dapat terlepas dari rahim dengan sendirinya dan keluar melalui vagina setelah 15–30 menit. Sementara itu, pada kondisi plasenta akreta, plasenta akan sangat sulit dilepaskan sekalipun dengan obat-obatan. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dari rahim, yang bila tidak ditangani bisa mengancam nyawa.

Perdarahan saat hamil harus ditanggapi dengan serius, terlepas dari kapan kondisi itu terjadi. Sebab, keluarnya darah yang terjadi berkelanjutan bisa berujung pada anemia yang bisa mengancam keselamatan ibu hamil maupun janin dalam kandungan. Karenanya, bagaimanapun kondisinya, perdarahan saat hamil tetap perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar