Masalah Kehamilan

Kehamilan Ektopik

Tim Medis Klikdokter, 26 Oktober 2022

Icon ShareBagikan
Icon Like

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar kandungan. Apa sih penyebab dan faktor risikonya? Simak penjelasan disini

Kehamilan ektopik

Kehamilan Ektopik

Dokter spesialis

Kebidanan dan Kandungan

Gejala

Rasa nyeri tajam dan hebat pada perut bagian bawah, rasa nyeri akan bertambah hebat bila bergerak, perdarahan masif vagina, kram perut

Faktor risiko

Kehamilan ektopik sebelumnya, operasi tuba fallopi sebelumnya, operasi panggul atau perut sebelumnya, infeksi menular seksual tertentu, penyakit radang panggul, endometriosis, merokok, usia di atas 35 tahun, riwayat infertilitas, riwayat fertilisasi in vitro (IVF)

Cara diagnosis

Wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan urine, darah dan USG

Pengobatan

Terminasi kehamilan (operasi) dan obat-obatan

Obat

Methotrexate

Komplikasi

Perdarahan pada rongga panggul dan perut, pucat, dan syok hipovolemia

Kapan harus ke dokter?

Perdarahan vagina masif dan nyeri panggul, sakit perut, muntah, kram perut, kelemahan ekstrem, nyeri di bahu, leher dan rectum, pusing, pingsan, nyeri bahu, dan sakit perut yang parah terutama di satu sisi

Pengertian

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim. Pada kehamilan normal, telur yang sudah dibuahi akan melalui saluran tuba falopi yang menghubungkan indung telur dengan rahim menuju ke rahim.Telur tersebut akan melekat pada rahim dan mulai tumbuh menjadi janin.

Namun pada kehamilan ektopik, telur yang sudah dibuahi akan menempel dan tumbuh di tempat yang tidak semestinya.

Kondisi ini paling sering terjadi di daerah saluran telur, yakni menyentuh angka 98 persen.

Meskipun demikian, kehamilan ektopik juga dapat terjadi di indung telur, rongga perut, atau leher rahim.

Artikel lainnya: Mengenal Lebih Jauh Kehamilan Ektopik atau Kehamilan di Luar Rahim

Penyebab

Penyebab hamil di luar kandungan bisa beragam, seperti:

  • Riwayat hamil ektopik sebelumnya

Angka kekambuhan bisa mencapai 15 persen setelah kehamilan ektopik pertama. Bahkan, angkanya meningkat 30 persen setelah kehamilan ektopik kedua.

  • Masih menggunakan alat kontrasepsi spiral dan pil progesteron saat hamil. 

Pil yang mengandung hormon progesteron juga meningkatkan kehamilan ektopik. Alasannya, pil progesteron dapat mengganggu pergerakan sel, sehingga membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk menempel ke dalam rahim.

  • Kerusakan dari saluran telur. 

Sel telur yang sudah dibuahi mengalami kesulitan melalui saluran tersebut, sehingga menyebabkan telur melekat dan tumbuh di dalam saluran indung telur.

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan saluran ini, di antaranya merokok, penyakit radang panggul, dan endometriosis.

Faktor Risiko

Faktor risiko kehamilan ektopik meliputi:

  • Kehamilan ektopik sebelumnya
  • Operasi tuba fallopi sebelumnya
  • Operasi panggul atau perut sebelumnya
  • Infeksi menular seksual (IMS) tertentu
  • Penyakit radang panggul
  • Endometriosis
  • Merokok
  • Usia di atas 35 tahun
  • Riwayat infertilitas
  • Penggunaan teknologi reproduksi berbantuan, seperti fertilisasi in vitro (IVF)

Gejala

Pada minggu-minggu awal, kehamilan ektopik akan memiliki ciri-ciri seperti kehamilan, seperti terlambat haid, mual dan muntah, mudah lelah, dan kondisi payudara yang mengeras.

Oleh karena itu, perlu pemeriksaan secara mandiri yang lebih intensif dengan memperhatikan gejala kehamilan ektopik berikut:

  • Rasa nyeri hebat pada perut bagian bawah. Awalnya nyeri ini dapat terasa tajam, kemudian perlahan-lahan menyebar ke seluruh perut
  • Rasa nyeri akan bertambah hebat bila bergerak
  • Perdarahan vagina. Kondisinya bisa bervariasi, dapat berupa bercak atau pendarahan yang banyak seperti menstruasi

Apabila seorang wanita dengan kehamilan ektopik memiliki gejala di atas, berarti wanita tersebut mengalami kehamilan ektopik terganggu (KET).

Artikel Lainnya: Kehamilan Ektopik, Kenali Penyebab dan Penanganannya

Diagnosis

Pemeriksaan kehamilan di luar kandungan akan dilakukan oleh dokter berdasarkan wawancara, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 

Saat wawancara, dokter akan menanyakan hal-hal sebagai berikut:

  • Keluhan yang dirasakan
  • Riwayat menstruasi
  • Riwayat kehamilan dan penggunaan alat KB
  • Riwayat penyakit dan operasi sebelumnya
  • Riwayat alergi
  • Riwayat penyakit keluarga serta informasi penting lainnya

Pada saat pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan secara lengkap, termasuk pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan, perut dan panggul, serta pemeriksaan vagina. 

Pemeriksaan panggul ini dilakukan untuk mengonfirmasi ukuran rahim dalam masa kehamilan dan merasakan kondisi permukaan perut.

Sementara itu, pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan cara:

  • Pemeriksaan urine. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kehamilan
  • Pemeriksaan darah setiap dua hari sekali. Hal ini dilakukan untuk mengecek hormon ß-hCG yang diproduksi selama masa kehamilan. Pada kehamilan muda, level hormon ini meningkat sebanyak dua kali setiap 2 hari. Kadar hormon yang rendah menunjukkan adanya suatu masalah, seperti kehamilan ektopik
  • Pemeriksaan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini dapat menggambarkan isi dari rahim seorang wanita. Pemeriksaan USG dapat melihat di mana lokasi kehamilan seseorang, baik di rahim, saluran tuba, indung telur, maupun di tempat lain

Pengobatan

Penanganan kehamilan ektopik dilakukan dengan operasi atas pertimbangan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. 

Oleh karena kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa, maka deteksi dini dan keputusan untuk mengakhiri kehamilan disesuaikan dengan prosedur yang disarankan oleh pihak rumah sakit.

Pengobatan kehamilan ektopik dapat dilakukan dengan cara berikut.

1. Obat-obatan

Dapat diberikan apabila kehamilan ektopik diketahui sejak dini. Obat yang digunakan adalah obat antikanker

2. Operasi

Untuk kehamilan yang sudah berusia lebih dari beberapa minggu, operasi adalah tindakan yang lebih aman dan memiliki angka keberhasilan lebih besar daripada obat-obatan

Apabila memungkinkan, akan dilakukan operasi pembedahan ke dalam bagian dalam rongga perut dan panggul

Sementara itu, obat yang paling umum digunakan untuk mengobati kehamilan ektopik adalah methotrexate. Obat ini menghentikan pertumbuhan sel, yang mengakhiri kehamilan. 

Kehamilan kemudian diserap oleh tubuh selama 4-6 minggu. Pengobatan ini tidak memerlukan pengangkatan tuba fallopi.

Pencegahan

Pencegahan kehamilan di luar kandungan bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  • Berhenti merokok. Wanita yang merokok akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kehamilan ektopik
  • Berhubungan seksual secara aman, misalnya dengan menggunakan kondom. Hal ini dapat mengurangi risiko kehamilan ektopik dan melindungi seseorang dari penyakit menular seksual
  • Deteksi dini dengan memeriksakan diri ke dokter. Risiko kehamilan ektopik memang tidak bisa dihindari 100 persen. Namun, Anda dapat mengurangi komplikasi dengan melakukan deteksi dini

Jika Anda memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, kerja sama dengan dokter sebaiknya ditingkatkan untuk mencegah terjadinya komplikasi

  • Ketika Anda merasa terlambat haid atau mendapatkan hasil test pack yang positif, segera periksakan diri ke dokter agar dapat dilakukan USG

Hal ini untuk memastikan di mana lokasi penempelan janin. Jika ternyata janin menempel di luar rahim, penanganan segera dapat dilakukan sebelum pecahnya saluran telur

Komplikasi

Bentuk komplikasi kehamilan ektopik yang sering terjadi adalah perdarahan pada rongga panggul dan perut. Akibatnya, ibu hamil akan mengalami mulai dari kekurangan darah hingga wajah pucat, syok, bahkan kematian jika tidak ditangani dengan segera.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, hal tersebut merupakan tanda awal dari gejala kehamilan ektopik. Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter.

  • Pendarahan vagina ringan dan nyeri panggul
  • Sakit perut dan muntah
  • Kram perut yang tajam
  • Sakit di satu sisi tubuh Anda
  • Pusing atau kelemahan ekstrem
  • Nyeri di bahu, leher, atau rektum

Kehamilan ektopik dapat menyebabkan tuba falopi pecah. Gejala darurat termasuk nyeri hebat, dengan atau tanpa perdarahan hebat. 

Hubungi dokter Anda segera jika Anda mengalami pendarahan vagina berat dengan kepala terasa ringan, pingsan, atau nyeri bahu, atau jika Anda mengalami sakit perut yang parah, terutama di satu sisi.

Jangan menunda-nunda ke rumah sakit dengan alasan apa pun, terutama jika Anda mengalami gejala kehamilan ektopik terganggu.

Pecahnya saluran telur dapat menyebabkan perdarahan di dalam rongga panggul dan perut, serta kondisi fatal lainnya.

Jangan lewatkan informasi lainnya seputar kehamilan dan kesehatan ibu dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

[HNS/NM]

Tanya Dokter