Sukses

4 Gangguan Kesehatan Akibat Cuaca Panas Saat Ibadah Haji

Cuaca panas sedang terjadi di Tanah Suci. Bahayanya, ada gangguan kesehatan mengintai jemaah haji akibat cuaca panas.

Klikdokter.com, Jakarta Cuaca panas akibat terik matahari menyengat tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji yang kerap beraktivitas di luar ruangan. Selain membuat tubuh cepat lelah, suhu yang sangat panas itu dapat pula memunculkan beragam gangguan kesehatan.

Berdasarkan aplikasi pantauan suhu udara, accuweather.com, cuaca di Arab Saudi cuaca pada siang hari paling rendah 33 derajat Celsius dan tertinggi berada di angka 46 derajat Celsius. Angka ini tentu sangat jauh berbeda dengan rata-rata suhu di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta sekitar 31-33 derajat Celsius.

Bukan tak mungkin tubuh “kaget” akan perubahan ekstrem suhu udara itu. Apalagi jika Anda tidak mempersiapkan kondisi fisik matang-matang sebelum keberangkatan. Bisa jadi, Anda “tumbang” di tengah rangkaian ibadah haji.

Gangguan kesehatan akibat cuaca panas

Jadi, apa saja gangguan kesehatan yang mungkin terjadi akibat cuaca panas yang wajib diwaspadai oleh para jemaah haji? Berikut yang harus diwaspadai:

1. Dehidrasi

Hal pertama yang bisa dialami jemaah haji adalah dehidrasi. Ini terjadi akibat tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi kesehatan yang lebih serius jika dibiarkan.

"Di Tanah Suci kan panas, minum juga pasti kurang karena kegiatan banyak. Lalu, sering juga jemaah haji sengaja tidak banyak minum supaya tidak bolak balik kencing. Apalagi, kencing di sana bisa antre lama. Ini bisa membuat jemaah rentan kekurangan cairan," ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter.

Seperti disebutkan sebelumnya, masalah serius bisa terjadi jika dehidrasi tidak ditangani dengan baik. Mulai dari syok, koma, gagal ginjal, kejang, kram otot, dan paling parah adalah kematian.

2. Masalah pernapasan

"Ini juga sangat mungkin dialami para jemaah haji. Karena pada saat cuaca panas itu, udara cenderung menjadi kering dan debu menjadi ringan. Jadinya, debu bisa masuk ke saluran pernapasan jemaah haji. Awalnya biasanya iritasi dulu, lalu akhirnya bisa membuat infeksi pada pernapasan," ungkap dr. Sepriani.

3. Diare

Prinsipnya diare sama seperti masalah pernapasan. Karena cuaca cenderung kering dan debunya ringan, itu mudah menyangkut di makanan jadinya makanan terkontaminasi akhirnya bisa menyebabkan diare.

"Kondisi lain yang menyebabkan diare adalah mungkin banyak jemaah haji jarang atau kalau sempat saja untuk mencuci tangannya. Ya, ini karena disebabkan banyak faktor. Jadi, bisa membuat diare mudah terkena," dr. Sepriani menjelaskan.

4. Heatstroke

Ini adalah gangguan kesehatan yang paling berbahaya terkait suhu yang sangat panas. Paling berbahaya jika suhu tubuh sudah di atas 40 derajat Celsius.

"Kalau suhu sudah tinggi banget, tubuh sudah tidak bisa kompensasi, biasanya saat suhu di atas 40 derajat celsius, itu akhirnya bisa mengganggu fungsi-fungsi organ, gangguan otak, ginjal, dan jantung. Akhirnya itu bisa membuat orang kejang dan tidak sadarkan diri," tutur dr. Sepriani.

Solusi mengatasi cuaca panas

Meski gangguan kesehatan akibat cuaca panas bisa mengancam, ada sejumlah kiat untuk mengatasinya. Lakukan tips di bawah ini:

  • Minum banyak air untuk menghindari tubuh dari dehidrasi minimal 2–4 gelas. Minuman yang terbaik adalah air putih.
  • Kalau memungkinkan, carilah tempat berteduh.
  • Hindari menggunakan pakaian berlapis-lapis.
  • Pakai topi atau penutup kepala jika memungkinkan
  • Bergegas untuk mandi dengan air bersuhu ruangan atau air dingin setelah selesai beraktivitas.

Beberapa gangguan kesehatan dapat menimpa jemaah haji di Tanah Suci akibat cuaca panas di sana. Para jemaah bisa melakukan tindakan preventif yang disarankan. Dengan demikian diharapkan para jemaah haji bisa terhindar dari gangguan kesahatan yang muncul karena cuaca panas di Tanah Suci.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar