Sukses

4 Penyebab Diare di Musim Kemarau

Diare tak mengenal musim. Baik musim hujan maupun kemarau, risiko terkena diare sama tingginya. Lantas, apa penyebab diare di musim kemarau?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu penyakit yang paling mudah dijumpai adalah diare. Seseorang dapat dikatakan terkena diare apabila dia mengalami peningkatkan jumlah buang air besar (lebih dari 3 kali) dan penurunan konsistensi tinja (dari lunak menjadi cair) dalam kurun waktu 24 jam. Sering kali, keluhan ini disertai dengan keluhan perut melilit atau sakit. 

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, risiko untuk mengalami diare di musim kemarau seperti ini bisa meningkat berlipat ganda. Terjadinya peningkatan diare pada musim kemarau berhubungan dengan tingkat higienitas yang rendah.

“Ini karena debu yang mengandung kuman dan bakteri beterbangan pada musim kemarau. Debu tersebut bisa saja hinggap di makanan atau minuman yang hendak dikonsumsi. Parahnya lagi, peningkatan suhu di musim ini turut mempercepat penularan kuman penyakit,” jelas dr. Dyah Novita. 

Agar tidak terkena diare di musim kemarau, tentu saja Anda harus mengetahui apa saja penyebab diare agar bisa menghindari hal tersebut. Adapun penyebab yang dimaksud, meliputi:

  • Terinfeksi rotavirus

Rotavirus adalah jenis kuman yang paling sering menyebabkan diare. Virus ini dapat menimbulkan diare dengan air yang sangat banyak, muntah, nyeri perut, serta demam tinggi yang terjadi selama 3-8 hari.

Meski begitu, rotavirus ini lebih sering menyerang bayi dan balita. Infeksi rotavirus pada bayi dan balita sangat berbahaya karena dapat menyebabkan dehidrasi berat akibat diare dan muntah hebat.

Yang lebih menyulitkan, bayi dan balita enggan mengonsumsi cairan ketika sakit sehingga proses penyembuhannya bakal lebih lama. Oralit harus diberikan tiap kali pasien mengalami diare atau muntah. Jika tak sanggup mengonsumsi cairan melalui mulut, pasien harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan cairan melalui infus. 

  • Jajan sembarangan

Cuaca yang cerah tentu bikin mood Anda senang. Nah, ketika senang, Anda cenderung lebih aktif untuk jajan dan mencoba berbagai kuliner baru, tak peduli itu higienis atau tidak.

Padahal, meski terlihat menarik dan enak, makanan tersebut belum tentu sehat dan terjamin kebersihannya. Karena itu, kurangi frekuensi Anda jajan di luar, terutama makanan yang suhunya tidak panas lagi, dimasak lama, dan tidak memiliki penutup.

Jika Anda ingin membeli makanan di pinggir jalan, pastikan bahwa makanan tersebut dibuat dengan peralatan dan bahan yang bersih, tidak banyak lalat, dan tidak dekat tempat sampah terbuka.

  • Tidak mencuci tangan karena merasa bersih 

Kondisi yang kering pada musim kemarau bikin Anda terlalu optimistis terhadap kebersihan fasilitas umum. Beberapa waktu lalu, ketika masih musim hujan, Anda mungkin akan lebih sering mencuci tangan karena memegang fasilitas umum yang basah.

Ketika masuk musim kemarau, tentu hal-hal kotor itu menjadi tak kasat mata karena kering-kering saja. Padahal, yang kering belum tentu tak memiliki kuman penyakit.

Oleh sebab itu, pastikan Anda selalu mencuci tangan sesudah beraktivitas dan sebelum makan agar tidak ada kuman yang masuk ke dalam tubuh akibat Anda memasukkan makanan dengan tangan yang kotor. 

  • Sindrom iritasi usus

Sebenarnya, penyebab yang satu ini tidak berkaitan langsung dengan musim apa pun. Hanya saja, sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome ini juga bisa dipicu oleh stres psikologis yang mungkin saja semakin parah akibat suhu panas di musim kemarau.

Sindrom iritasi usus adalah gangguan fungsional usus saat seseorang merasakan kram perut dan perubahan pola pergerakan usus. Orang yang mengalami sindrom ini akan mengalami diare atau justru sembelit. 

Pada dasarnya, diare bisa dialami kapan saja, termasuk di musim kemarau. Namun, bila Anda selalu menjaga kebersihan diri dan memilih makanan yang tepat, risiko untuk mengalami diare akan semakin kecil. Yang jelas, apa pun penyebabnya, kondisi diare harus segera ditangani. Jika diabaikan, penderitanya akan mengalami dehidrasi dan dapat berakibat fatal. 

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar