Sukses

Balita Suka Makanan Pedas, Amankah bagi Pencernaannya?

Orang dewasa menyukai makanan pedas itu biasa. Tapi bagaimana jika balita suka makanan pedas? Apakah aman untuk pencernaannya?

Klikdokter.com, Jakarta Anak di bawah usia lima tahun, atau biasa disebut balita, biasanya sudah bisa mengonsumsi makanan yang bervariasi. Tapi cukup unik jika ternyata balita suka makanan pedas. Terkadang hal tersebut memunculkan rasa dilema pada orang tua.

Di satu sisi, sang ibu ingin anak tetap memperoleh nutrisi yang cukup dengan menjaga nafsu makan tetap baik. Namun di sisi lain, ibu juga khawatir jika terlalu sering memberikan makanan pedas pada sang anak – khususnya balita – akan mengakibatkan masalah pencernaan di masa depan.

Dampak pemberian makanan pedas bagi pencernaan balita

Berdasarkan berbagai diskusi yang disampaikan para spesialis anak dan ahli gizi, ada beberapa fakta mengenai dampak pemberian makanan pedas bagi pencernaan balita. Berikut beberapa di antaranya.

  • ASI dari ibu pencinta makanan pedas tingkatkan toleransi pedas anak

Pada ibu menyusui yang menyukai makanan pedas dan tetap konsumsi makanan pedas, dipercaya akan memberikan ASI yang dapat memperkuat pencernaan anak pada pertumbuhan dan perkembangannya. Anak yang memperoleh ASI tersebut akan memiliki toleransi terhadap makanan pedas sehingga tidak akan membahayakan sistem pencernaan sang anak.

  • Bedakan aroma pedas dengan rasa pedas

Pedas dapat berasal dari aroma dan rasa yang pedas. Kedua hal ini merupakan hal yang berbeda dan berasal dari sumber yang berbeda. Aroma pedas berasal dari rempah seperti kayu manis, pala, bawang putih, kunyit, jahe, ketumbar, adas dan jinten.

Aroma yang berasal dari rempah tersebut dapat mulai dikenalkan pada anak, bahkan bayi setelah mencapai usia 6 bulan. Banyak paradigma yang beredar di masyarakat bahwa makanan untuk bayi haruslah hambar. Namun hal ini tidaklah benar.

Anda dapat mengenalkan aroma rempah tersebut pada anak, tapi sebaiknya diberikan jarak. Setiap pengenalan satu jenis rempah dilakukan selama empat hingga lima hari untuk melihat apakah menimbulkan reaksi tertentu pada anak.

Berbeda halnya dengan rasa pedas. Rasa pedas merupakan hasil dari stimulasi nyeri, yang dampaknya akan lebih besar dirasakan pada bayi. Pada lidah dan saluran pencernaan terdapat reseptor nyeri, yaitu transient receptor potential vanilloid-1 (TRPV-1).

Kandungan capsaicin yang menimbulkan rasa pedas berikatan dengan reseptor tersebut sehingga dapat menimbulkan rasa terbakar pada lidah dan saluran pencernaan.

Di beberapa daerah, pengenalan makanan pedas dilakukan pada usia yang cukup dini dan diberikan cukup sering, yaitu sekitar 2-3 kali dalam seminggu. Dengan ini, anak memiliki toleransi terhadap rasa pedas, meski pada derajat kepedasan berbeda pada setiap anak.

  • Makanan pedas memberikan efek antioksidan

Makanan pedas ternyata juga memberikan efek antioksidan bagi anak. Hal ini dapat membantu menjaga metabolisme tubuh anak, termasuk saluran pencernaan. Akan tetapi, Anda tetap harus memantau apakah terdapat reaksi intoleransi yang timbul pada anak setelah makanan pedas.

Pemberian makan pedas pada balita tetap harus dipertimbangkan berdasarkan reaksi pada masing-masing anak. Sebaiknya, pengenalan makanan pedas baru dimulai ketika anak menginjak usia di atas satu tahun.

Pada usia tersebut, indra perasa anak sudah cukup stabil sehingga tidak menimbulkan stimulasi berlebihan pada rasa pedas. Anda pun dapat menghindarkan trauma pada anak hingga berujung pada menolak untuk makan.

Selama tidak mengalami reaksi yang merugikan bagi pencernaan, balita boleh-boleh saja mengonsumsi makanan pedas. Tentunya Anda tetap harus memperhatikan derajat kepedasan. Berikan makanan yang dapat ditoleransi anak. Jangan lupa juga untuk mengimbangi dengan asupan lainnya, seperti sayur, buah, susu, dan cairan. Pengenalan aneka rasa sejak dini akan sangat baik bagi balita.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar