Sukses

Studi: Vaksin MMR Tidak Menyebabkan Autisme

Rumor vaksin MMR menyebabkan autisme dapat menyebabkan orang tua enggan memvaksin anaknya. Studi membuktikan bahwa rumor ini tidak benar.

Klikdokter.com, Jakarta Beredar sebuah kabar bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan anak mengalami autisme. Hal ini yang kemudian bisa membuat orang tua semakin takut membawa anaknya untuk mendapatkan vaksin. Namun, isu ini ditentang oleh hasil studi penelitian.

Munculnya kekhawatiran akibat vaksin MMR

Vaksin MMR adalah vaksin yang diberikan untuk melindungi diri dari tiga pernyakit menular, yakni measles (dikenal juga dengan rubella atau campak), mumps (dikenal juga dengan parotitis atau gondongan) dan rubella (atau campak Jerman).

Ketiga penyakit tersebut sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti meningitis (peradangan pada selaput otak), esefalitis (radang otak) dan tuli. Apabila kondisi ini terjadi pada wanita hamil, dampak yang mungkin terjadi adalah komplikasi pada janin, bahkan keguguran.

Walaupun penting, sayangnya beberapa orang ragu untuk memvaksin anaknya dengan vaksin MMR. Salah satu kekhawatiran mereka adalah timbulnya autisme akibat vaksinasi.

Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) sendiri adalah suatu kondisi yang terdiri dari banyak gejala, termasuk adanya keterbatasan pada kemampuan sosial, komunikasi baik verbal maupun nonverbal, serta kebiasaan mengulang-ulang perbuatan.

Kekhawatiran tersebut mungkin saja didasarkan dari studi yang dilakukan oleh Dr. Andrew Wakefield pada tahun 1998. Pada studi tersebut diklaim ada hubungan antara vaksin MMR dan kemunculan autisme.

Penelitian dianggap tidak valid

Beberapa tahun kemudian, diketahui bahwa Dr. Andrew Wakefield menggambarkan informasi pada studinya dengan kurang tepat, sehingga mencapai kesimpulan tersebut. Akibatnya, studi ini pun ditarik oleh jurnal yang mempublikasikannya. Bahkan, pada tahun 2010 Dr. Andrew Wakefield kehilangan izin prakteknya.

Studi terbaru, yang dilakukan di Denmark juga menemukan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme. Kesimpulan ini didapat setelah mendapat data dari kurang lebih 650.000 anak.

Yang menarik, studi ini menyimpulkan bahwa vaksin MMR tidak menyebabkan autisme bahkan pada anak-anak dengan berbagai faktor risiko, seperti usia orang tua, adanya saudara dengan autisme, kelahiran prematur serta berat badan rendah saat lahir.

Faktanya vaksin MMR sangat efektif untuk melindungi terhadap penyakit measles, mumps serta rubella. Selain itu, vaksin MMR juga berperan mencegah komplikasi akibat ketiga penyakit tersebut.

Efektivitas vaksin ini mencapai 97 persen untuk melindungi terhadap measles, 88 persen terhadap mumps, serta 97 persen terhadap rubella.

Ibu tetap perlu waspada

Walaupun tidak menyebabkan autisme, vaksin MMR dapat menyebabkan efek samping. Umumnya, efek samping yang timbul ringan serta tidak menimbulkan masalah kesehatan serius.

Setidaknya, perlu diingat bahwa efek samping akibat vaksin MMR lebih ringan apabila dibandingkan dengan efek kesehatan yang mungkin timbul jika terkena penyakit measles, mumps atau rubella.

Efek samping yang dapat timbul misalnya nyeri pada lokasi suntikan dan munculnya ruam atau memar di lokasi suntikan beberapa minggu setelah vaksin. Selain itu, dapat juga muncul gejala campak atau gondongan yang ringan.

Walaupun gejala penyakit tersebut muncul, namun biasanya tidak menular. Selain itu, gejala umumnya sembuh dalam 2-3 hari.

Jadi, studi yang menyebutkan bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme ternyata didasarkan pada informasi yang salah. Adanya studi terbaru turut membuktikan hal tersebut. Kini para orang tua bisa lebih tenang jika ingin membawa anaknya melakukan vaksin MMR. Di sisi lain, melakukan vaksin MMR sangat bermanfaat bagi kesehatan anak. Jadi, jangan sampai anak tidak mendapatkan vaksin MMR, ya!

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar