Sukses

Bolehkah Makan Roti Saat Kena Asam Urat?

Banyak yang bilang bahwa penderita asam urat dilarang makan roti lantaran kandungan purin di dalamnya. Bagaimana medis menanggapi hal itu?

Klikdokter.com, Jakarta Merasakan nyeri sendi akibat kadar asam urat yang tinggi merupakan hal yang menjengkelkan. Pasalnya, nyeri dan bengkak akibat asam urat bisa menghambat aktivitas. Bahkan, bila tidak ditangani dengan benar, asam urat bisa menyeret penderitanya untuk mengalami penyakit ginjal. Sungguh bahaya, bukan?

Oleh karena itu, penderita asam urat wajib waspada terhadap segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa makanan yang wajib dihindari, termasuk jeroan dan melinjo lantaran mengandung kadar purin yang tinggi. Selain itu, dilansir dari Livestrong.com, penderita asam urat ternyata juga mesti menghindari roti, karena ragi yang menjadi bahan dasar makanan tersebut bisa memicu lonjakan asam urat di dalam tubuh.

Mengetahui hal itu, dr. Atika Prisilia dari KlikDokter memberikan tanggapan. Ia berkata bahwa ragi memang mengandung purin. Namun, pada dasarnya, efek yang ditimbulkan dari purin dalam ragi itu sangat bergantung dari faktor risiko seseorang yang memakannya. Di samping itu, dr. Atika juga mengatakan bahwa kandungan purin dalam ragi roti tidak setinggi jeroan, melinjo, atau daging merah. Oleh karena itu, efeknya sangat bergantung dari kondisi fisik orang yang mengonsumsinya.

“Ya, ragi memang mengandung purin. Tapi apakah dia langsung memicu naiknya asam urat secara signifikan, tergantung dari faktor risiko orang tersebut. Kalau sedari awal orang itu asam urat di dalam tubuhnya normal, maka makan roti bukan menjadi pantangan. Akan tetapi, bila yang mengonsumsi adalah orang yang dari awal kadar asam uratnya sudah sangat tinggi atau tidak normal, sebaiknya memang dibatasi,” tegas dr. Atika.

Lebih lanjut, dr. Atika mengatakan bahwa hampir setiap makanan mengandung purin di dalamnya. Sehingga, sulit rasanya bila Anda langsung menyingkirkan sama sekali makanan-makanan tersebut. Hal terpenting yang perlu dipraktikkan, Anda mesti bijaksana dalam mengonsumsi makanan yang mengandung purin tersebut.

Misalnya, di dalam sup yang Anda konsumsi sudah terkandung ekstrak daging atau kuah kaldu, potongan daging, dan sayuran hijau dengan purin tinggi seperti bayam. Maka, hindari mengambil porsi terlalu banyak dan hindari pula mengambil lauk lain yang juga mengandung purin tinggi, seperti bebek, jeroan, seafood, kangkung, atau daun singkong. Akan lebih baik bila Anda mengimbangi menu tinggi purin tersebut dengan karbohidrat yang bersifat kompleks, seperti nasi merah atau jagung, dan banyak minum air putih supaya purin bisa disaring sempurna untuk dikeluarkan dari tubuh.

Dengan kata lain, fokuslah pada batasan porsi, bukan dihindari sama sekali. Sebab, seperti yang sudah dijelaskan di atas, sulit untuk menghindari konsumsi sumber makanan yang mengandung purin, karena hampir semua makanan memang mengandung zat tersebut. Bahkan, hati sapi, meski termasuk dalam kategori tinggi purin, tetap dibutuhkan khususnya oleh orang-orang yang mengalami anemia.

Tak cuma itu, sejumlah ikan yang dinilai mengandung purin tinggi seperti salmon, sarden, dan tuna nyatanya memiliki kandungan omega-3 yang sangat baik untuk menunjang kesehatan jantung. Sehingga, tidak bijak rasanya bila Anda menolak kebaikan omega-3 hanya karena takut kadar asam urat melonjak.

“Makanan yang mengandung banyak gizi tetap boleh dikonsumsi secukupnya, meskipun makanan tersebut mengandung purin yang agak tinggi,” tutur dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter.

Kesimpulannya, roti tetap boleh dikonsumsi, sekalipun Anda adalah penderita penyakit asam urat. Namun, supaya tidak berakhir pada kondisi merugikan, Anda diwajibkan untuk membatasi porsinya agar tidak berlebihan. Selain itu, usai makan roti, sebaiknya hindari konsumsi makanan lain yang juga mengandung purin tinggi seperti daging merah, kacang-kacangan, jeroan, dan beberapa jenis sayuran hijau. Terakhir, supaya kadar asam urat tidak langsung melonjak, pilihlah roti gandum tawar yang tidak dikombinasikan dengan daging cincang, abon, selai, atau lainnya.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar