Sukses

Anak Picky Eater Rentan Alami Gangguan Mental

Menurut penelitian, anak picky eater lebih mudah untuk mengalami gangguan mental dibandingkan anak dengan pola makan normal.

Klikdokter.com, Jakarta Picky eater merupakan salah satu masalah makan yang bisa mengganggu tumbuh kembang anak. Anak picky eater biasanya hanya ingin makanan tertentu yang ia inginkan saja. Selain berisiko mengalami kekurangan berbagai zat gizi, tahukah Anda bahwa anak dengan picky eater juga rentan terkena gangguan mental?

Banyakkah kasus anak mengalami masalah picky eater?

Anak dapat dikatakan picky eater jika ia memiliki pilihan terbatas pada makanan yang mau ia makan. Jika pilihan makanan yang mau ia makan sangat terbatas, maka anak termasuk dalam picky eater tipe berat.

Anak tidak boleh dilabeli picky eater jika hanya tidak mau memakan beberapa jenis makanan yang lazim tidak disukai anak-anak. Seperti brokoli atau jenis sayur lainnya karena ini masih wajar.

Belum banyak data di Indonesia yang meneliti masalah ini. Di luar negeri, peneliti dari Universitas Duke, North Carolina, yang meneliti 1.100 anak usia 2-5 tahun menemukan bahwa 18 persen di antara anak-anak tersebut mengalami picky eater tipe sedang dan 3% mengalami picky eater tipe berat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa sekitar 14-20% anak mengalami picky eater.

Anak picky eater mengalami gangguan mental?

Di luar masalah nutrisi, anak dengan picky eater memiliki masalah kesehatan yang lebih besar yaitu potensi untuk memiliki gangguan mental. Namun, perlu ditekankan bahwa tidak semua anak dengan picky eater akan memiliki gangguan mental. Hanya saja, kemungkinan untuk mengalami gangguan mental lebih besar pada anak dengan picky eater dibandingkan anak dengan pola makan normal.  

Sebuah penelitian menemukan bahwa anak yang memiliki kebiasaan picky eater akan lebih mudah mengalami gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan kelainan psikiatri lainnya.

Penelitian tersebut menemukan bahwa anak dengan picky eater berat memiliki risiko risiko 2 kali lipat untuk mengalami depresi dibandingkan anak dengan pola makan yang normal.

Anak dengan picky eater berat juga berisiko mengalami kecemasan 2.7 kali lebih tinggi. Anak dengan picky eater sedang juga lebih sering mengalami gejala depresi dan kecemasan, walaupun lebih jarang dibandingkan anak dengan picky eater berat. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa anak dengan picky eater tipe sedang memiliki risiko mengalami gangguan kelainan hiperaktif (ADHD).

Apakah akan terus berlanjut hingga dewasa?

Para peneliti kemudian melakukan follow-up terhadap anak-anak picky eater tersebut, dan ditemukan bahwa setelah dewasa, mereka juga memiliki risiko masalah kesehatan mental. Ya, mereka diketahui memiliki gangguan kecemasan yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa yang tidak memiliki masalah picky eater semasa kecil.

Itulah mengapa orang tua harus sedini mungkin mengatasi masalah anak picky eater ini. Agar nantinya mereka tidak mengalami kekurangan gizi serta gangguan mental. Dengan penanganan yang tepat, kebiasaan picky eater dapat dihilangkan sehingga anak bisa memiliki pola makan yang sehat.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar