Sukses

Kurang Tidur Bisa Tingkatkan Sensitivitas terhadap Nyeri

Kualitas dan durasi tidur yang kurang baik bisa memengaruhi kesehatan tubuh. Apakah juga berkaitan dengan sensitivitas terhadap nyeri?

Klikdokter.com, Jakarta Tidur adalah salah satu elemen penting bagi seseorang untuk dapat menjalani aktivitas hariannya dengan optimal. Tak hanya baik untuk kesehatan fisik, memastikan kecukupan tidur juga penting untuk kesehatan jiwa. Kurang tidur diketahui bisa menurunkan konsentrasi, fokus, serta perubahan suasana hati, dan banyak lagi. Apakah dampak kurang tidur juga berhubungan dengan sensitivitas terhadap nyeri?

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis “Journal of Neuroscience”, kurangnya waktu tidur dapat meningkatkan sensitivitas seseorang terhadap rasa nyeri. Cara kerjanya adalah dengan menghambat respons antinyeri di otak. Kurang tidur bisa menghambat mekanisme alami otak untuk meredakan nyeri, yang dapat membantu menjelaskan adanya potensi kaitan antara kurang tidur dan nyeri kronis.

Sebelum penelitian ini, sebuah survei yang dilakukan oleh National Sleep Foundation tahun 2015 menemukan hal serupa, bahwa dua dari tiga pasien nyeri kronis menderita gangguan tidur berulang.

Kaitan antara kurang tidur dan rasa nyeri

Penelitian tersebut dipimpin oleh Matthew Walker, seorang profesor ilmu saraf dan psikologi Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, dan Adam Krause, kandidat program pendidikan doktoral. Tim peneliti melakukan aplikasi suhu panas pada kaki subjek dan melakukan evaluasi pencitraan pada otak subjek untuk mengamati jalur-jalur yang memproses rasa nyeri.

Mereka juga merekam ambang batas nyeri dari setiap subjek setelah mereka mendapatkan tidur yang cukup dengan menggunakan alat magnetic resonance imaging (MRI). Tak hanya itu, juga dilakukan aplikasi suhu panas dengan derajat yang lebih tinggi di kulit mereka.

Setelah menentukan ambang batas nyeri, prosedur tersebut diulang keesokan harinya, setelah para subjek tidak mendapatkan tidur sama sekali malam sebelumnya. Hasilnya, para subjek secara umum didapati lebih sensitif terhadap rasa nyeri saat mereka tidak mendapatkan tidur yang cukup malam sebelumnya.

Menurut Adam, aplikasi suhu panas yang dilakukan sebenarnya sama pada kedua waktu tersebut. Namun, perbedaannya terletak pada bagaimana otak menilai rasa nyeri tanpa tidur yang memadai. Para peneliti menemukan bahwa korteks somatosensorik, salah satu bagian otak yang terkait dengan sensitivitas terhadap rasa nyeri, menjadi lebih aktif saat seseorang tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kurang tidur dapat memengaruhi jalur-jalur persarafan yang memproses rasa nyeri.

Selain itu, Profesor Matthew juga menambahkan bahwa kehilangan jam tidur tidak hanya menyebabkan amplifikasi pada area-area yang sensitif terhadap rasa nyeri di otak, tapi juga menghambat pusat antinyeri alami.

Salah satu temuan yang juga cukup menarik bagi para peneliti adalah mengenai area nukleus akumbens di otak, yang aktivitasnya cenderung menurun pada saat seseorang tidak tidur sama sekali pada malam sebelumnya. Perlu diketahui, nukleus akumbens berperan dalam pelepasan zat kimiawi dopamin di otak, yang tugasnya adalah meningkatkan rasa bahagia dan menghilangkan rasa nyeri.

Tips agar tidur Anda lebih berkualitas

Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan demi memastikan kualitas tidur. Beberapa di antaranya adalah:

  • Atur jadwal tidur dan bangun secara teratur
  • Hindari kafein selepas jam 2 siang
  • Rutin berolahraga setiap 20 menit tiap harinya
  • Makan dengan menu dan waktu yang tepat
  • Relaksasi
  • Jaga suhu ruangan tetap sejuk
  • Meredupkan atau menggelapkan kamar tidur

Mengacu dari hasil penelitian, ditemukan bahwa tidur merupakan salah satu antinyeri alami yang bisa membantu mengatasi dan menurunkan rasa nyeri. Oleh karena itu, upayakan untuk tidur secara cukup setiap malamnya, yaitu 7-9 jam, agar Anda selalu segar dan fokus dalam menjalani aktivitas harian tanpa adanya gangguan yang berarti.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar