Sukses

Mengintip Bahaya pada Jajanan Tradisional

Bika ambon, lapis legit, atau klepon, siapa yang bisa menolaknya. Tapi awas, jajanan tradisional ternyata juga bisa membahayakan tubuh Anda.

Klikdokter.com, Jakarta Indonesia merupakan negeri yang kaya akan budaya, termasuk dari sisi kulinernya. Hampir tiap daerah memiliki jajanan tradisional yang khas. Apalagi bagi para perantau, menyantap kue tradisional ini bisa menjadi pelipur rasa rindu akan kota kelahiran.

Namun sayangnya, bila tak dikonsumsi dengan bijak, berbagai jajanan lezat tersebut bisa menjadi sumber penyakit. Sebab, kandungan di dalamnya kerap memicu berbagai penyakit, mulai dari obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung.

Kandungan zat gizi pada jajanan tradisional

Melahap jajanan tradisional biasanya tidak cukup satu potong. Padahal, di balik lezatnya tiap jajanan khas tersebut, ada banyak gula yang Anda konsumsi. Tidak heran bila sehabis mudik biasanya Anda mengeluh peningkatan kadar gula darah dan kolesterol.

Misalnya saja dalam sepotong kecil bika ambon ukuran 30 gram dapat mengandung 76.8 kkalori, 11.7 gram karbohidrat, dan 2.4 gram lemak. Dibandingkan dengan apel sebesar 30 gram, sekitar 1/3 apel hanya mengandung 17.7 kkalori.

Selain itu, konsumsi apel biasanya dapat membuat kenyang lebih lama dibanding makan bika ambon, karena mengandung serat lebih banyak. Bagaimana dengan kue lainnya? Umumnya sama saja. Karena menggunakan tepung dan gula sebagai bahan utama, maka kandungan karbohidrat sederhananya juga tinggi.

Contoh lainnya adalah sepotong bakpia berukuran 30 gram mengandung 68.1 kkalori dan 90 persen kandungannya bersumber dari karbohidrat. Terakhir, saat Anda makan pisang goreng berukuran 30 gram, sama saja Anda mengonsumsi 47.4 kkalori, dimana 43 persennya terdiri atas karbohidrat dan 55 persennya merupakan lemak.

1 dari 2 halaman

Bahaya kalap melahap jajanan tradisional

Bukan rahasia lagi bila makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana berbahaya bagi kesehatan. Sebab, karbohidrat sederhana cepat meningkatkan kadar gula darah, sehingga lonjakan-lonjakan gula darah akan terjadi pada mereka yang suka mengonsumsi makanan manis.

Berbeda dengan karbohidrat kompleks, yakni makanan tinggi serat tidak larut seperti apel, sereal dan sayuran akan membutuhkan waktu untuk dicerna, sehingga tidak menimbulkan lonjakan kadar gula. Peningkatan kadar gula akan terjadi secara perlahan.

Selain itu, konsumsi gula yang berlebih lama-lama dapat menyebabkan resistensi insulin. Akibat terlalu banyak asupan gula, insulin sebagai zat yang berfungsi mengatur kadar gula dalam darah menjadi tidak peka dan terganggu fungsinya.

Hasil akhirnya, kadar gula dalam darah bisa terus meningkat. Gula juga dapat memicu suatu reaksi yang dinamakan Advance Glycemic End Products (AGEs). Reaksi ini dapat memicu penyakit diabetes dan jantung koroner.

Tak hanya kedua kandungan di atas yang perlu diwaspadai. Kandungan lemak pada jajanan tradisional biasanya merupakan lemak jahat yang dapat meningkatkan kadar trigliserida, kolesterol dan low-density lipoprotein (LDL) di dalam darah. Kondisi ini akan berisiko menyebabkan penyumbatan pembuluh darah.

Karena berbagai kandungan yang dapat membahayakan tubuh tersebut, ada baiknya Anda mengontrol diri saat akan mengonsumsi jajanan tradisional. Bila ingin mencoba banyak jenis jajanan, lebih baik jangan dilahap dalam satu waktu. Makanlah secukupnya dan aturlah waktu kembali untuk mencicipi jajanan lainnya.

Menahan godaan jajanan tradisional memang tak mudah, apalagi bagi Anda yang tengah merantau atau justru sedang traveling sambil berwisata kuliner. Namun ingat, yang terpenting adalah kesehatan Anda.

Makan jajanan tradisional boleh saja, tapi tetap perhatikan porsi dan jumlah jajanan yang Anda makan. Imbangi juga dengan menjalani gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan sehat, menghindari konsumsi rokok serta alkohol, dan berolahraga secara rutin.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar