Sukses

Penyakit Infeksi yang Sering Terjadi Setelah Tsunami

Usai bencana tsunami, sering terjadi penyakit infeksi. Waspadalah, dan segera periksa ke pos kesehatan terdekat jika mengalami gejalanya.

Klikdokter.com, Jakarta Musibah tsunami di Selat Sunda yang terjadi akhir pekan lalu (22/12), menyisakan duka mendalam bagi korban, keluarga korban, dan masyarakat Indonesia. Dilansir dari Liputan6.com, hingga Selasa (25/12) pukul 13.00 WIB, korban jiwa akibat tsunami di Selat Sunda mencapai 492 orang dan 1.485 orang terluka. Sejumlah bantuan pun segera diberikan, termasuk bantuan kesehatan bagi korban luka. Jika tidak cepat diberikan, dikhawatirkan penyakit infeksi juga dapat memperparah kondisi para korban yang terdampak bencana tersebut.

Beberapa kondisi di bawah ini merupakan sejumlah penyakit infeksi yang bisa menyerang para korban tsunami, termasuk korban luka. Oleh karena itu, pertolongan terhadap para korban harus menjadi prioritas setiap saat.  

1. Kolera

Kolera merupakan penyakit infeksi pada usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini biasanya masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.

Gejala kolera tidak langsung dirasakan, tetapi dimulai dalam jangka waktu 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri. Gejalanya bervariasi, mulai dari diare ringan sampai diare berat yang bisa berakibat fatal.

Dalam beberapa kasus, orang yang terinfeksi justru tidak menunjukkan gejala apa pun. Usai tsunami, para korban yang mengungsi sering kali mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan dan air bersih sehingga sangat rawan mengalami kolera.

2. Demam berdarah dengue (DBD)

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dapat berkembang biak di genangan-genangan air, seperti yang banyak terdapat di lokasi musibah tsunami.

Gejala utama dari penyakit DBD adalah demam khas  yaitu demam mendadak tinggi bisa mencapai 40⁰ dan terjadi di malam hari, yang disertai gejala lain. Beberapa gejala yang bisa menyertainya antara lain nyeri kepala, nyeri belakang bola mata, nyeri otot, dan nyeri sendi, wajah kemerahan atau ruam di kulit, bintik merah pada kaki dan tangan, mual dan muntah serta nyeri perut.

Pada anak, DBD harus dianggap serius karena anak lebih mudah mengalami kondisi syok dan bisa berakibat fatal. Anak-anak korban tsunami harus mendapatkan perhatian yang saksama agar tidak terkena penyakit ini.

3. Demam typhoid

Demam tifoid atau typhoid merupakan penyakit yang terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Kebersihan lingkungan dan sanitasi yang kurang memadai usai peristiwa tsunami dapat meningkatkan risiko korban pengungsi mengalami demam typhoid.

Gejala demam typhoid pada umumnya adalah demam, rasa lemah, nyeri kepala, nyeri sendi dan otot, gangguan BAB (diare atau sulit BAB), perut terasa kembung, serta mual dan muntah. Bila tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini juga dapat menimbulkan komplikasi, baik pada saluran pencernaan, hati, jantung, atau sistem persarafan.

4. Infeksi saluran kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih (ISK) menyebabkan keluhan sering BAK (buang air kecil), nyeri, sedikit-sedikit, rasa tidak lampias (terasa ada sisa setelah kencing), bisa disertai dengan perubahan warna kencing menjadi keruh atau kemerahan.

Infeksi saluran kencing dapat pula disertai dengan penyakit batu saluran kencing. Usai bencana tsunami, banyak korban mengalami ISK karena kesulitan mendapatkan air minum atau sanitasi yang buruk.

5. Infeksi saluran napas

Penyakit infeksi saluran napas rentan dialami oleh para korban tsunami terutama karena para pengungsi berada di tempat atau ruangan yang dipadati banyak orang dan akses untuk tempat tinggal, selimut, dan pakaian yang layak juga minim. Infeksi saluran pernapasan bisa terjadi mulai dari hidung, tenggorokan, hingga paru.

Penyebab paling sering adalah infeksi Rotavirus, virus Influensa, bakteri Streptococcus pneumoniae, dan bakteri Staphylococcus aureus. Gejala yang dialami antara lain  demam, batuk, sesak napas, berat badan turun, dan myalgia atau nyeri otot. 

Penyakit-penyakit infeksi di atas rentan dan sering terjadi setelah tsunami. Untuk itu, evakuasi segera para korban tsunami Selat Sunda sangat penting agar terhindar dari berbagai penyakit dan komplikasi yang fatal.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar