Sukses

Makan Daging Ular, Apa Risikonya bagi Kesehatan?

Sejumlah orang percaya makan daging ular memberikan khasiat bagi kesehatan. Tapi sebaiknya Anda hati-hati dengan risiko di baliknya.

Klikdokter.com, Jakarta Tak sedikit orang yang takut saat melihat ular, namun banyak pula yang suka dan memelihara reptil satu ini. Bahkan ada pula yang tak sungkan untuk memakan daging ular atas alasan kesehatan. Hal ini disebabkan karena mereka percaya bahwa daging ular dapat meningkatkan vitalitas tubuh hingga menyembuhkan alergi berat.

Menurut dr. Atika dari KlikDokter, Anda sebaiknya berpikir ulang jika ingin mengonsumsi daging ular. “Dari hasil penelusuran berbagai penelitian kedokteran, manfaat yang disebutkan di atas belum terbukti benar adanya,” katanya.

Hasil studi yang dipublikasikan di International Journal of Food Microbiology justru menunjukkan bahwa mengonsumsi daging reptil dapat mendatangkan sejumlah penyakit. Sebut saja trikinosis, pentastomiasis, gnathostomiasis, dan sparganosis.

“Risiko mikrobiologi yang paling jelas kemungkinan datang dari bakteri patogenik, seperti Salmonela, Shigella, E. coli, Yersinia enterolitica, Campylobacter, Clostridium, dan Staphylococcus aureus. Bakteri-bakteri ini dapat menyebabkan penyakit dengan derajat keparahan berbeda-beda,” ujar Simone Magnino, penulis utama studi, dikutip dari ScienceDaily.

Mari lihat satu per satu bagaimana dampak yang ditimbulkan dari bakteri-bakteri tersebut:

  1. Salmonela

Salmonela berkaitan dengan penyakit tifoid dan paratifoid, suatu infeksi berat saluran cerna. Gejala yang muncul berupa demam, diare, konstipasi, dan muntah. Bila gejala penyakit begitu berat, dapat menyebabkan gangguan hati hingga kematian.

  1. Coli

Bakteri ini berkaitan dengan diare, nyeri perut, mual dan muntah. Pada kasus infeksi yang berat dapat ditemukan gejala dehidrasi, buang air kecil berdarah, penurunan jumlah urine, serta kulit pucat atau memar.

  1. Clostridium

Bakteri Clostridium dapat memicu penyakit botulisme yang mampu menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Umumnya, botulisme terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut.

  1. Shigella, yersinia, dan campylobacter

Jenis bakteri Shigella dysentriae, Yersinia enterolitica, dan Campylobacter jejuni merupakan penyebab mencret cair disertai darah, nyeri perut, mual dan muntah.

  1. Staphylococcus aureus

Bakteri Staphylococcus aureus dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti infeksi kulit dan saluran pernapasan.

  1. Spirometra

Jenis cacing ini menyebabkan penyakit sparganosis. Di Cina, misalnya, kasus sparganosis menyerang orang-orang yang mengonsumsi daging ular dan katak mentah/tidak matang, serta meminum empedu dan darah ular.

Meski demikian, para ahli mengatakan bahwa data mengenai risiko mengonsumsi daging reptil terhadap kesehatan umum masih belum konklusif. Selain itu, studi mengenai penyakit dan hubungannya dengan mengonsumsi daging reptil masih sedikit sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Para ahli menyarankan orang untuk membekukan daging reptil sebelum dimakan, sama seperti daging lainnya, karena akan menonaktifkan parasit-parasit di dalamnya. Proses pengolahan pada industri daging dan cara memasak yang baik juga akan membunuh patogen-patogen.

Sebenarnya setiap daging berisiko memiliki kuman tertentu. Namun dikarenakan habitat dan makanan ular, hewan melata tersebut bisa menyimpan begitu banyak bakteri berbahaya.

“Mengingat risiko terhadap kesehatan yang tidak kecil, sementara manfaat kesehatannya juga masih belum terbukti, rekomendasi pemanfaatan daging ular untuk terapi medis sebenarnya tidak berdasar,” tutur dr. Atika.

Ketimbang makan daging ular yang manfaat kesehatannya belum terbukti, lebih baik mengonsumsi makanan lainnya yang sudah terbukti mendatangkan kebaikan untuk tubuh. Apabila Anda mengalami gangguan kesehatan tertentu, alangkah baiknya untuk mendiskusikannya dengan dokter daripada melakukan terapi medis yang belum terbukti manfaatnya bagi kesehatan.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar