Sukses

Awas, Kampanye Politik Negatif Bisa Pengaruhi Kesehatan Anda

Pergulatan kampanye di tahun politik sudah dimulai. Hati-hati menyikapi kampanye politik negatif, karena kesehatan Anda menjadi taruhannya.

Klikdokter.com, Jakarta Mendekati pengujung tahun 2018, berbagai kampanye politik, baik yang bersifat terang-terangan, maupun yang bersifat terselubung, semuanya tengah gencar dilakukan. Tetap jaga kesehatan tubuh Anda dengan tidak terlalu “tenggelam” di dalamnya, terutama bila menanggapi informasi negatif.

Pemberitaan di portal berita dan media sosial seputar kampanye politik kini sedang ramai-ramainya digulirkan. Tak heran, banyak masyarakat Indonesia yang sedang berusaha “melek” politik, di luar benar atau tidaknya pikiran dan pendapat mereka.

Berpendapat merupakan hak semua warga negara Indonesia. Tapi kurang bijaksana rasanya apabila Anda ikut menyebarkan dan menanggapi berita yang yang kebenarannya masih diragukan atau bersifat subjektif.

Lagipula, terlalu lama terjebak di dalam hal yang bersifat kebohongan, kampanye hitam, dan ujaran kebencian pada akhirnya hanya akan merugikan Anda, termasuk dalam hal kesehatan.

Dampak kampanye politik negative pada kesehatan

Dilansir dari Daily Health Alerts, kerap termakan isu kampanye politik yang belum jelas kebenarannya ternyata bisa memengaruhi otak Anda. Di awal mungkin Anda akan mengabaikannya. Tapi lama-kelamaan berita tersebut bisa menjadi pemicu emosi yang memengaruhi kesehatan otak.

Sebagai contoh, saat membuka portal berita, Anda bisa menemukan isu politik yang kurang menyenangkan. Sesampainya di rumah, ketika hendak menyetel kanal televisi, hiburan yang disajikan pun tak lepas dari aroma politik.

Bahkan, saat Anda membuka media sosial, baik itu Facebook, Twitter, maupun Instagram, tak sedikit pula teman-teman Anda yang ikut-ikutan membagikan momen politik yang kurang baik. Sehingga, tak ada lagi yang bisa Anda lakukan selain menghela napas dan kesal.

Perasaan negatif tersebut bahkan bisa memengaruhi otak saat Anda melanjutkan ke kegiatan lain, misalnya bekerja atau belajar. Sebab, hal yang terserap oleh otak kemudian menyebabkan jantung ikut berdegup kencang, tekanan darah meninggi, dan amarah mudah keluar.

Akibatnya, pekerjaan utama tak terselesaikan dengan baik karena Anda pun kesulitan untuk fokus. Kalaupun bisa selesai, hasilnya pun tak sebaik ketika Anda dalam pikiran yang relaks.

1 dari 2 halaman

Pilih memerangi atau menghindari?

Menurut Rick Hanson, Ph.D., seorang Neuropsikolog dan pendiri Wellspring Institute for Neuroscience and Contemplative Wisdom, sebenarnya hal tersebut termasuk respons alami yang wajar.

“Secara alami pikiran menjadi lebih berfokus pada hal yang buruk dan membuang yang baik-baik. Konsep ini disebut ‘fight or flight’. Artinya saat seseorang menghindari (flight) sebuah informasi, ia lebih punya banyak kesempatan untuk tidak terpapar. Sedangkan seseorang yang memilih memerangi (fight) dengan menyaksikannya, jika tidak kuat ia cenderung berubah atau terpengaruh oleh berita tersebut.” jelasnya.

Itulah mengapa Anda tidak boleh terlalu membenci sesuatu. Karena memenuhi isi pikiran dengan hal yang dibenci berisiko lebih besar mengubah diri Anda menjadi apa yang Anda benci.

Bagaimana bisa terjadi?

Saat Anda terpapar oleh kampanye politik negatif yang kerap kali menghiasi pemberitaan media di Tanah Air, hormon stres (kortisol) akan diproduksi secara berlebih dalam tubuh.

Dikutip dari Daily Health Alerts, hormon kortisol itu sendiri bertugas untuk mengatur metabolisme glukosa, tekanan darah, kekebalan tubuh, serta peradangan. Nah, apabila hormon kortisol terlalu banyak menumpuk di dalam tubuh, akan menyebabkan:

  • Penurunan sistem kekebalan tubuh.
  • Luka dan peradangan susah sembuh.
  • Ketidakseimbangan kadar gula darah.
  • Gangguan kinerja kognitif.
  • Meningkatnya lemak di dalam tubuh, sehingga risiko untuk terkena stroke dan serangan jantung akan semakin tinggi.
  • Meningkatkan kolesterol jahat dan menurunkan kolesterol baik.
  • Penurunan jaringan otot serta kepadaan tulang.

Oleh sebab itu, sedini mungkin hindari untuk membaca, menonton, bahkan ikut serta dalam kampanye politik yang bersifat negative dan subjektif. Hindari pula  mempercayai berita yang belum pasti kebenarannya atau hoaks, apalagi menyebarkannya.

Lagipula, tak ada salahnya Anda absen dulu dari dunia media sosial dan tayangan televisi yang menyesatkan pikiran. Sebab, masih ada opsi informasi dan hiburan lain yang bersifat positif dan justru bisa menyehatkan otak, pikiran, serta kesehatan Anda secara menyeluruh.

Tanpa Anda sadari, kampanye politik memang ternyata dapat berdampak pada kesehatan tubuh Anda. Jadi, pandai-pandailah dalam menyaring informasi, supaya kesehatan Anda juga tidak ikut terganggu. Pikiran sehat, tubuh pun sehat!

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar