Sukses

Menguak Mitos Keliru Seputar AIDS

HIV masih menjadi salah satu penyakit yang dilingkupi berbagai mitos menyesatkan. Ini dia fakta medis di balik mitos tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta HIV dan AIDS merupakan penyakit mematikan yang angka kejadiannya cukup tinggi. Meski demikian, tak sedikit orang yang masih belum paham betul mengenai penyakit HIV/AIDS sehingga kerap terjebak pada mitos menyesatkan. Apakah Anda salah satunya?

Nah, agar tidak keliru dan terjebak lagi, berikut adalah fakta medis di balik mitos keliru seputar HIV/AIDS yang wajib Anda ketahui:

  • HIV/AIDS adalah penyakit kutukan

Beberapa daerah di Indonesia menyebut bahwa HIV/AIDS adalah penyakit kutukan. Hal ini tentu tidak benar sama sekali. Sebab, HIV merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus human immunodeficiency virus (HIV). Virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan penderita mudah terkena penyakit lainnya.

Bila sudah memasuki tahap lanjut, infeksi HIV akan menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) dimana penderitanya akan mengalami penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan yang berat, dan terkena infeksi di berbagai bagian tubuh.

  • HIV/AIDS akan menular jika berada di dekat penderita

Dengan berada di samping penderita HIV/AIDS, Anda akan tertular. Itulah anggapan keliru yang sebaiknya tidak Anda percaya sama sekali.

Faktanya, hanya beberapa jenis cairan dari tubuh penderita HIV yang dapat menyebarkan virus tersebut. Cairan yang dimaksud meliputi darah, sperma, cairan vagina, dan ASI (Air Susu Ibu). Cairan itu pun harus menyentuh selaput mukosa dan kulit yang terdapat luka, atau masuk ke peredaran darah melalui jarum suntik yang tidak steril.

Berenang, memakai toilet yang sama, mengobrol, bersalaman dengan penderita HIV juga tidak akan membuat Anda tertular penyakit mematikan tersebut.

  • HIV/AIDS dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk

Karena penularannya melalui darah, banyak orang pun menjadi khawatir akan tertular HIV melalui gigitan nyamuk. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa hal tersebut sama sekali tidak benar.

Saat nyamuk atau serangga menggigit, mereka tidak akan memasukkan darah yang diisapnya dari orang sebelumnya ke dalam tubuh Anda. Selain itu, virus HIV juga tidak dapat bertahan lama di dalam tubuh nyamuk.

  • Seks oral tidak akan menularkan HIV/AIDS

Dibanding aktivitas seksual yang lain, seks oral memang lebih rendah risikonya untuk penularan penyakit seperti HIV. Namun, bukan berarti gaya seks tersebut sama sekali tanpa risiko. Nyatanya, melakukan seks oral dengan penderita HIV tetap berisiko tertular HIV.

  • Infeksi HIV/AIDS hanya terjadi pada kaum LGBT

Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Hubungan seksual dengan sesama jenis dan penggunaan narkoba suntik memang merupakan faktor risiko HIV yang cukup tinggi. Keadaan ini menyebabkan kaum homoseksual termasuk dalam kelompok berisikot tinggi HIV.

Namun, mereka yang heteroseksual pun tetap memiliki risiko untuk terinfeksi HIV. Data yang ada menunjukkan bahwa pasien HIV/AIDS di Indonesia yang paling banyak adalah ibu rumah tangga dan pekerja kantoran.

  • HIV/AIDS sudah ada obatnya

Berkat berbagai penelitian yang terus dilakukan, saat ini sudah ada obat untuk HIV yaitu anti-retro viral (ARV). Obat ini memang tidak menyembuhkan, tetapi telah menolong banyak penderita HIV dan memperpanjang masa hidup mereka.

Walau demikian, ARV memiliki sejumlah efek samping pada tubuh, seperti merusak kepadatan tulang, ketidakseimbangan kolesterol, penurunan berat badan, masalah pencernaan, dan gangguan mood. Selain itu, bila HIV sudah masuk tahap AIDS, pengobatannya pun akan jauh lebih kompleks. Karena, selain mengatasi infeksi HIV, pengobatan yang dilakukan juga harus menangani infeksi lain yang terjadi. Maka itu, pencegahan tetaplah lebih baik dibandingkan pengobatan.

  • Pasien HIV/AIDS tidak akan menyebarkan virus

Bila dikonsumsi dengan teratur sesuai anjuran, obat ARV dapat menekan jumlah virus (viral load) dalam darah hingga tidak terdeteksi saat pemeriksaan laboratorium (undetectable viral load). Kendati demikian, bukan berarti tidak ada lagi virus dalam darah penderita. Dengan kata lain, meskipun viral load-nya sudah rendah, seorang penderita HIV tetap dapat menularkan virus tersebut.

Berbekal informasi di atas, pastikan Anda tidak lagi termakan oleh mitos keliru mengenai HIV/AIDS. Pastikan pula Anda hanya mencari informasi kesehatan di sumber terpercaya, agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar