Sukses

Efek Tersengat Listrik pada Ibu Hamil

Sekalipun hanya tersengat listrik bertegangan rendah saat beraktivitas di rumah, dampaknya pada ibu hamil tetap tak boleh disepelekan.

Klikdokter.com, Jakarta Semua kegiatan yang melibatkan listrik, mulai dari membuat makanan sendiri dengan blender hingga mengeringkan rambut dengan hair dryer, harus diwaspadai oleh ibu hamil. Walau sederhana, bukan berarti aktivitas tersebut tidak menimbulkan risiko apa pun. Pasalnya, alat-alat elektronik yang digunakan berpotensi rusak atau mengalami korsleting sehingga bisa membuat tersengat listrik.

Menurut dr. Sepriani Limbong Timurtini dari KlikDokter, cukup berbahaya apabila ibu hamil terkena sengatan listrik ringan. Kendati demikian, sengatan listrik ringan yang dihasilkan oleh alat-alat rumah tangga umumnya tidak memberikan efek yang terlalu buruk untuk kondisi ibu dan janin. Kalaupun ada, ini bersifat kaget saja. Jika ibu hamil tidak memiliki riwayat gangguan kecemasan atau penyakit jantung, tersetrum listrik ringan tidak akan sebegitu mengguncang kesehatan fisiknya.

“Tapi perhatikan juga gejala yang terjadi pada si ibu. Jika detak jantung si ibu berdebar hebat, lalu mengalami nyeri dada, atau hingga mengalami kontraksi terus-menerus setelah tersetrum alat elektronik di rumah, sebaiknya segera bawa ke dokter,” jelas dr. Sepriani.

Selain itu, jika kontraksi perut tersebut menyebabkan nyeri punggung hingga mengeluarkan flek darah, ibu hamil yang habis tersetrum listrik wajib memeriksakan kondisinya kepada dokter sebelum terlambat. Tak cuma bikin kontraksi perut, tersetrum listrik juga dapat menimbulkan kontraksi pada otot pernapasan dan mengganggu fungsi otak sehingga bisa kesulitan bernapas.

Meski sengatan listrik ringan dari alat elektronik umumnya tidak berdampak signifikan terhadap perkembangan janin, jangan lupa untuk memperhatikan gejala yang muncul pada ibu, khususnya pada mereka yang memiliki riwayat gangguan kecemasan dan penyakit jantung. Sebab, rasa kaget bisa membuat kedua penyakit tersebut kambuh sehingga keselamatan ibu dan bayi menjadi terancam.

Ditambah lagi, orang yang tersetrum listrik pada dasarnya memang dapat mengalami gangguan detak jantung, seperti atrial fibrilasi dan ventrikular fibrilasi, sekalipun ia tidak sedang hamil. Kedua gangguan detak jantung dapat terjadi bahkan pada arus listrik bertegangan rendah. Hal itu pun bisa berujung pada tidak terpompanya darah dengan baik, kemudian henti jantung, hingga kematian.

Cara meminimalkan risiko tersengat listrik

Menurut dr. Sepriani ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar ibu hamil tidak tersengat listrik, antara lain:

  • Tutuplah area-area yang bertegangan listrik dan berpotensi mengalirkan arus listrik dengan penghalang yang terbuat dari isolator, seperti karet.
  • Pastikan saat memegang alat elektronik, kabel, dan sakelar, tangan Anda tidak basah.
  • Ikuti buku petunjuk saat sedang menggunakan peralatan yang tersambung listrik untuk meminimalkan kesalahan dalam penggunaan. Setelah selesai, jangan lupa dinonaktifkan atau cabut stop kontaknya.
  • Saat banyak petir, sebaiknya matikan alat elektronik yang berpotensi untuk tersambar, seperti ponsel dan televisi.
  • Dan gunakan alas kaki berupa sandal karet untuk meminimalkan dampak tersetrum.

Jadi, ibu hamil tersengat listrik bertegangan rendah kemungkinan besar tidak terkena dampak yang signifikan, terutama pada janinnya. Apalagi jika si ibu tidak memiliki riwayat penyakit jantung, pernapasan, atau gangguan kecemasan sebelumnya. Meski begitu, sekalipun si ibu tidak memiliki riwayat penyakit, tetap perhatikan gejala yang ditimbulkan pasca tersengat listrik. Sebab, jika ibu hamil menunjukkan gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, sebaiknya langsung periksakan kondisi tersebut ke dokter sebelum terlambat.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar