Sukses

Mengapa Ada Orang yang Ketagihan Operasi Plastik?

Operasi plastik adalah salah satu cara mempercantik diri. Faktanya, ada, lho, yang sampai ketagihan operasi plastik!

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini operasi plastik makin marak dilakukan. Pasien operasi plastik bisa menjalaninya di Indonesia atau di negara yang populer dengan praktik operasi plastiknya seperti di Korea. Operasi plastik bisa membawa perubahan dari segi estetika begitu signifikan, sehingga banyak orang yang ketagihan melakukan operasi plastik.

Operasi plastik sebenarnya bukan hanya tentang estetika saja. Kata operasi plastik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “plastikos” yang berarti untuk membentuk (mold atau shape). Operasi plastik sendiri dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu estetika dan rekonstruksi.

Estetika adalah prosedur medis yang tidak diharuskan, tapi mungkin dibutuhkan pasien untuk meningkatkan estetika. Sedangkan rekonstruksi merupakan ilmu bedah yang bertujuan untuk memperbaiki struktur agar meningkatkan fungsinya. Pembedahan yang termasuk rekonstruksi adalah pembedahan area wajah dan kranium, tangan, bedah mikro, serta luka bakar.

Ada pasien yang tidak pernah puas

Biasanya, orang yang ingin melakukan operasi plastik merasa ingin memperbaiki bagian tubuh tertentu demi meningkatkan kecantikan. Namun, pada beberapa kasus, terdapat pasien yang tidak pernah puas dengan tubuh mereka, meski tak ada kekurangan atau kecacatan apa pun. Mereka merasa terus ingin melakukan operasi plastik berulang-ulang dan tak pernah puas. Pasien seperti ini dikategorikan sebagai pasien yang ketagihan operasi plastik.

Salah satu contoh kasus, seseorang yang diketahui punya ketagihan akan operasi plastik adalah Rodrigo Alves, hingga ia dijuluki sebagai “human Ken doll” (boneka Ken versi manusia). Pria berusia 33 tahun ini memegang rekor dunia dengan menjalani 51 prosedur operasi plastik. Ia melakukan operasi plastik untuk mengubah dirinya demi tampak sempurna. Bahkan dalam satu hari ia pernah melakukan tiga operasi!

Rodrigo bahkan hampir menghabiskan 500 ribu dolar AS (kurang lebih Rp.6,6 miliar) untuk semua prosedur operasi plastik yang pernah dijalaninya. Pada tahun 2014 lalu, Rodrigo didiagnosis memiliki kelainan kejiwaan, yaitu kelainan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder (BDD).

Seorang dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi harus mengenali kemungkinan penyebab ketagihan operasi plastik BDD. BDD adalah gangguan pencitraan tubuh yang ditandai dengan obsesi terhadap penampilan dan ketidaksempurnaan, baik secara nyata atau bayangan, terutama pada bagian wajah.

1 dari 2 halaman

Kenali gejala BDD

Biasanya, penderita BDD terlalu fokus akan kekurangan bagian tubuhnya. Fokus seperti ini tentunya dapat mengganggu kehidupannya sehari-hari. Jumlah penderita BDD cukup banyak. Salah satu studi menunjukkan hampir sepertiga jumlah orang yang melakukan operasi plastik hidung memiliki gejala akan BDD.

Penderita BDD dapat menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menutupi kekurangan dari tubuh mereka. Berbagai cara akan dilakukan, seperti dengan makeup, pakaian, aksesori, bahkan melakukan operasi pada tubuh sendiri (do-it yourself surgery). Lebih jauh lagi, penderita BDD juga memiliki angka percobaan bunuh diri yang cukup tinggi. 

Penderita BDD biasanya akan tidak merasa puas dengan hasil operasi plastik yang dijalaninya. Bahkan, tak sedikit yang menyalahkan sang dokter.

Berikut ini adalah cara untuk mengenali gejala BDD:

  • Penderita biasanya memiliki keinginan yang tidak realistis mengenai operasi plastik. Biasanya penderita seperti menganggap operasi plastik akan membuat mereka memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain atau mendapatkan gaji yang lebih besar.
  • Awalnya, penderita mungkin merasa puas dengan operasi plastik. Namun, mereka bisa tiba-tiba menyadari ada yang salah atau tak puas, lalu meminta untuk dilakukan operasi plastik lanjutan.

Kelainan BDD sangat penting untuk dikenali sebelum melakukan operasi plastik. Jika dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi mengenali ada gejala BDD yang mungkin ditunjukkan oleh penderita, sebaiknya pasien dirujuk ke dokter spesialis kejiwaan. Ini karena tak jarang penderita BDD juga mengalami kelainan kejiwaan lainnya seperti depresi, gangguan kecemasan, penggunaan obat-obatan terlarang, dan sebagainya.

Beberapa orang melakukan operasi plastik untuk mempercantik diri mereka, tapi beberapa lainnya begitu bergantung pada operasi plastik hingga tak pernah puas dan menjadi ketagihan. Penting bagi dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi untuk mengenali BDD, karena ini merupakan salah satu kelainan jiwa yang harus diterapi.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar