Sukses

Cegah Bullying, Ini yang Perlu Dilakukan Pihak Sekolah

Anak yang menjadi korban bullying dapat mengalami gangguan psikis. Untuk itu, sekolah juga perlu melakukan pencegahan.

Klikdokter.com, Jakarta Memperingati Hari Anti-Bullying Sedunia yang jatuh pada hari ini, Senin (12/11), menarik untuk membahas perundungan yang kerap terjadi di sekolah-sekolah. Dari bentuk ejekan, mengintimidasi secara emosional, hingga pemukulan serta penindasan akan meninggalkan bekas pada fisik maupun psikis anak. Dampak negatifnya tak hanya terasa pada korban, tetapi juga si pelaku.

Pemberitaan mengenai perundungan di sekolah kerap menghiasi sejumlah media di Indonesia. Akan tetapi, biasanya kasus-kasus yang muncul adalah perundungan yang sudah sangat parah, bahkan yang menyebabkan hilangnya nyawa. Sedangkan untuk kasus-kaus yang dianggap sepele, sering kali kurang terekspos oleh media. Padahal, efeknya sama-sama buruk dan menjatuhkan.

Dampak perundungan

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, dampak bagi korban perundungan bisa sangat dalam. Biasanya, anak yang mengalami perundungan akan tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Mereka juga akan memiliki rasa percaya diri yang rendah, bahkan bisa mengalami depresi.

“Banyak juga anak yang mengalami bullying di sekolah menjadi tidak mau masuk sekolah karena takut di-bully oleh teman-temannya. Ini bisa membuat kegiatan belajar mengajar terganggu dan akhirnya si korban sendiri yang menanggung akibatnya, misalnya menjadi tidak naik kelas,” kata dr. Reza.

Tak jarang anak yang terus-menerus mengalami perundungan memiliki kecenderungan suka mem-bully pada kemudian hari. Mereka melampiaskan emosi seperti kemarahan dan kekecewaan dengan turut menyakiti orang lain. Hal ini akhirnya menjadi “lingkaran setan” yang tidak putus-putus.

1 dari 2 halaman

Kasus perundungan cukup tinggi

Pada momen Hari Anak Nasional Juli lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan data yang mengejutkan soal perundungan. Menurut KPAI, perundungan menjadi kasus tertinggi selain tawuran dan korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah).

Dikutip dari berbagai sumber, KPAI menjelaskan bahwa kasus anak pelaku kekerasan dan perundungan mencapai 41 (25,5%) kasus. Sementara itu, anak korban kekerasan dan perundungan sebanyak 36 kasus (22,4 %). Angka ini menjadi yang tertinggi di antara kasus-kasus yang biasa terjadi di sekolah.

Pencegahan di sekolah

Dilansir stopbullying.gov, cara terbaik untuk mengatasi perundungan adalah dengan menghentikannya sebelum dimulai. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh staf atau guru-guru di sekolah untuk membuat sekolah lebih aman. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh pihak sekolah dalam mencegah terjadinya perundungan:

1. Membuat kegiatan yang berhubungan dengan anti-bullying

Sekolah tidak selalu membutuhkan program formal untuk membantu siswa belajar tentang pencegahan bullying. Sekolah dapat memasukkan topik-topik pencegahan bullying ke dalam kegiatan yang lebih atraktif, seperti:

  • Riset di internet, seperti mencari tahu jenis-jenis perundungan, bagaimana mencegahnya, dan bagaimana anak-anak harus bertindak.
  • Presentasi, seperti pidato atau permainan peran (drama/teater) tentang perundungan.
  • Diskusi yang dinamis di kelas, misal bagaimana caranya melaporkan kasus perundungan.
  • Penulisan kreatif, seperti puisi atau cerita pendek yang berbicara tentang efek dari penindasan.
  • Karya artistik, seperti gambar, kolase, dan sebagainya.

2. Pelatihan terhadap guru dan staf tentang perundungan

Untuk memastikan bahwa upaya pencegahan penindasan berhasil, semua guru beserta staf di sekolah perlu dilatih tentang apa itu perundungan, bagaimana kebijakan dan aturan sekolah, dan bagaimana menegakkan aturan. Pelatihan dapat dilakukan dalam banyak bentuk, misalnya rapat atau sesi pelatihan satu hari.

3. Bisa dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran

Setiap sekolah memiliki kewenangan dalam hal kurikulum pembelajaran. Coba pertimbangkan untuk membuat kurikulum khusus mengenai perundungan. Pertimbangkan beberapa hal ketika memasukkan bullying dalam kurikulum, seperti program, demografi, kapasitas, dan sumber daya sekolah.

Mencegah bullying di sekolah menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk orang tua. Jika Anda merasa anak menjadi korban penindasan di sekolah, bicarakan kepada pihak sekolah mengenai cara penyelesaian serta kebijakan yang harus diterapkan pada kemudian hari. Di sisi lain, pihak sekolah perlu tegas terhadap kasus perundungan yang dialami anak, karena hal ini bisa meninggalkan trauma, tak hanya untuk saat ini tetapi juga kemudian hari.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar