Kesehatan Mental

7 Dampak Bullying bagi Psikologis Korban dan Pelaku

Siti Putri Nurmayani, 24 Sep 2023

Ditinjau Oleh Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog

Bullying yang terjadi secara fisik atau verbal bisa membuat korban menjadi rendah diri dan depresi. Dampak bullying juga bisa dialami oleh pelaku yang membuatnya tidak empati pada orang lain.

7 Dampak Bullying bagi Psikologis Korban dan Pelaku

Penindasan, perundungan, atau bullying menjadi perilaku buruk yang bisa memberikan dampak negatif. Kabar buruknya, siapa pun bisa menjadi korban bullying

Ada berbagai bentuk dari perilaku bullying, mulai dari verbal, non verbal, hingga tindakan fisik. Tentunya, ini semua bisa berdampak pada kehidupan korban. Bahkan, tanpa disadari, perilaku perundungan juga bisa memengaruhi tingkah pelaku. 

Lalu, apa saja dampak bullying bagi korban dan pelaku? Mari ketahui sejumlah dampak yang bisa dialami oleh korban dan pelaku perundungan. 

Dampak Bullying bagi Korban

Menurut Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog, dampak bullying bagi korban itu sangat beragam. Berikut di antaranya:

1. Rentan Merasakan Emosi

Aspek emosional menjadi salah satu dampak bullying verbal yang dapat dirasakan oleh korban. Biasanya, korban perundungan rentan mengalami emosi seperti takut, sedih, dan marah. 

Dampak bullying menurut para ahli ini bisa berlanjut pada munculnya gejala depresi, gangguan pencernaan, atau gangguan beradaptasi bagi korban bullying

Artikel Lainnya: Kenali Perbedaan Perilaku Bullying dan Nakal pada Anak

2. Sulit Berkonsentrasi

Disampaikan Psikolog Iswan, dampak kognitif dari perilaku bullying dapat membuat korban sulit berkonsentrasi dan memproses hal baru. Karena adanya rasa cemas, ini juga membuat korban sulit untuk membuat keputusan dan menghindari konflik. 

Bahkan, dampak bullying bagi siswa juga akan membuat korban kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. 

Selain terjadi pada korban, ini juga bisa menjadi dampak bullying bagi saksi yang melihat peristiwa perundungan. 

3. Tidak Percaya Diri

Dampak bullying bagi masyarakat juga bisa membuat korban tidak percaya diri. Ketika bullying yang dialami adalah kekerasan fisik, tentu bekas-bekas luka yang didapatkan dari perilaku perundungan dapat menyisakan pengalaman traumatis.

“Misalnya, bekas luka pada bagian tubuh tertentu yang membuat korban menjadi tidak percaya diri. Contohnya luka pada wajah yang menyebabkan korban merasa tidak cantik atau tidak tampan dibanding teman-temannya,” tutur Psikolog Iswan.

Selain itu, dampak bullying seksual juga bisa memunculkan perasaan rendah diri dan tidak berharga. 

4. Masalah Fisik

Karena menurunnya kepercayaan diri akibat kondisi fisik, ini juga bisa memunculkan gejala-gejala psikosomatis. Gangguan psikosomatis merupakan kondisi di mana munculnya penyakit fisik akibat pikiran atau emosi yang dirasakan korban. 

Gejala psikosomatis yang bisa muncul adalah gastroesophageal reflux disease (GERD), tremor, atau mimisan. Menurut Iswan, ini terjadi karena korban dikuasai oleh emosi negatif, seperti takut, cemas, dan sedih. 

5. Menarik Diri dari Lingkungan

Dampak bullying juga bisa terjadi pada aspek sosial. Biasanya, korban bullying akan menarik diri dari lingkungan sosial karena takut akan mendapatkan perlakuan yang sama. 

Kondisi tersebut juga bisa menjadi dampak bullying di media sosial atau cyberbullying. Korban biasanya akan menarik diri dari lingkungan dan tidak akan menggunakan media sosial tertentu karena merasa takut dan cemas.

6. Sulit Membentuk Hubungan

Dalam jangka panjang, dampak bullying dapat membuat korban sulit membentuk hubungan yang saling percaya. Pasalnya, korban biasanya memiliki trust issue terhadap kelompok atau seseorang yang dekat dengan pelaku. 

Misalnya, ia pernah dirundung oleh kakak tingkat. Hal ini akan membuat korban memiliki trust issue untuk berinteraksi atau satu tim dengan orang yang lebih tua.

7. Memicu Terjadinya Gangguan Mental

Dampak bullying non verbal, verbal, atau fisik dapat memicu terjadinya gangguan mental. 

Berdasarkan buku yang berjudul Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice, peristiwa kehidupan yang membuat stres, seperti korban perundungan, dapat menyebabkan timbulnya gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan gejala kejiwaan. 

Bahkan, ini juga bisa memunculkan keinginan bunuh diri yang tinggi dan peningkatan tekanan emosional.

Artikel Lainnya: Orang-Orang Ini Rentan Jadi Korban Bullying

Dampak Bullying bagi Pelaku

Selain pada korban, dampak bullying juga sebenarnya bisa terjadi pada pelaku. Menariknya, pelaku bisa tidak menyadari dampak psikologis yang dirasakan dari perilaku perundungan yang dilakukan. Berikut beberapa dampak bullying bagi pelaku:

Terbiasa Melakukan Aktivitas Impulsif

Dijelaskan Psikolog Iswan, perilaku bullying dapat membuat pelaku terbiasa melakukan aktivitas atau pola yang impulsif. 

Ini merupakan perilaku atau tindakan yang tidak diikuti dengan pemikiran tentang konsekuensi atau dampak kedepannya. Umumnya, pelaku lebih mengutamakan kondisi emosi dan keinginan sesaatnya. 

Empati yang Semakin Tumpul

Dampak bullying verbal bagi pelaku dapat membuat empati yang semakin lama semakin tumpul. Soalnya, pelaku bullying tidak mempedulikan kondisi korbannya. 

“Pelaku bullying biasanya lebih menyukai korbannya menderita atau merasakan kesengsaraan dalam waktu tertentu. Hal ini bisa menumpulkan kemampuan mereka dalam berempati,” jelas Psikolog Iswan. 

Meningkatnya Perilaku Agresif

Menurut Iswan, pelaku bullying yang tidak tertangani atau tidak mendapatkan pendampingan akan menganggap bahwa pukulan kekerasan verbal maupun non-verbal sebagai salah satu cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Muncul Perilaku Antisosial yang Semakin Parah

Dampak bullying bagi pelaku juga dapat memunculkan perilaku antisosial yang lebih parah, baik itu mencuri hingga membunuh. 

Pelaku merasa tidak memiliki norma atau aturan dalam berperilaku, terlebih lagi ia tidak mendapatkan pendampingan. Hal ini membuat aktivitas agresif bisa berkembang menjadi lebih buruk. 

Mendapatkan Label Negatif

Secara pergaulan, pelaku perundungan juga mendapatkan label negatif dari lingkungan sekitarnya. 

Kondisi ini membuat pelaku tidak mendapatkan teman-teman yang baik atau support system yang baik karena perilakunya sendiri yang disruptif.

Artikel Lainnya: Sering Tidak Disadari, Orangtua Bully Anak Sendiri!

Cara Mencegah Bullying

Mencegah dan menghentikan bullying menjadi salah satu cara untuk menciptakan lingkungan yang aman. Orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya tentu punya peran penting dalam mencegah perundungan. 

Berikut cara mencegah bullying yang bisa dilakukan:

  • Bantu anak untuk memahami bully merupakan perilaku yang buruk
  • Beritahu korban cara untuk mendapatkan bantuan
  • Jaga komunikasi dengan anak agar tetap terbuka
  • Dukung anak untuk melakukan apa yang disukai
  • Berikan contoh bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik
  • Ajarkan anak untuk berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara atau mengunggah sesuatu ke media sosial 
  • Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak

Itulah beberapa dampak bullying yang bisa dialami oleh korban dan pelaku. Orang tua juga bisa mengedukasi anak untuk berani melaporkan perundungan yang ia atau temannya alami. 

Bila anak terlanjur menjadi korban bullying, pastikan orang tua untuk terus mendampingi anak. Jika kesulitan untuk menghadapinya, jangan sungkan untuk meminta bantuan tenaga ahli seperti psikolog atau psikiater. 

Coba konsultasi dengan psikolog lewat layanan Tanya Dokter dan buat janji dengan dokter psikolog di aplikasi KlikDokter. Jangan lupa, #JagaSehatmu dan keluargamu secara fisik serta mental dengan mengunduh aplikasi KlikDokter untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan yang lengkap. 

(NM)

  • McLean Hospital. Diakses 2023. The Mental Health Impact of Bullying on Kids and Teens. 
  • Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice. Diakses 2023. Consequences of Bullying Behavior. 
  • Stop Bullying. Diakses 2023. How to Prevent Bullying. 
  • American Psychological Association. Diakses 2023. How parents, teachers, and kids can take action to prevent bullying.