Sukses

Kenali Osteoporosis pada Anak dan Remaja

Tak hanya dialami oleh orang yang sudah tua, tulang keropos atau osteoporosis juga dapat terjadi pada anak dan remaja.

Klikdokter.com, Jakarta Tanggal 20 Oktober setiap tahun diperingati sebagai Hari Osteoporosis Sedunia (World Osteoporosis Day). Bagi sebagain besar orang, osteoporosis mungkin hanya seputar tulang keropos. Nyatanya, penyakit ini lebih dari itu. Osteoporosis merupakan kondisi di mana tulang kehilangan kepadatannya, sehingga penderitaya rentan mengalami patah tulang (fraktur).

Penyebab osteoporosis bermacam-macam. Umumnya adalah kekurangan kalsium, penyerapan kalsium dalam tubuh yang kurang baik, atau penghancuran tulang secara berlebihan oleh sel osteoklas. Kondisi-kondisi tersebut memang identik dengan kaum usia lanjut. Namun, ternyata ini juga dapat dialami oleh anak dan remaja.

Osteoporosis pada anak dan remaja biasanya terjadi antara usia 8–14 tahun, dan ini merupakan kondisi yang serius. Pasalnya, usia anak dan remaja sedang dalam percepatan pertumbuhan. Bila pertumbuhan tersebut terhambat karena osteoporosis, anak tidak akan mencapai tinggi optimalnya dan rentan mengalami komplikasi seperti patah tulang di usia muda.

Sebab usia anak dan remaja mengalami osteoporosis

Osteoporosis anak dan remaja (pediatric osteoporosis atau juvenile Osteoporosis) dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu:

  • Kondisi genetik. Maksudnya adalah adanya penyakit tertentu yang dialami sejak lahir yang membuat tulang anak mudah keropos. Contohnya adalah osteogenesis imperfecta, idiopathic juvenile osteoporosis, dan sindrom Turner.
  • Kondisi medis tertentu, yaitu penyakit lain selain kondisi genetik. Misalnya kelainan ginjal, hipertiroid, atau hipotiroid pada anak.
  • Efek obat-obatan. Beberapa obat-obatan seperti obat kejang pada anak epilepsi dan obat kemoterapi pada anak dengan penyakit kanker memiliki efek samping terhadap tulang.
  • Gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia yang membuat asupan kalsium anak menjadi sangat sedikit.

Osteoporosis pada anak dan remaja biasanya menunjukkan gejala yang serupa dengan osteoporosis pada orang tua. Gejalanya antara lain adalah nyeri, terutama di tungkai, lutut, pergelangan kaki, yang dirasakan saat berjalan dan semakin lama semakin berat.

Beberapa anak dengan osteoporosis, ada pula yang datang ke dokter karena mengalami patah tulang (fraktur) di beberapa area tubuh sekaligus tanpa adanya riwayat kecelakaan yang hebat. Selain itu, biasanya anak akan memiliki perawakan lebih pendek dan memiliki kelainan tulang belakang, misalnya bungkuk atau condong ke belakang.

Bila anak mengalami gejala-gejala tersebut, dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan seperti bone mineral density (BMD) dan pemeriksaan lainnya. Tujuannya untuk menentukan diagnosis osteoporosis serta mencari tahu penyebabnya.

Sayangi tulangmu setiap hari!

Meskipun pada kebanyakan kasus osteoporosis pada anak dan remaja disebabkan oleh kondisi medis atau genetik tertentu, sebenarnya kondisi ini tetap dapat dicegah layaknya pada orang dewasa. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencega osteoporosis adalah:

  • Konsumsi makanan tinggi kalsium. Susu adalah salah satu sumber utama kalsium. Bagaimana bila anak atau remaja alergi susu atau tidak dapat mengonsumsinya karena sebab yang lain? Tak perlu khawatir, masih banyak bahan makanan lain yang juga kaya akan kalsium, yaitu keju, yoghurt, tofu.
  • Penuhi kebutuhan vitamin D. Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium lebih baik. Sumber alami terbaik vitamin D adalah sinar matahari. Karena itu, berjemurlah setiap pagi. Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung vitamin D seperti minyak ikan, jamur, dan telur.
  • Selalu konsumsi protein setiap hari. Protein adalah zat pembangun tubuh dan menjaga kesehatan tulang. Jangan lupakan zat ini dalam menu harian Anda. Sumber protein yang dapat Anda konsumsi adalah daging, ikan, telur, udang, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
  • Selalu bergerak. Tulang yang sehat adalah tulang yang bergerak. Sering-seringlah berjalan kaki, joging, bersepeda, berenang, dan melakukan aktivitas fisik lainnya untuk menjaga kekuatan dan kepadatan tulang.

Pencegahan osteroporosis yang disebutkan di atas tak hanya berlaku untuk anak dan remaja, tapi juga untuk semua usia yang ingin memiliki tulang kuat dan sehat. Oleh karena itu, yuk manfaatkan Hari Osteroporosis Sedunia ini sebagai motivasi supaya Anda dan keluarga bebas dari tulang keropos hari ini dan nanti!

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar