Sukses

Pemeriksaan TORCH, Apakah Anda juga Membutuhkannya?

Selama masa kehamilan, tentunya Anda akan melakukan segala cara untuk menjaga kesehatan termasuk melakukan pemeriksaan TORCH.

Klikdokter.com, Jakarta Masa kehamilan adalah saat yang dinanti-nanti oleh para wanita yang ingin memiliki anak. Segala daya dan upaya pun dilakukan untuk dapat membuat janin di dalam kandungannya sehat. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah melakukan pemeriksaan TORCH. Namun, sejauh mana urgensinya bagi ibu hamil?

Infeksi TORCH dalam kehamilan nyatanya dapat menyebabkan bayi lahir cacat karena adanya gangguan saat proses pembentukan organ pada janin. Infeksi paling menakutkan bagi wanita hamil ini sebenarnya bisa diatasi lebih awal dengan melakukan pemeriksaan. Lalu, siapa sajakah yang membutuhkannya?

Mengenal pemeriksaan TORCH lebih dekat

TORCH merupakan kumpulan dari beberapa infeksi, yakni toxoplasma gondii, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex. Apabila dialami saat kehamilan, TORCH dapat menyebabkan kelainan serius pada janin, misalnya pada bayi lahir cacat atau keguguran.

Bila di masa kehamilan Anda terinfeksi, virus bisa menyebar ke dalam aliran darah pada janin. Kondisi inilah yang kemudian dapat menyebabkan janin ikut terinfeksi. Sayangnya, sistem imun janin yang belum terbentuk sempurna tak mampu melawan virus yang masuk tersebut.

Di Indonesia sendiri, data dari WHO pada 2009 menyebutkan bahwa infeksi TORCH pada kehamilan memiliki prevalensi yang cukup tinggi, dengan kota Bandung sebagai pemegang kasus infeksi tertinggi, yakni sebesar 74,5 persen.

Beberapa kota lain yang dijadikan objek penelitian adalah Jakarta (61,6 persen), Surabaya (55,5 persen), Yogyakarta (55,4 persen), Semarang (44 persen) dan Denpasar (23 persen). Dengan angka kejadian ini, Anda perlu mengetahui berbagai jenis infeksi TORCH agar dapat berjaga-jaga.

1 dari 2 halaman

Jenis-jenis infeksi TORCH

Seperti telah dijelaskan di atas, TORCH adalah singkatan dari Toxoplasma, Other disease, Rubella, Cytomegalovirus,  and Herpes simplex virus. Yuk, simak penjelasan dari masing-masing bentuk infeksi tersebut berikut ini:

1. Toxoplasma gondii

Infeksi toxoplasma disebabkan oleh parasit yang biasanya masuk ke dalam tubuh ibu melalui mulut, misalnya bila saat hamil Anda mengonsumsi makanan yang belum matang dan terjangkit parasit. Mengonsumsi makanan yang dihinggapi lalat pembawa parasit juga bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Sering kali, parasit ini ditemukan pada bulu dan feses kucing. Bila janin terinfeksi toxoplasma, maka beberapa kelainan dapat muncul seperti :

  1. Kerusakan otak
  2. Kebutaan
  3. Gangguan pada erkembangan motorik
  4. Kejang
  5. Hidrosefalus

Oleh sebab itu, ketika Anda hamil, sangat penting memperhatikan kebersihan dan kematangan makanan yang akan dimakan. Hindari mengonsumsi makanan yang sudah dihinggapi lalat atau makanan yang belum benar-benar matang.

2. Rubella

Rubella sering juga disebut dengan campak jerman. Penyebabnya adalah virus rubella. Gejala yang akan muncul saat Anda terinfeksi adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, iritasi mata dan muncul kemerahan di seluruh tubuh.

Virus ini bisa sangat membahayakan janin Anda bila menginfeksi di trimester pertama kehamilan. Sebab, dampak yang akan terjadi adalah kelainan petumbuhan dan perkembangan organ, yang disebut dengan congenital rubella syndrome. Kelainan yang dimaksud yaitu:

  1. Kelainan jantung
  2. Katarak kongenital
  3. Tuli
  4. Kerusakan hati dan limpa
  5. Dan lain-lain

Beberapa wanita hamil yang mengalami infeksi rubella juga bisa mengalami keguguran. Untuk mencegahnya, lakukan vaksinasi rubella saat menikah dan merencanakan kehamilan, setidaknya 4 minggu sebelum kehamilan terjadi.

Khusus bagi anak, vaksin rubella terdapat di dalam paket vaksin MMR. Vaksin ini sangat dianjurkan untuk diberikan pada anak berusia antara 12 hingga 15 bulan. Selanjutnya, anak juga harus dapat memperoleh vaksin kembali pada usia 4 hingga 6 tahun.

3. Cytomegalovirus

Cytomegalovirus (CMV) merupakan infeksi virus yang tidak serius bila dialami orang dalam kondisi normal. Namun bila dialami wanita hamil, infeksi virus ini dapat menyebabkan kelainan kongenital pada bayi, seperti:

  1. Pendengaran dan penglihatan
  2. Kuning, jaundice, peningkatan kadar bilirubin darah
  3. Berat lahir kecil
  4. Masalah paru-paru
  5. Kejang
  6. Kelemahan otot
  7. Kelainan mental

4. Herpes simplex

Infeksi virus ini dapat ditularkan ke bayi melalui proses persalinan, bila terdapat lesi kulit di daerah sekitar jalan lahir. Bayi yang terinfeksi dapat mengalami infeksi herpes simpleks pada mata, kulit, meningoensefalitis atau peradangan pada selaput meningen dan jaringan otak, dan kelainan pada organ tubuh.

Selain itu, infeksi herpes simpleks dalam kehamilan juga dapat menyebabkan keguguran, terhambatnya pertumbuhan janin dan kemungkinan tinggi bayi lahir prematur.

Siapa saja yang memerlukannya?

Setiap wanita hamil sebaiknya melakukan pemeriksaan TORCH, terutama bila ada keluhan yang mengarah kepada infeksi TORCH seperti di atas. Hal ini untuk menghindari keguguran atau bayi lahir cacat. Sebab, dengan mengetahui adanya infeksi sejak dini, tingkat keberhasilan dalam menanganinya menjadi lebih tinggi.

Jika sudah terlambat, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan TORCH pada bayi yang lahir dengan kelainan kongenital, kehamilan yang mengalami keguguran, dan kematian janin yang diduga kuat berhubungan dengan infeksi TORCH.

Sebagian besar orang menganggap biaya pemeriksaan TORCH tidak murah. Namun, merogoh kocek untuk memastikan kehamilan sehat dan bayi lahir tanpa kurang suatu apa pun adalah hal yang perlu Anda perjuangkan. Bila mengalami berbagai gejala infeksi di atas, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter kandungan dan kebidanan agar infeksi dapat segera diatasi.

[NP/ RVS]

1 Komentar