Sukses

Risiko Obesitas pada Anak Bisa Dideteksi Lewat Mulut

Ternyata, risiko obesitas pada anak bisa dideteksi lewat mulut. Bagaimana caranya? Baca ulasan fakta medisnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai awam, mungkin Anda berpikir bahwa kondisi mulut hanya bisa mencerminkan atau mendeteksi penyakit mulut itu sendiri atau kesehatan gigi. Namun nyatanya, dilansir dari Newsweek, para ahli mengatakan risiko obesitas pada anak bisa dideteksi lewat mulut melalui pengamatan terhadap bakteri yang hidup di dalam mulut.

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi obesitas di seluruh dunia meningkat dua kali lipat antara tahun 1980-2014 atau setidaknya, 13 persen populasi dunia orang dewasa mengalami obesitas sentral yang bisa memicu terjadinya diabetes mellitus, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, kanker, serta radang sendi. Angka yang terlapor itu bukanlah jumlah yang sedikit dan patut diberikan atensi. Maka dari itu, apabila obesitas bisa terdeteksi dari periode anak-anak, semakin besar kemungkinan dan banyak pula waktu untuk bisa mengontrol berat badan demi terjaganya kesehatan.

Kaitan antara mikrobiota mulut dengan obesitas pada anak

Sementara itu, para ahli biologi dari Universitas Negeri Pennyslvania, Amerika Serikat, menyelidiki kaitan mikrobiota anak dengan berat badan. Mikrobiota merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan mikroba, termasuk bakteri, jamur, dan virus, yang hidup di dalam tubuh dan nantinya akan dikaitkan juga dengan kesehatan fisik serta mental anak.

Sebanyak 226 anak-anak berusia 2 tahun diseka mulutnya dan diambil sampel tinjanya. Hasilnya menunjukkan, anak-anak yang memiliki mikroba yang kurang beragam pada mulutnya cenderung memiliki berat badan yang mudah naik atau berisiko obesitas. Mereka pun memiliki spesies firmicutes yang lebih tinggi daripada bakteri bacteroidetes dalam mikrobiota oral ketimbang anak-anak yang tidak mudah naik berat badannya.

Dilansir dari Science Direct, firmicutes merupakan filum bakteri utama yang terdiri dari lebih 250 genus, termasuk Lactobacillus, Streptococcus, Mycoplasma, dan Clostridium, yang mampu menghasilkan beberapa asam lemak rantai pendek seperti butirat.

“Orang yang sehat biasanya memiliki banyak bakteri yang berbeda dalam mikrobiota usus mereka,” jelas Sarah Craig, seorang peneliti biologi. Keanekaragaman yang tinggi akan membantu melindungi tubuh dari peradangan atau bakteri berbahaya lainnya. Selain itu, keanekaragaman mikrobiota juga penting untuk menjaga stabilitas pencernaan dalam menghadapi perubahan pola makan dan lingkungan.

Maka dari itu, penting sekali bagi Anda dan buah hati untuk menjaga keseimbangan dua kelompok bakteri di dalam tubuh, yaitu firmicutes dan bacteroidetes. Ketika keduanya seimbang, kondisi kesehatan akan cenderung normal. Sebaliknya, bila tidak berimbang bisa menimbulkan masalah pada pencernaan. Meski begitu, penelitian yang disebut di atas masih harus dikaji lebih dalam lagi. Sebab, ini masih merupakan tahap awal dalam memahami bagaimana mikroba memengaruhi berat badan anak nantinya.

1 dari 2 halaman

Faktor lain yang bisa sebabkan obesitas pada anak

Tak cuma persoalan tidak seimbangnya bakteri di dalam tubuh dan sedikitnya jenis bakteri tertentu, obesitas pada dasarnya bisa terjadi jika asupan kalori lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan. Nah, bila Anda mendapati anak doyan makan atau makan dalam porsi yang banyak tetapi malas beraktivitas fisik, tentu Anda sebagai orang tua harus waspada. Ada beberapa faktor lain yang bisa memicu terjadinya obesitas, antara lain:

  • Faktor genetik

Menurut dr. Citra Roseno kepada KlikDokter, meski lebih dari 350 gen berkontribusi terhadap obesitas, hal tersebut tidak akan terlalu memengaruhi berat badan jika tidak ada faktor pemicu lainnya. Misalnya diet yang tidak sehat, olahraga yang jarang, adanya penyakit metabolik dan endokrin, serta sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.

  • Faktor endokrin dan metabolik

Adanya penyakit tiroid, seperti cushing dan insulinoma dapat menyebabkan seseorang kesulitan dalam menurunkan berat badan. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan pemeriksaan hormon tiroid sebelum melakukan program penurunan berat badan.

  • Faktor stres

Stres tak boleh disepelekan, terutama pada anak-anak. Sebab, stres yang bisa memicu depresi di kemudian hari ini berkaitan dengan kasus obesitas sebanyak 10-2- persen.

  • Faktor riwayat diabetes gestasional

Ada kabar yang kurang sedap untuk ibu yang menderita diabetes gestasional, karena bayi yang akan dilahirkannya bisa memiliki berat badan yang tinggi dan berisiko obesitas.

Meskipun ada banyak faktor yang dapat memengaruhi terjadinya obesitas, mulai dari genetik, penyakit tiroid, hingga tidak seimbangnya bakteri dan kurangnya keragaman bakteri dalam tubuh, obesitas bisa dicegah dengan cara sering beraktivitas fisik dan menjaga asupan harian. Ditambah dengan dukungan tenaga medis dan penelitian-penelitian yang dikerjakan oleh para ahli, diharapkan risiko obesitas pada anak angkanya bisa menurun.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar