Sukses

Adakah Vaksin untuk Cacar Monyet?

Cacar monyet kembali mewabah. Adakah vaksin untuk mencegah tertular penyakit ini?

Klikdokter.com, Jakarta Satu pekan terakhir, dunia dihebohkan dengan wabah cacar monyet yang menyerang dua warga Inggris. Wabah cacar monyet awalnya terjadi di Nigeria sejak tahun 2017 dan masih berlangsung hingga saat ini. Dua orang warga Inggris yang mengalami penyakit tersebut baru saja melakukan perjalanan beberapa minggu sebelumnya ke Nigeria. Diduga mereka tertular saat melakukan perjalanan tersebut.

Cacar monyet bukanlah penyakit baru. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1969 di Kongo. Namun dengan perkembangan vaksinasi dan tindakan isolasi penderita cacar monyet, dunia sebenarnya sudah bebas dari cacar monyet pada tahun 1980. Hanya saja, adanya virus cacar monyet pada tubuh tikus dan tupai di Afrika yang menular kepada manusia, menyebabkan beberapa kali terjadi wabah cacar monyet di Afrika hingga saat ini.

Penyakit yang ditandai dengan demam, sakit kepala, pembesaran kelenjar getah bening, dan lenting-lenting di kulit ini umumnya akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu jika daya tahan tubuh baik. Meski demikian, cacar monyet bisa menjadi berbahaya bila dialami oleh anak balita. Data WHO menunjukkan bahwa 1 dari 10 balita yang sakit cacar monyet meninggal dunia.

1 dari 2 halaman

Vaksin untuk cacar monyet

Hingga saat ini, tidak ada vaksin spesifik untuk mencegah cacar monyet. Meski demikian, vaksin untuk mencegah cacar variola (smallpox) juga efektif untuk mencegah cacar monyet, tak hanya untuk mencegah cacar variola saja. Studi membuktikan bahwa vaksin cacar variola dapat memberikan proteksi terhadap infeksi cacar monyet setidaknya sebesar 85%. Atau sekalipun tertular cacar monyet, orang yang sudah mendapatkan vaksin cacar variola akan mengalami gejala penyakit cacar monyet yang lebih ringan.

Untuk menghilangkan cacar monyet dan cacar variola sepenuhnya di dunia, WHO secara gencar telah mengampanyekan vaksin cacar variola sejak tahun 1940 hingga tahun 1980. Pada masa itu, program vaksinasi juga dilakukan di Indonesia. Jadi orang yang lahir pada tahun 1940-1980 umumnya menerima vaksin ini. Vaksin cacar variola ditandai dengan adanya sisa jaringan parut bekas suntikan di lengan atas.

Setelah itu, karena kasus cacar variola sudah lenyap, maka vaksin ini sudah tidak diberikan secara rutin di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, setelah tahun 1980 hingga saat ini, vaksin cacar variola sudah tidak menjadi program vaksinasi yang dianjurkan oleh pemerintah. Walau demikian, untuk daerah yang sering menjadi tempat cacar monyet mewabah (seperti di Nigeria, Zaire, dan negara-negara di Afrika Tengah), vaksin cacar variola masih ada dan diberikan untuk mencegah cacar monyet.

Agar tak tertular cacar monyet

Agar dapat terhindar dari cacar monyet, ada beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Sebisa mungkin, hindari bepergian ke daerah yang sedang mengalami wabah cacar monyet, terutama di Afrika Tengah.
  • Jika harus bepergian ke daerah wabah, hindari berkontak dengan hewan yang dapat menularkan virus cacar monyet, seperti tupai dan tikus.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap akan makan atau setiap berkontak dengan orang dan hewan yang sakit.
  • Jika menjumpai rekan atau kerabat yang baru saja melakukan perjalanan ke daerah Afrika Tengah dan mengalami demam 1-2 minggu setelahnya, anjurkan ia untuk segera ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa adanya kemungkinan tertular cacar monyet.

Jadi, meskipun saat ini vaksin cacar monyet tidak tersedia di Indonesia, lakukan langkah-langkah pencegahan agar Anda dan keluarga tak tertular penyakit tersebut.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar