Sukses

Kenali Perbedaan Vaksin MMR dan Vaksin MR

Dari segi fungsi, vaksin MMR dan vaksin MR tampak sama. Namun keduanya ternyata memiliki perlindungan yang berbeda. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini pemerintah sedang menggalakkan pemberian vaksin MR (measles rubella. Vaksin ini dinilai dapat menekan merebaknya dua penyakit sekaligus, yaitu campak dan rubela. Kedua penyakit tersebut  sangat mudah menular dan bisa berakibat fatal bagi penderitanya, terutama anak-anak. Untuk itu, vaksin MR bisa menjadi cara pencegahan terbaik. Lalu apa bedanya dengan vaksin MMR?

Imunisasi MR dan MMR

Imunisasi MR (measles rubella) digalang pemerintah pada tahun 2017-2018 sebagai upaya memutus rantai penularan virus campak (measles) dan rubella. Kedua  penyakit infeksi menular tersebut dapat menyebabkan komplikasi serius.

Komplikasi yang sering terjadi pada campak misalnya diare, radang paru pneumonia, radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk, bahkan kematian. Sedangkan, infeksi rubella biasanya merupakan penyakit ringan.Namun bila mengenai ibu hamil dapat menimbulkan kecacatan bayi, yang disebut dengan sindrom kongenital rubella.

Imunisasi MR ini diberikan pada semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun, tanpa mempertimbangkan apakah sebelumnya anak sudah mendapatkan imunisasi MMR (measles, mumps, rubella).

Menilik dari anjuran imunisasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2017, imunisasi MMR dianjurkan dilakukan 2 kali, yaitu pada usia 15 bulan dan 5 tahun.  Tujuannya untuk mencegah anak terkena penyakit campak (measles), gondongan (mumps), dan rubella (sindrom rubella kongenital) dari komplikasi yang mungkin timbul.

1 dari 2 halaman

Apa bedanya MR dan MMR?

Hal yang membedakan imunisasi MMR dengan MR adalah adanya perlindungan terhadap penyakit gondongan (mumps) pada imunisasi MMR.

Mengutip yang diungkapkan oleh Mostafid dan Hindley dalam sebuah jurnal, penyakit gondongan disebabkan sebuah virus bernama paramixovirus. Sekali terinfeksi, maka seseorang akan memiliki imunitas seumur hidup terhadap virus ini.

Virus pada penyakit gondongan ditularkan ke orang lain melalui kontak langsung dan droplet dari seseorang yang terinfeksi melalui hidung atau mulut orang tersebut.  Meski demikian, gondongan dapat sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang baik.

Keluhan gondongan yang muncul bila tidak melakukan suntik MMR

Gejala gondongan yang biasa dikeluhkan yaitu pembengkakan disertai nyeri pada kelenjar saliva. Sedangkan gejala yang tidak banyak diketahui orang adalah terjadinya infeksi testis. Dalam dunia medis kondisi tersebut dinamakan epididimo orkitis.

Keluhan epididimo orkitis ini lebih sering terjadi apabila virus ini menginfeksi orang dewasa dibandingkan anak dan remaja. Umumnya, infeksi pada testis terjadi pada minggu pertama atau kedua saat pembengkakan kelenjar saliva mulai terjadi.

Gejala yang dirasakan meliputi nyeri pada testis, pembengkakan testis dan suhu di kulit sekitar testis lebih hangat dibandingkan bagian kulit sekitarnya. Selain itu penderita juga mengalami gejala kemerahan pada kulit sekitar testis disertai demam, muntah, dan menggigil.

Penanganan yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan obat pereda demam, anti peradangan dan antinyeri. Untuk mengurangi rasa nyeri, kompreslah bagian yang terasa nyeri dengan air hangat atatu air dingin.

Sayangnya, epididimo orkitis ini dapat memengaruhi kesuburan seseorang. Menurut Mostafid dan Hindley dalam artikelnya di sebuah jurnal mengungkapkan, 30-50 persen kasus penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami atrofi (pengecilan ukuran atau penyusutan) testis. Bahkan, sekitar 7-13 persen kasus mengalami penurunan jumlah sperma.

Melihat komplikasi yang mungkin timbul, sangat penting memiliki riwayat imunisasi lengkap yang dianjurkan pemerintah. Diharapkan anak-anak di Indonesia dapat terhindar dari komplikasi dan kecacatan dengan melengkapi imunisasi yang telah dianjurkan, termasuk vaksin MMR dan vaksin MR. Ayo, lengkapi imunisasi anak-anak Anda!

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar