Sukses

Mana Lebih Bernutrisi, ASI Kental atau Encer?

Banyak ibu menyusui khawatir saat ASI yang dikeluarkan encer. Apakah itu artinya kurang bernutrisi? Mana lebih sehat, ASI kental atau encer?

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu hal yang sering kali mencemaskan para ibu menyusui adalah jika ASI yang dikeluarkan terlihat encer. Pasalnya, ada yang mengatakan bahwa ASI yang encer berarti kurang bernutrisi, sementara air susu yang teksturnya kental dikatakan lebih sehat. Apa benar demikian?

Sebenarnya, kualitas ASI tidak dapat dilihat dari tingkat kekentalannya. Cairan ASI yang terlihat cair atau kental sama-sama memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi untuk menunjang tumbuh kembangnya. Supaya lebih jelas, Anda harus mengenali apa itu foremilk dan hindmilk.

Beda ASI foremilk dan hindmilk

Tingkat kekentalan ASI sendiri memang bisa dilihat secara langsung, ada yang terlihat encer maupun kental. Ini karena ASI dibedakan menjadi foremilk dan hindmilk dari waktu dikeluarkannya. Foremilk merupakan ASI yang keluar pada awal sesi menyusui, sedangkan hindmilk adalah ASI yang keluar pada saat sesi menyusui akan berakhir.

Mengapa tingkat kekentalan keduanya berbeda? Hal ini disebabkan oleh isi kandungan dari masing-masing. Foremilk memiliki kandungan laktosa yang tinggi dan lemak yang rendah sehingga cairan ASI terlihat encer. Berbeda dengan hindmilk yang memiliki kandungan lemak lebih tinggi dibandingkan foremilk sehingga cairan ASI terlihat lebih kental.

Seluruh kandungan ASI, baik foremilk dan hindmilk, sama-sama memiliki kandungan nutrisi yang penting untuk kesehatan bayi dan jumlahnya harus seimbang setiap harinya. Masing-masing pun memiliki peranan yang berbeda untuk menunjang kesehatan tubuh dan tumbuh kembang bayi.

Ketidakseimbangan jumlah foremilk dan hindmilk akan mengganggu pertumbuhan bayi. Foremilk yang terlihat encer di awal menyusui mampu menghilangkan rasa haus pada bayi, memberikan energi, dan merangsang perkembangan otak. Sedangkan hindmilk yang terlihat kental di akhir menyusui dapat membantu meningkatkan berat badan dan tumbuh kembang bayi.

Tujuan dari proses menyusui itu sendiri adalah bayi mendapatkan jumlah ASI foremilk dan hindmilk dengan jumlah yang sama. Dengan begitu, bayi mendapatkan asupan laktosa dan lemak yang tinggi. Untuk diketahui, kandungan laktosa yang tercukupi di dalam tubuh mampu menekan pertumbuhan kuman penyebab penyakit.

1 dari 2 halaman

Tips menyusui yang baik

Untuk mengoptimalkan pemberian ASI, ibu harus memperhatikan frekuensi menyusui serta tahu cara menyusui yang baik. Frekuensi menyusui yang diharapkan adalah sesering mungkin atau setiap 2-3 jam sekali dalam satu kali sesi menyusui. Diharapkan juga, bayi menghabiskan ASI di dalam satu payudara baru berpindah ke payudara sisi lainnya dengan durasi sekitar 20 menit per satu payudara.

Tidak konsistennya ibu dalam proses menyusui dalam satu sesi, dapat mengganggu pertumbuhan bayi dan meningkatkan risiko hipergalaktia. Hipergalaktia akan terjadi jika saat proses menyusui ibu hanya memberikan ASI dalam waktu sebentar (5-10 menit) pada satu sisi payudara, lalu buru-buru pindah ke payudara lainnya.

Apabila bayi tidak menghabiskan sesi menyusui sampai selesai di salah satu payudara dengan durasi kurang lebih 20 menit, maka bayi hanya mendapatkan asupan laktosa di dalam ASI foremilk dan kandungan lemak yang sedikit (karena bayi belum sampai tahap konsumsi ASI hindmilk). Jika terjadi hipergalaktia, bisa muncul keluhan gangguan pencernaan, bayi mudah kembung karena peningkatan gas yang berlebihan, dan gagal pertumbuhan.

Jadi, untuk memastikan bayi Anda mendapatkan nutrisi yang tepat saat menyusui, pastikan ibu konsisten dalam pemberian frekuensi ASI serta memperhatikan durasi. Dengan begitu, tumbuh kembang bayi Anda pun akan lebih maksimal.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar