Sukses

Ini Akibatnya Jika Kadar Testosteron Pria Terlalu Tinggi

Testosteron, hormon pria, memiliki peran yang sangat penting. Namun jika kadarnya terlalu tinggi, beragam masalah bisa saja terjadi.

Klikdokter.com, Jakarta Testosteron merupakan hormon yang memegang peranan penting bagi pria. Kadar hormon ini bervariasi, dan umumnya akan mulai menurun secara perlahan saat memasuki usia 30 tahun.

Testosteron bertanggung jawab terhadap fungsi seksual, juga berperan menjaga otot dan tulang agar tetap kuat. Tak hanya itu, hormon ini bahkan mampu membentuk kebiasaan tertentu yang dilakukan oleh laki-laki.

Kelebihan testosteron bisa jadi masalah pria

Menurut dr. Kartika Mayasari dari KlikDokter, jika tubuh kekurangan hormon testosteron, tubuh pria akan mengalami sejumlah gangguan. Hal ini tentu bakal menghambat aktivitas hingga menurunkan kualitas seorang pria.

“Kadar testosteron yang terlalu rendah dapat menurunkan fungsi seksual, menurunkan kepadatan tulang, berkurangnya massa otot, peningkatan jumlah lemak, penurunan kekuatan otot, penurunan daya ingat, perubahan mood dan depresi,” ujar dr. Kartika.

Di sisi lain, kadar testosteron yang tinggi ternyata juga bisa mendatangkan masalah para pria. Berdasarkan jurnal Nature Communications, kadar testosteron yang terlalu tinggi dihubungkan dengan pandangan mengenai status dan sesuatu yang mewah.

Untuk membuktikan itu, studi dilakukan dengan melibatkan 240 pria pada rentang usia 18 hingga 55 tahun. Para peneliti memberikan gel testosteron pada setengah peserta, sementara setengahnya lagi hanya diberikan plasebo.

Setelah beberapa waktu, peneliti mengatakan bahwa pria yang mendapatkan testoteron tambahan mempunyai tendensi untuk memilih barang yang lebih bergaya serta mewah, ketimbang memikirkan kualitas barang itu sendiri.

1 dari 2 halaman

Masalah akibat kadar testosteron terlalu tinggi

Memperjelas temuan studi di atas, berikut adalah 5 masalah yang bisa timbul akibat kadar testosteron terlalu tinggi seperti dilansir Newsweek:

1. Pria menjadi cenderung boros

Pada sebuah penelitian terhadap lebih dari 3.200 partisipan, pria dengan kadar testosteron tinggi adalah investor yang lebih buruk daripada rekan kerja mereka. Investor dengan kadar testosteron tinggi cenderung mengambil risiko lebih besar dengan pekerjaan mereka.

Mengingat testosteron terkait dengan emosi yang meningkat, hal itu berpengaruh pada sikap seperti kecerobohan dan tanpa pikir panjang. Menurut penelitian, pria dengan testosteron tinggi juga cenderung terlibat dalam perilaku yang tidak etis.

2. Mengambil keputusan tanpa pikir panjang

Kadar testosteron tinggi terkait dengan pengambilan keputusan impulsif yang tidak selalu bermanfaat. Sebuah penelitian di Psychological Science menemukan bahwa satu dosis testosteron memengaruhi kemampuan pria untuk menjawab dengan benar pada tes kognitif.

Salah satu peneliti, Gideon Nave, mengatakan bahwa studi perilaku hewan di masa lalu telah menunjukkan, kadar testosteron jantan meningkat ketika mereka memperebutkan pasangan. Oleh karena itu, keputusan impulsif sering kali diambil tanpa berpikir panjang.

3. Menjadi lebih narsis

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa testosteron berperan sebagai “penggerak” komponen narsisisme. Diketahui bahwa pria dengan kadar testosteron tinggi cenderung bersifat narsis saat dirinya memiliki kekuasaan tertentu. Tak hanya itu, pria dengan testosteron tinggi juga lebih mungkin menyalahgunakan “kekuasaan” mereka.

Peneliti lainnya, Nicole Mead, mengatakan kepada Australian Financial Review bahwa pria dengan testosteron tinggi cenderung mencari posisi kekuasaan. Meskipun demikian, ternyata pada akhirnya mereka bukan pemimpin yang lebih baik.

Secara garis besar, kadar testosteron yang tinggi memang dapat menyebabkan beberapa masalah di atas. Namun di balik itu, pria yang memiliki testosteron tinggi juga dikaitkan dengan kesehatan jantung yang lebih terjaga.

Jadi, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Tentu saja memastikan bahwa kadar testosteron terus berada pada rentang normal. Jika Anda memiliki masalah terkait testosteron atau hormon lain, jangan ragu untuk berkonsultasi secara langsung pada dokter yang ahli.

[NB/ RVS]

1 Komentar