Sukses

Kenali Gejala Keracunan Makanan

Keracunan makanan adalah gangguan kesehatan akibat makanan dan minuman yang tidak higienis dan terkontaminasi. Kenali gejalanya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Sedang nikmat-nikmatnya mencoba makanan di restoran baru, menghadiri pesta barbecue, atau undangan makan-makan di restoran all you can eat, tak lama setelahnya Anda merasa ada yang ganjil dengan rasa makanan tersebut. Perlahan, efeknya mulai terasa menjalar di tubuh. Ya, bisa jadi Anda mengalami keracunan makanan.

Keracunan makanan merupakan suatu gangguan kesehatan yang disebabkan oleh makanan dan minuman yang tidak higienis dan terkontaminasi. Kuman-kuman infeksius seperti bakteri, virus dan parasit merupakan penyebab tersering keracunan makanan. Kontaminasi makanan dapat terjadi mulai dari proses persiapan hingga penyajian makanan.

Bila terindikasi keracunan makanan, maka tubuh akan merespons dengan cepat. Akibatnya, tubuh akan mengeluarkan reaksi yang menyebabkan sakit kepala, gangguan pencernaan, jantung berdetak cepat, atau gangguan lain yang lebih kompleks.

“Keracunan makanan sangat bervariasi ada yang bersifat ringan hingga menyebabkan dehidrasi dan ancaman kematian,” kata dr. Anita Amalia Sari kepada KlikDokter.

Ada sejumlah gejala khas saat seseorang mengalami keracunan makanan. Yuk, kenali apa saja gejala-gejala tersebut sehingga jika ini terjadi pada Anda atau orang-orang di sekitar, Anda bisa dengan sigap melakukan langkah antisipasi agar efeknya tidak semakin parah.

Gejala keracunan makanan

Gejala pasti dan tingkat keparahan keracunan makanan bervariasi, bergantung pada jenis bakteri, virus, dan parasit yang ada dalam tubuh Anda. Kuat atau tidaknya sistem imunitas tubuh melawan efek keracunan makanan juga berpengaruh.

Meskipun gejala keracunan bisa bervariasi, tapi kebanyakan kasus bakal mengalami gejala seperti diare, mual, dan muntah.

Jika keracunan makanan tergolong ringan, bisa jadi kondisi ini dianggap sakit perut biasa. Tanpa perawatan apa pun, biasanya kondisi ini perlahan menjadi lebih. Meski demikian, ada juga sebagian yang mengalami gejala buruk sehingga perlu dilarikan ke rumah sakit.

Kram perut, diare, lalu muntah, bisa terjadi paling cepat satu jam dan paling lambat sepuluh hari. Gejala keracunan makanan yang lebih parah antara lain:

  • Kembung dan selalu ingin buang angin
  • Demam
  • Nyeri otot
  • Badan lemas

 

Mencegah keracunan makanan

Melihat kasus keracunan makanan yang kian marak, Anda harus lebih selektif dalam memilih dan memprioritaskan kebersihan makanan. Berdasarkan anjuran dr. Anita, berikut ini adalah langkah untuk mencegah keracunan makanan.

  1. Mencuci peralatan masak, dan bahan makanan. Cuci tangan sebelum dan sesudah memegang dan menyiapkan makanan. Gunakan air mengalir dan sabun cuci piring untuk mencuci peralatan masak dan makan.
  2. Pisahkan penyimpanan makanan mentah dengan makanan matang untuk mencegah kontaminasi silang. Kontaminasi silang adalah terkenanya makanan matang yang sudah diproses dengan baik dan benar oleh bakteri, kuman, atau virus dari peralatan makan atau benda yang tidak higienis.
  3. Pastikan makanan yang dimasak benar-benar matang secara menyeluruh.
  4. Buang makanan bila Anda tidak yakin makanan tersebut dipersiapkan dengan cara baik, berbau tidak sedap, dan penampakannya sudah tidak meyakinkan.
  5. Hindari membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruangan. Jika Anda belum ingin langsung mengonsumsi makanan, simpanlah di lemari pendingin. Makanan sebaiknya paling lama 90 menit di suhu ruangan. Jika lebih dari itu, langsung simpan di lemari pendingin. Makanan yang disimpan di lemari pendingin dapat bertahan hingga dua hari.
  6. Pastikan temperatur lemari pendingin di bawah 5 derajat Celcius.
  7. Simpan daging di bagian terbawah freezer agar tidak mengontaminasi makanan lain.

Dengan mengenali gejala keracunan makanan, Anda bisa lebih waspada terhadap makanan atau tahap-tahap mempersiapkan makanan hingga saatnya Anda konsumsi. Tak ada salahnya untuk selektif terhadap apa yang Anda dan keluarga akan makan. Masak sendiri menu harian Anda dan keluarga dengan menggunakan bahan-bahan segar yang bergizi tentunya jauh lebih baik.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar