Sukses

Mendeteksi Penyebab dan Gejala Hipertensi pada Anak

Hipertensi alias tekanan darah tinggi juga bisa terjadi pada anak. Kenali penyebab, tanda dan gejalanya sekarang juga!

Klikdokter.com, Jakarta Hipertensi atau lebih dikenal sebagai penyakit tekanan darah tinggi merupakan kondisi yang selama ini dianggap hanya menyerang orang tua. Padahal, penyakit berbahaya itu juga dapat terjadi pada anak, bahkan pada bayi yang baru lahir sekalipun.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hipertensi pada anak merupakan masalah kesehatan dengan angka kejadian yang semakin meningkat. Secara umum, kejadian penyakit tersebut pada anak berkisar antara 1–2%.

Penyebab hipertensi pada anak

Hipertensi alias tekanan darah tinggi merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah. Menurut dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, seseorang dikatakan mengalami hipertensi bila tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg.

Beberapa hal yang memiliki hubungan erat dengan hipertensi pada anak, di antaranya:

● Riwayat keluarga

Faktor genetik alias keturunan kerap dihubungkan dengan kejadian hipertensi pada anak. Ini berarti, anak yang lahir dari orang tua hipertensi lebih berisiko untuk mengalami penyakit tekanan darah tinggi.

● Stres

Banyak perkara yang memungkinkan seorang anak mengalami stres, misalnya tugas sekolah, ketergantungan terhadap televisi atau game, dan sebagainya. Menurut dr. Adithia Kwee, stres yang dialami oleh anak dapat menyebabkan perubahan sejumlah hormon di dalam tubuh, sehingga hipertensi kerap tak bisa dihindari.

● Berat badan berlebih

Anak dengan berat badan berlebih atau obesitas lebih berisiko untuk mengalami hipertensi. Hal ini terjadi karena obesitas dapat berujung pada resistensi insulin, sehingga gangguan pada pembuluh darah, transportasi ion antar sel, serta retensi natrium lebih mungkin untuk terjadi.

● Gaya hidup

Kurangnya aktivitas fisik, kebutuhan gizi yang tak terpenuhi, serta konsumsi kalori dan garam yang tinggi pada anak dihubungkan dengan peningkatan risiko hipertensi di kemudian hari.

● Penyakit lain

Hipertensi bisa terjadi akibat adanya penyakit lain yang mendasari. Beberapa penyakit tersebut, misalnya peradangan pada ginjal, infeksi ginjal kronik, penyumbatan aliran urine, batu ginjal, kelainan kongenital saluran kemih, penyempitan pembuluh darah ginjal, dan sebagainya.

Gejala hipertensi pada anak

Hipertensi menjadi penyakit yang kerap hadir tanpa disadari. Pasalnya, penyakit ini umumnya tidak memberikan gejala yang spesifik sehingga sulit dideteksi hanya dengan mata telanjang.

Meski demikian, IDAI meyakini bahwa hipertensi yang terjadi pada bayi baru lahir akan memberikan gejala sebagai berikut:

  • Sesak napas
  • Berkeringat
  • Gelisah
  • Pucat atau sianosis
  • Muntah
  • Kejang

Sementara pada anak yang lebih besar, tanda dan gejala hipertensi yang mungkin terjadi, meliputi:

  • Badan lemas
  • Mudah lelah
  • Kejang
  • Tidak nafsu makan
  • Penurunan kesadaran
  • Sakit kepala mendadak
  • Penglihatan kabur
  • Sering mual
  • Mimisan tanpa sebab
  • Nyeri dada
  • Perawakan pendek
  • Kelumpuhan otot

Kapan harus ke dokter?

Mengutip laman WebMD, anak yang sudah menginjak usia 3 tahun dianjurkan untuk berkunjung ke dokter secara rutin guna melakukan pemeriksaan tekanan darah. Namun, bila anak memiliki beberapa faktor lain di luar penyebab hipertensi—seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan penyakit jantung bawaan—pemeriksaan tekanan darah rutin dapat dilakukan sejak usia balita.

Jangan anggap remeh hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi. Meski kerap hadir tanpa disadari dan tak memberikan gejala yang berarti, penyakit ini tetap bisa menyeret penderitanya pada segudang komplikasi yang mengancam nyawa. Oleh karena itu, jika Anda mencurigai adanya hipertensi pada si Kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter umum atau dokter spesialis anak.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar