Sukses

Selain Luka Fisik, Korban Bom Surabaya Terancam Trauma Psikis

Tiga teror bom yang mengguncang Surabaya mengakibatkan korban tewas dan luka. Selain luka fisik, korban ledakan bom alami trauma psikis.

Klikdokter.com, Jakarta Tiga aksi teror terjadi di Surabaya, Jawa Timur, pada hari Minggu (13/05) pagi. Pihak Mabes Polri pun telah membenarkan telah terjadi insiden ledakan bom di tiga gereja di Surabaya. Dalam peristiwa tersebut, jatuh korban jiwa dan puluhan korban luka. Tak hanya luka fisik, para korban dan orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian juga terancam luka psikis, yaitu stres pasca trauma atau dikenal dengan istilah post-traumatic stress disorder (PTSD).

Ledakan terjadi di tiga gereja, yaitu Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria di Jalan Ngagel Madya, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuna. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera, dikutip dari Liputan6.com, mengatakan bahwa ada korban jiwa yang meninggal di tempat kejadian perkara dan di rumah sakit, yaitu pelaku bom bunuh diri dan seorang jemaah gereja. Frans menambahkan, bahwa ada banyak korban luka, yaitu dua polisi yang berjaga dan sekitar 11 warga.

Selain luka fisik, para korban ledakan bom dan orang-orang di sekitarnya dapat mengalami stres pasca trauma (PTSD). Orang dengan PTSD memiliki pengalaman atau menyaksikan kejadian yang mengancam jiwa atau fisiknya, dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan, menakutkan, atau situasi yang mengancam keselamatan jiwanya.

Dikatakan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, PTSD tak hanya dapat dialami oleh korban, tapi juga keluarga dan orang-orang di sekitarnya yang menyaksikan kejadian secara langsung. Orang yang mengalami kondisi ini kerap mengalami kesulitan tidur, gangguan emosi (sering kaget atau emosi yang meledak-ledak), kecemasan yang tidak dapat dihindari, dan sulit untuk berkonsentrasi.

Orang yang terkena PTSD juga cenderung akan menghindari kejadian, orang-orang, benda, atau aktivitas apa pun yang dapat mengingatkan dirinya akan kejadian traumatis yang dialaminya. Gejala-gejala ini biasanya dirasakan sejak kejadian hingga tiga bulan lamanya, atau bahkan bisa bertahan hingga bertahun-tahun.

Gangguan PTSD dapat membuat seseorang tidak dapat berfungsi secara normal di masyarakat. Dari pemeriksaan fisik, juga bisa didapat beberapa kelainan yang dapat membantu dokter mendiagnonisis PTSD, antara lain:

  • Kurangnya kebersihan pribadi
  • Gangguan perilaku
  • Gangguan ingatan
  • Gangguan konsentrasi
  • Gangguan kontrol impuls

Risiko PTSD juga akan meningkat jika Anda menjadi korban, berada dekat dengan lokasi tempat kejadian perkara, mengalami cedera, melihat korban jiwa yang berjatuhan, atau mengetahui seseorang terdekat meninggal dunia akibat kejadian tersebut. Risiko ini akan semakin meningkat jika Anda terus terpapar berita terkait.

Apakah PTSD bisa diobati?

Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi ini bisa berkepanjangan menjadi kelainan stres. Untuk mengatasi trauma yang dialami korban atau saksi mata, biasanya diperlukan bantuan tenaga ahli seperti psikolog atau psikiater.

Pada kasus PTSD ringan, trauma yang terjadi dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, pada kasus berat penanganan medis dapat dilakukan dengan pemberian obat antidepresan, terapi relaksasi, atau psikoterapi.

Jika tidak ditangani dengan tepat, PTSD dapat menimbulkan komplikasi seperti gangguan jiwa berat seperti skizofrenia hingga percobaan bunuh diri. Hal lain yang bisa ditimbulkan adalah gangguan tidur menetap ataupun penghargaan diri yang rendah. Pada akhirnya, kondisi ini dapat memicu berbagai gejala psikosis atau gangguan kejiwaan lainnya.

Dukungan dari orang-orang terdekat seperti keluarga, teman-teman, dan lingkungan sekitar juga diperlukan untuk memulihkan korban. Dukungan moral, kasih sayang, dan jika perlu intervensi agama juga dapat dilakukan sebagai salah satu bentuk terapi bagi para korban atau saksi mata aksi ledakan bom Surabaya.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar