Sukses

Konsumsi Kedelai Berlebih, Akibatkan Penis Kecil?

Kandungan isoflavon pada kedelai kerap ditakuti para pria karena disebut-sebut dapat mengakibatkan penis kecil. Benarkah?

Klikdokter.com, Jakarta Makanan dan minuman yang bersumber dari kedelai populer dipilih sebagai alternatif sehat. Kedelai juga sangat digemari kalangan vegetarian dan vegan. Kacang-kacangan, termasuk kedelai, adalah sumber protein alternatif selain protein hewani. Konsumsi kedelai secara rutin diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah dan mencegah penyakit jantung. Sayangnya, banyak pria khawatir mengonsumsi kedelai, karena katanya, kedelai dapat mengakibatkan penis kecil. Benarkah demikian?

Kedelai memiliki manfaat untuk kesehatan karena adanya senyawa bioaktif yang berguna untuk menjaga dan memperbaiki sistem fisiologis maupun pencegahan penyakit, terutama pada bagian biji. Senyawa bioaktif tersebut adalah isoflavon. Isoflavon umum ditemukan pada kacang-kacangan, dan terutama kedelai.

Nah, isoflavon dikenal sebagai fitoestrogen karena struktur molekul isoflavon mirip dengan struktur estrogen endogen (estrogen yang dihasilkan ovarium dan jaringan lainnya). Hal ini menyebabkan isoflavon dapat berikatan dengan reseptor estrogen (RE), dan mampu memberikan efek estrogenik dan/atau efek antiestrogenik.

Bagi pria, mendengar kata “estrogen” dari makanan atau minuman yang dikonsumsinya pastilah membuat was-was. Konsumsi kedelai ditakuti dapat memengaruhi kesuburan para pria. Perlukah para pria merasa takut akan hal ini?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Beaton, et al., ditemukan bahwa kandungan isoflavon yang tinggi pada protein kedelai yang dikonsumsi pria tidak berbeda dengan kualitas sperma pada pria yang mengonsumsi susu sapi. Ada pula bukti yang menunjukkan bahwa Jepang dan Cina yang merupakan dua negara pengonsumsi kedelai tertinggi di dunia tidak terdapat masalah reproduksi.

Selain itu, dikutip dari laman International Society for Sexual Medicine, pada tahun 2012 sejumlah peneliti dari Universitas Minnesota dan Universitas Loma Linda di Amerika Serikat menganalisis 47 studi yang mengaitkan kedelai dan hormon seks pada pria, termasuk testosteron. Hasil yang didapat adalah konsumsi makanan yang berbahan kedelai dan suplemen isoflavon tidak memberikan efek buruk seperti penurunan kadar testosteron.

Intinya, hingga saat ini belum ada penelitian yang berhasil membuktikan kaitan antara konsumsi kedelai dan ukuran penis. Menurut dr. Sara Elise Wijono, M.Res, besar atau kecilnya ukuran penis dipengaruhi oleh:

- Gangguan hormon pertumbuhan. Jika kadar hormon ini rendah, maka akan mengganggu pertumbuhan alat kelamin bagian luar, termasuk penis.

- Gangguan genetik. Jika ada gen tertentu yang ikut menentukan besar kecilnya ukuran penis.

- Pengaruh lingkungan, yang dalam hal ini adalah nutrisi. Sebagai contoh, jika seorang pria pada masa kecilnya banyak mengonsumsi ayam yang disuntik hormon wanita. Selain itu, obesitas juga dapat mengganggu metabolisme hormon testosteron. Jika seorang pria terlalu gemuk, maka hormon testosteron yang membantu pertumbuhan genitalia akan diubah menjadi hormon estrogen.

Memang ada penelitian yang menunjukkan efek buruk kedelai para pria, yaitu peningkatan hormon estrogen yang dapat menganggu fungsi seksual reproduksi. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kandungan estrogen pada setiap kedelai tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kondisi tanah dan iklim.

Meski kedelai mengandung isoflavon sebagai fitoestrogen, jangan lantas menghentikan secara total sumber makanan dari kedelai. Faktanya, kedelai juga dapat membawa manfaat bagi kesehatan, seperti:

-  Antioksidan. Kandungan isoflavonnya mampu memperbaiki sel dan mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh polusi, sinar matahari, dan proses tubuh yang normal.

-  Mengurangi risiko penyakit jantung karena membantu tubuh mengurangi kadar kolesterol jahat (LDL), serta penurunan kemungkinan pembekuan darah.

-  Mencegah kanker seperti kanker rahim, payudara, dan prostat. Isoflavon bertindak sebagai agen antikanker.

-  Membalikkan efek endometriosis, dengan cara mengurangi atau mencegah rasa sakit selama masa haid.

-  Mencegah osteoporosis karena protein kedelai membantu dalam penyerapan kalsium dalam tulang lebih baik.

-  Mengatasi gejala menopause. Isoflavon pada kedelai membantu untuk mengatur estrogen. Penelitian telah menemukan bahwa isoflavon kedelai dapat mengurangi  rasa panas pada badan (hot flashes) pada wanita menopause. 

-  Memberi efek baik untuk diabetes dan sakit ginjal. Protein dan serat yang larut dalam kedelai, mengatur kadar glukosa darah dan filtrasi ginjal, dengan demikian mengendalikan diabetes dan penyakit ginjal.

-  Menjaga berat badan. Kandungan serat yang tinggi pada kedelai da[at membantu mengontrol rasa lapar.

Selama kedelai tidak dikonsumsi secara berlebihan, hingga kini tidak ada bukti bahwa mengonsumsi kedelai bisa mengakibatkan penis kecil. Kedelai memang mengandung bahan yang serupa dengan hormon wanita estrogen, tapi ada juga makanan lain yang mengandung bahan ini. Kandungan pada kedelai pun beragam, sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa konsumsinya dapat mengganggu pertumbuhan penis.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar