Sukses

Pria dengan Jumlah Sperma Sedikit Rentan Kena Penyakit?

Sebuah penelitian menunjukkan, sedikitnya jumlah sperma membuat pria rentan terkena penyakit. Simak faktanya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Sperma, spermatozoid, atau spermatozoa yang diambil dari bahasa Yunani kuno berarti benih makhluk hidup, merupakan sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma bertugas untuk membuahi ovum dan nantinya siap membentuk zigot, sel kromosom lengkap. Kemudian, zigot akan berkembang menjadi sebuah embrio.

Untuk dapat menghasilkan sperma yang baik dalam jumlah normal, maka pria bersangkutan mesti menjalankan sejumlah pola hidup sehat. Hal tersebut meliputi olahraga, menjaga asupan makanan dan minuman, hingga mengurangi kebiasaan buruk yang dapat merusak kualitas sperma Anda. Terkait jumlah sperma yang sedikit, dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter memberikan penjelasannya.

“Jumlah sperma yang sedikit, bisa menjadi momok bagi sebagian besar pria karena dapat mengganggu kesuburan dan menghalangi mimpi untuk punya momongan. Saat ejakulasi, seorang pria normalnya akan mengeluarkan cairan sebanyak 2–5 ml yang terdiri dari mani dan sperma. Sperma ini dihasilkan oleh testis dan baru akan dikeluarkan bersama dengan air mani saat ejakulasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Rina memaparkan tentang  penyebab jumlah sperma yang sedikit. Salah satu penyebabnya adalah ejakulasi retrograde (sperma tidak keluar saat ejakulasi, namun berbalik ke kandung kemih), adanya antibodi terhadap sperma, infeksi pada organ reproduksi, hingga ketidakseimbangan hormon.

“Selain hal di atas, pola hidup tidak sehat juga sangat berpengaruh pada terjadinya jumlah sperma sedikit. Misalnya, kebiasaan merokok, terpapar sinar radiasi terus-menerus, celana dalam terlalu ketat, dan suhu yang terlalu panas,” kata dr. Rina.

1 dari 3 halaman

Jumlah sperma dan kaitannya dengan penyakit

Tahukah Anda bahwa pria dengan jumlah sperma sedikit memiliki risiko rentan terhadap penyakit? Melansir dari BBC, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 5.117 pria ditemukan hasil bahwa mereka dengan jumlah sperma rendah – sebanyak 20 persen – dapat memiliki banyak masalah kesehatan.

Dijelaskan dalam penelitian tersebut bahwa pria dengan jumlah sperma sedikit lebih mungkin memiliki lemak berlebih pada tubuh, tekanan darah tinggi dan kolesterol jahat yang lebih buruk, serta cenderung memiliki kadar testosteron rendah.

Tak pelak, para peneliti turut mengatakan bahwa pria dengan jumlah sperma rendah juga harus diuji untuk masalah kesehatan lainnya.

Sedikitnya jumlah sperma merupakan satu dari tiga faktor penyebab pasangan sulit mendapatkan keturunan. Meski demikian, penelitian yang dilakukan di Italia ini turut menganalisis apakah kualitas air mani juga menjadi penanda bagi kesehatan umum laki-laki.

Peneliti juga menemukan bahwa pria dengan jumlah sperma yang rendah, turut memiliki sindrom metabolik. Gangguan ini termasuk pada indeks massa tubuh yang lebih tinggi (BMI) serta peningkatan tekanan darah. Dengan begitu, risiko terkena diabetes, penyakit jantung dan stroke juga turut meningkat.

Tingkat testosteron yang rendah – lebih rendah 12 kali dari orang normal – juga berdampak pada massa otot dan kepadatan tulang yang nantinya berperan besar pada penyakit osteoporosis, suatu kondisi yang melemahkan tulang dan membuatnya rentan patah.

"Pria tidak subur cenderung memiliki masalah kesehatan atau faktor risiko lain yang bisa mengganggu kualitas hidup dan memperpendek usia mereka. Oleh sebab itu, evaluasi kesuburan memberi pria kesempatan unik untuk penilaian kesehatan dan pencegahan penyakit," ujar Alberto Ferlin, seorang dokter yang memimpin penelitian ini, dilansir dari BBC.

2 dari 3 halaman

Lakukan penanganan secara tepat

Ferlin mengatakan bahwa penelitian ini menunjukkan fakta penting tentang kaitan antara jumlah sperma dan sindrom metabolik, meski tak bersinggungan secara langsung dengan  metabolisme tubuh. Ia menyarankan agar mereka yang memiliki jumlah sperma sedikit, untuk rutin memeriksa kesehatan pada spesialis medis terkait.

"Pria dari pasangan yang mengalami kesulitan mencapai kehamilan harus didiagnosis dengan benar, dan ditindaklanjuti oleh spesialis kesuburan serta dokter perawatan primer," katanya.

Selain pihak peneliti di atas, dr. Rina turut menganjurkan tentang pentingnya hidup sehat. Hal ini dilakukan demi meningkatkan kesuburan dan mewujudkan harapan Anda bersama pasangan untuk memiliki keturunan.

Jadi, jika Anda ingin terhindar dari kondisi jumlah produksi sperma yang sedikit, mulailah menerapkan pola hidup sehat, berolahraga rutin dan teratur. Pastikan juga Anda mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Lakukan sederet kiat di atas, demi produksi sperma yang lebih baik.

[NB/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar