Sukses

Sering Mengonsumsi Makanan Kemasan, Ini Efeknya

Asupan makan harian kadang didominasi makanan kemasan. Jika berlebihan, gangguan-gangguan ini dapat mengancam kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Soal makanan, Anda sering memilih berdasarkan kebutuhan, prioritas, ketersediaan waktu, bujet, dan sikap pribadi Anda terhadap nutrisi dan kesehatan. Faktanya, tak peduli betapa sehatnya pola makan yang Anda jalankan, pasti ada beberapa kali Anda “menyerah” pada makanan olahan dalam kemasan.  Misalnya saja, sekotak sereal cokelat, mac and cheese instan, buah ceri kaleng, atau mi goreng super pedas instan!

Makanan kemasan adalah makanan yang dibungkus dengan rapi, bersih, dan memiliki masa kedaluwarsa untuk dijual atau dikonsumsi dalam jangka waktu yang bisa diperkirakan. Dengan padatnya kesibukan sehari-hari, rasanya sulit untuk mengabaikan makanan yang bersumber dari kemasan, karena dianggap praktis dan mudah disimpan. Tak sedikit juga produsen yang mengklaim produknya memiliki standar kualitas dan higienis tinggi, sehingga tidak akan membahayakan pemakannya.

Melewati serangkaian proses

Faktanya, makanan kemasan mengalami serangkaian proses pengolahan yang mengubah bahan mentah atau segar ke dalam bentuk lain. Proses ini menurunkan kandungan gizi makanan. Sebagai contoh, vitamin C yang terkandung dalam bahan pangan dapat mengalami kerusakan akibat proses pemanasan.

Tak hanya itu, proses pengolahan ini sering kali menambahkan bahan tambahan pangan (BTP), yaitu campuran bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk memengaruhi sifat atau bentuk pangan, seperti pengawet, pewarna, atau pemanis buatan. Bahan pengawet seperti nitrit atau sulfat yang ditambahkan pada proses pengolahan misalnya, memiliki dampak buruk terhadap kesehatan.

Untuk menambah rasa gurih, banyak juga produsen yang menambahkan lemak dan minyak. Gula juga digunakan sebagai media pengawet dan pemanis seperti pada manisan dan dodol. Campuran-campuran inilah yang mengakibatkan makanan kemasan (atau makanan olahan) sering tinggi kalori. Jika dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan kegemukan dan timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan penyakit jantung koroner.

Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa makanan kemasan dapat berdampak buruk pada kesehatan.

1 dari 4 halaman

Selanjutnya

1. Mengandung lemak trans

Lemak trans sering dijumpai dalam berbagai makanan seperti muffin, biskuit, microwave popcorn, French fries, hingga margarin. Seperti dikutip di laman Reader’s Digest, ahli nutrisi dari Universitas Harvard mengatakan bahwa lemak trans dua kali lebih berbahaya bagi jantung.

Bahkan, lemak trans lebih buruk bagi jantung dibandingkan dengan lemak jenuh karena dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL)—yang berarti masalah besar untuk pembuluh darah. Selain itu, lemak trans juga dapat meningkatkan kadar lipoprotein dan trigliserida.

Jika Anda menemukan kata-kata seperti “terhidrogenasi sebagian”, “difraksinasi”, atau  “terhidrogenasi” (lemak terhidrogenasi sepenuhnya bukan merupakan ancaman bagi jantung, tapi beberapa lemak trans salah dilabelkan sebagai “terhidrogenasi”), Anda harus waspada.

2. Mengandung refined grains

Sederhananya, refined grain adalah kebalikan dari whole grain (biji-bijian utuh). Jika whole grain tidak mengalami proses pengolahan, maka refined grain mengalami proses pengolahan sedemikian rupa, sehingga biji-bijian kehilangan bagian kulit dan lembaganya. Yang tersisa hanya bagian endosperma yang hanya mengandung karbohidrat dan sedikit protein. Zat gizi yang hilang antara lain vitamin, mineral, dan serat.

Beberapa produk refined grain adalah roti tawar putih, roti sobek, sereal manis rendah serat, dan nasi putih, yang semuanya dapat meningkatan risiko serangan jantung hingga 30 persen. Terlalu banyak mengonsumsi produk-produk refined grain dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, serangan jantung, resistensi insulin, diabetes, serta lemak pada perut.

Beberapa penelitian menunjukkan hasil bahwa wanita dan pria yang makan lebih banyak whole grains (seperti pada roti rye, sereal biji-bijian utuh, oatmeal masak, nasi merah, dan lain-lain), risiko penyakit jantung menurun 20-30 persen.

Bacalah kemasan produk gandum secara cermat, dan pastikan paling tidak ada kandungan gandum utuh (whole wheat) atau whole grain seperti oat. Kandungan serat paling tidak 3 gram per penyajian.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

3. Tinggi garam

Makanan kemasan “terkenal” dengan kandungan sodium yang tinggi, seperti sayur dan sup kaleng, soy sauce, saus Worcestershire, burger dan kentang goreng dari restoran cepat saji, serta daging yang diawetkan dengan penggunaan garam (cured meat) seperti bacon dan ham.

Beberapa makanan mengandung sodium alami, seperti pada susu, bit, seledri, hingga air minum. Ini merupakan hal baik, karena sodium dibutuhkan tubuh untuk membantu mengatur tekanan darah, menjaga keseimbangan cairan tubuh, mentransmisikan impuls saraf, mengontraksikan otot (termasuk otot jantung), serta menjaga kerja pancaindra seperti indra perasa, penciuman, dan sentuhan. Anda membutuhkan sedikit sodium setiap harinya untuk menggantikan cairan yang hilang dari tubuh.

Lalu, apa yang terjadi ketika asupan garam lebih tinggi daripada yang dibutuhkan tubuh? Tubuh hanya mempertahankan cairan hanya untuk mengencerkan kelebihan sodium dalam aliran darah. Kondisi ini dapat meningkatkan volume darah, sehingga membuat kerja jantung lebih keras. Pada saat yang bersamaan, pembuluh darah dan arteri menyempit. Kombinasi tersebut mengakibatkan naiknya tekanan darah.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong kepada KlikDokter, batasan garam yang dianjurkan adalah 1.500 miligram (mg) per hari (sekitar ¾ sendok teh). Untuk diketahui, garam meja mengandung 40 persen sodium dan 60 persen klorida. Anda yang berusia di atas 50 tahun lanjut tidak boleh mengonsumsi terlalu banyak, yaitu 1,300 mg. Hal ini untuk mencegah kenaikan tekanan darah alami yang terjadi seiring bertambahnya usia. Jika ada gangguan kesehatan seperti penyakit ginjal atau gagal jantung, maka asupan garam tidak boleh lebih dari 1.000 mg per hari.

Baca kolom “nutrition facts” secara teliti pada kemasan, dan jangan mudah tertipu dengan label yang bertuliskan “sodium-free” (karena biasanya masih mengandung 5 mg per penyajian), “reduced sodium” (maksudnya kandungan sodiumnya 25 persen lebih sedikit dari biasanya), atau “light in sodium” (kandungan sodiumnya setengah dari biasanya).

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

4. Mengandung sirup jagung tinggi fruktosa (high fructose corn syrup)

Dibandingkan dengan pemanis tradisional, sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS) harganya lebih murah, rasa lebih manis, dan lebih mudah tercampur dengan bahan-bahan lain. Produk-produk yang mengandung HFCS adalah berbagai jenis makanan beku, bir, bacon, saus spageti, minuman bersoda, dan saus tomat.

Menurut penelitian dari Universitas Princeton, Amerika Serikat, terlalu banyak mengonsumsi produk HFCS dapat mengalami peningkatan berat badan dan obesitas. Selain itu, ada pula peningkatan risiko terkena diabetes, kolesterol jahat LDL dan trigliserida, sehingga mengarah pada penyakit jantung dan strok, serta kerusakan hati.

Untuk “menangkap basah” adanya fruktosa pada makanan kemasan, cari kata-kata seperti “pemanis jagung”, “sirup jagung”, “sirup jagung padat”, dan tentunya “sirup jagung tinggi fruktosa”.

Mengonsumsi makanan kemasan sebetulnya tidak benar-benar dilarang. Jika memang menu makan Anda adalah dari makanan kemasan, kombinasikan dengan sayuran, buah-buahan, dan bahan-bahan segar lainnya. Jangan malas untuk membaca label kemasan, dan perhatikan juga tanggal kedaluwarsa sebelum membeli makanan. Meskipun demikian, secara perlahan kurangi asupan makanan kemasan dari hal-hal kecil seperti permen, keripik singkong dan kentang kemasan, dan lain-lain. Percaya deh, tubuh dijamin akan lebih “berterima kasih” jika menerima asupan makanan segar dibandingkan makanan kemasan.

[RVS]

1 Komentar