Sukses

Ini Beda Gejala HIV pada Wanita dan Pria

Virus HIV memang dapat terjadi pada siapa saja, baik wanita maupun pria. Kenali perbedaan gejala HIV pada wanita dan pria.

Penyakit HIV (Human Immunideficiency Virus) menyerang sistem kekebalan tubuh manusia lewat infeksi, baik oleh bakteri, virus, jamur, parasit maupun organisme lainnya yang disebut infeksi oportunistik. Dari segi gejala HIV, Anda juga perlu tahu perbedaannya antara pria dan wanita.

Seperti diketahui virus HIV menular melalui kontak dengan darah pasien yang terinfeksi. Penularan bisa melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, tinta tato, hubungan seksual bebas, penularan secara langsung dari ibu hamil kepada janin yang di kandungnya dan sebagainya.

Gejala awal HIV adalah munculnya keringat berlebihan di malam hari, tubuh menggigil atau demam lebih dari beberapa minggu, batuk atau sakit saat menelan karena peradangan atau infeksi di tenggorokan, hingga diare kronis yang tak kunjung sembuh.

Namun, bagaimanapun juga gejala sebuah penyakit dapat bervariasi pada setiap orang. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan secara menyeluruh oleh tenaga medis.

Artikel Lainnya: Penggunaaan Antibiotik Menurunkan Jumlah Kematian Pasien HIV

1 dari 2 halaman

Perbedaan Gejala HIV pada Wanita dan Pria

Mengenai perbedaan gejala HIV pada wanita dan pria, perlu diketahui bahwa pada kedua genre tersebut memiliki peluang yang sama tentang adanya keluhan penyakit ini.

Namun pada wanita, gangguan reproduksi akibat virus ini dapat terjadi seperti gangguan siklus haid, infeksi radang panggul bahkan kemungkinan terkenanya kanker serviks.

Akan tetapi, jika dilihat dari faktor risiko penyakit, jenis pekerjaan yang paling sering terpapar virus ini adalah tenaga medis. Sebab baik dokter maupun perawat sering kali harus berurusan langsung dengan pasien terinfeksi dan bersentuhan pada alat-alat medis, termasuk jarum suntik saat mengambil darah.

Kelompok pencinta sesama jenis (terutama pada pria) juga berisiko lebih tinggi terinfeksi virus ini. Hal ini dikarenakan hubungan seksual yang dilakukan dengan cara anal seks sangat berisiko tinggi. Seperti diketahui, anus merupakan salah satu bagian tubuh yang paling banyak mengandung kuman. 

Selain itu sering ditemukan Oral candidiasis (jamur pada rongga mulut) karena adanya hubungan seksual secara oral yang kurang higienis.

Artikel Lainnya: Memerangi Hoaks tentang HIV/AIDS untuk Edukasi Masyarakat

Terdapat pula profesi yang memiliki risiko yang tinggi tertular penyakit ini, misalnya pekerja seks komersial. Selain faktor higienitas, kebiasaan berganti pasangan, baik menggunakan pengaman atau tidak, akan menimbulkan risiko terinfeksi lebih yang besar, dibandingkan mereka yang tidak.

Untuk gejala HIV sendiri, karena adanya hubungan seksual yang tidak sehat ini, tidak sedikit yang mengeluhkan adanya luka pada organ vital mereka. Dan salah satunya adalah adanya gejala infeksi menular seksual.

Apabila gejala HIV/AIDS ini dapat dideteksi secara dini, sebenarnya dapat diobati dengan menjaga sistem kekebalan tubuh, sehingga bisa memperlambat perkembangan aktif virus. Hasilnya, tubuh  dapat terlindungi dari serangan berbagai infeksi yang disebut dengan antiretroviral (ARV).

Namun, memang mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan yang terpenting adalah menghindari faktor risiko dari timbulnya gejala HIV. Serta, jangan pernah takut untuk memeriksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala seperti di atas.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar