Sukses

Memetik Manfaat Bunga Kecombrang untuk Kesehatan

Selain aromanya yang eksotis dan rasanya yang unik, bunga kecombrang juga bermanfaat untuk kesehatan Anda.

Klikdokter.com, Jakarta Olahan bunga kecombrang memang selalu membuat lidah menari. Misalnya saja saat diolah menjadi sambal. Masukkan bumbu pelengkap ini ke dalam lauk-pauk Anda, dan bisa dipastikan berpiring-piring nasi akan pindah ke perut.

Namun ternyata, di samping aromanya yang eksotis dan rasanya yang unik, tanaman herba ini juga tak kalah menggoda dari segi kesehatan.

Mengenal Bunga Kecombrang

Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, bunga kecombrang (Etlingera elatior) dikenal dengan berbagai nama. Ada yang menyebutnya honje, rias, kincung, dan bongkot—tergantung dari setiap daerah. 

Hidangan berbumbu kecombrang telah menjadi tradisi kuliner di negeri ini.

Di Sumatera, bunga kecombrang biasa dimasukkan dalam masakan ikan, karena dapat meredam bau amis. Sementara di Jawa, kuntumnya acap kali dijadikan lalap, disantap bersama nasi hangat dan sambal. Ada juga yang mengolahnya menjadi bahan pecel atau urap.

Selain sebagai makanan, bunga kecombrang juga dapat dimanfaatkan sebagai sabun dengan dua cara: menggosokkan batangnya langsung ke tubuh dan wajah, atau mememarkan pelepahnya hingga keluar busa yang harum.

Orang-orang juga kerap menggunakannya sebagai obat untuk penyakit yang berhubungan dengan kulit, termasuk campak.

Dilihat dari ciri-cirinya, bunga kecombrang yang masih satu keluarga dengan jahe-jahean ini memiliki batang merah dan kehijauan di bagian atas. Tingginya bisa mencapai enam meter. Bunganya majemuk seperti buah nanas dan bulat sebesar kepala bayi. Jumlah bunganya pun banyak.

Kebaikan Bunga Kecombrang

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat manfaat dari bunga kecombrang ini. Salah satu yang terbaru adalah oleh Ali Ghasemzadeh dkk. dan sudah dipublikasikan di BioMed Central pada tahun 2015.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis Etlinger elatior di tiga lokasi berbeda di Malaysia (Kelantan, Pahang, dan Johor). Penelitian tersebut dikaitkan dengan kandungan fenolik, flavonoid, dan tanin di dalamnya.

Mereka kemudian menemukan bahwa berdasarkan aktivitas antioksidan dan antikanker, E. elatior yang tumbuh di Kelantan merupakan sumber yang paling potensial sebagai senyawa terapeutik.

Para peneliti juga membahas riset tahun 2011 yang mengatakan bahwa E. elatior memiliki sifat antioksidan, antikanker, antibakteri, dan aktivitas sitotoksik. Selain itu, ekstrak metanol dari bunga kering E. elatior mengandung flavonoid, terpenoid, saponin, tanin, dan karbohidrat.

Ambil contoh flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa yang sering ditemukan pada buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan minuman tertentu. Flavonoid telah banyak digunakan untuk kepentingan farmasi. Hal ini dikarenakan flavonoid memiliki efek biokimia dan antioksidan yang berguna untuk berbagai penyakit, seperti kanker, Alzheimer, ateroskleoris, dan lain-lain.

Walau demikian, para peneliti menekankan pentingnya untuk mengacu pada parameter lingkungan jika ingin melihat efek menguntungkan dari tumbuhan obat ini.  

Tanaman herba sudah lama dipercaya sebagai pengobatan. Efek terapeutik senyawa bioaktif alami di dalamnya pun telah banyak diteliti. Pada bunga kecombrang, memang ditemukan adanya aktivitas antioksidan dan antikanker, akan tetapi hal ini tetap membutuhkan penelitian yang lebih lanjut dan mendalam.  

[RH]

0 Komentar

Belum ada komentar