Sukses

Hindari Pakai Wadah Plastik Ini untuk Makanan Panas

Makanan menggunakan piring melamin atau plastik ternyata berbahaya loh bagi kesehatan, simak penjelasannya!

Saat membeli makanan untuk dibawa pulang, biasanya pramuniaga akan menyediakan wadah. Bahannya bisa beragam, tapi yang sering ditemui adalah plastik atau melamin. Tak hanya restoran, di rumah pun terkadang masih ada yang pakai piring melamin untuk makan.

Padahal, kebiasaan menggunakan wadah dan peralatan makan, seperti plastik dan melamin, bukanlah keputusan yang tepat. Ada bahaya kesehatan menggunakan melamin sebagai wadah makanan, terutama saat terkena suhu panas.

Bahaya Plastik dan Melamin

Saat Anda memakai wadah berbahan plastik atau melamin untuk menaruh makanan panas atau memanaskan makanan dengan microwave, secara tak langsung komponen dalam wadah dapat mengontaminasi makanan.

Plastik mengandung komponen yang berbahaya bagi kesehatan, yaitu bisphenol A (BPA) dan phthalate. BPA dapat ditemukan pada wadah plastik yang memiliki kode daur ulang nomor (recycle code) 7, yaitu polikarbonat atau PC. Phthalate memiliki kode daur ulang nomor 3, yaitu polivinil karbonat (PVC).

Artikel lainnya: Kenali Bahaya Mikroplastik bagi Kesehatan

Adapun melamin adalah suatu jenis resin—yang merupakan jenis plastik keras—yang biasanya digunakan untuk membuat mangkuk, piring, gelas, dan alat makan untuk anak. Baik BPA, phthalate dan melamin apabila masuk dalam tubuh dapat memberikan efek yang berbahaya pada tubuh.

Adapun efek jangka pendek yang bisa terjadi apabila makanan terkontaminasi kandungan berbahaya tersebut, antara lain:

  • Gangguan perkembangan janin
  • Gangguan sistem pencernaan yang ditandai dengan adanya mual dan muntah
  • Ditemukannya darah pada saat BAK (buang air kecil)
  • Gagal ginjal akut yang dapat ditandai berkurangnya BAK dalam 24 jam (oligouria) atau bahkan tidak adanya produksi urine (anuria)
  • Peningkatan enzim tubuh, seperti aspartate transaminase dan alanine transaminase

Sementara itu, efek jangka panjang akibat penggunaan peralatan makan melamin atau plastik ialah:

  • Terbentuknya batu pada saluran kemih
  • Gagal ginjal kronik
  • Meningkatnya risiko kanker
  • Peningkatan tekanan darah
  • Gangguan hormonal, seperti memengaruhi siklus haid dan pubertas
  • Menurunkan kualitas sperma

Di lain sisi, wadah plastik dengan kode daur ulang nomor 1, 2, 4, dan 5 bebas BPA dan phthalate, yang lebih aman untuk digunakan sehari-hari.

Artikel lainnya: Jangan Bakar Plastik Mulai Sekarang, Ini Bahayanya

1 dari 2 halaman

Makanan Panas di Plastik dan Melamin Buruk untuk Ginjal

Sering terpaparnya komponen plastik dan melamin pada peralatan makan dalam jangka waktu yang lama rupanya dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada hewan mengungkap bahwa adanya kandungan melamin yang tinggi dalam tubuh dalam jangka waktu lama menyebabkan peradangan dan pembentukan batu di saluran kemih.

Hal ini diperkirakan juga terjadi pada tubuh manusia. Yaitu, diduga dengan adanya zat berbahaya ini dapat meningkatkan spesi oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS) yang memicu kerusakan DNA dan kematian sel.

Kematian sel-sel inilah yang nantinya menumpuk menjadi debris dan dapat menjadi salah satu penyebab terbentuknya batu ginjal.

Terbentuknya batu di ginjal maupun saluran kemih dapat menyebabkan sumbatan yang berpotensi meningkatkan risiko seseorang mengalami infeksi hingga gagal ginjal. Apabila kondisi ini tidak diatasi segera, dapat menyebabkan kerusakan organ ginjal permanen.

Memang akan lebih aman jika Anda menggunakan wadah atau peralatan makan yang berbahan beling atau kaca saat menyajikan atau menyimpan masakan. Namun, jika harus menggunakan wadah plastik, pastikan wadah yang digunakan berlabel 1, 2, 4, atau 5.

Pastikan juga wadah itu memiliki label “food grade” dan bertuliskan “aman untuk microwave/microwave-safe”.

Kini Anda sudah tahu bahaya melamin bagi kesehatan saat digunakan sebagai wadah makanan. Karena itu, lebih cermatlah memilih peralatan makan dan tempat penyimpan santapan Anda. Intip tips sehat lainnya di aplikasi KlikDokter.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar