Sukses

Kiat Ajak Remaja Hindari Seks Pranikah

Angka seks pranikah di kalangan remaja makin mengkhawatirkan.

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini angka remaja yang melakukan seks pranikah makin meningkat. Bahkan rentang usia remaja yang melakukan hal ini pun makin dini saja.

Menurut dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Dr. Julianto Witjaksono, SpOG-K, MGO, PhD, tingkat hubungan seksual pranikah di kalangan remaja sudah sangat meresahkan. Sebanyak 4,8 persen remaja Indonesia, telah melakukan hubungan seksual bahkan sebelum menginjak usia 15 tahun.

“Angka ini sangat meresahkan. Anak wanita yang melakukan hubungan seksual pranikah di bawah usia 15 tahun ada 4,8 persen. Sementara yang melakukan di bawah 19 tahun ada 41 persen,” kata Julianto saat berbincang dengan KlikDokter.

1 dari 4 halaman

Usia belum matang

Menurut Julianto, remaja saat ini seakan menutup mata terhadap bahaya dari berhubungan seksual sebelum waktunya. Padahal, saat melakukan hal tersebut, ada kemungkinan remaja wanita akan mengalami kehamilan. Jika hal itu terjadi, banyak sekali dampak buruk yang mungkin akan terjadi.

Pasalnya, hal buruk yang akan terjadi bukan sebatas ketidaksiapan dari segi mental dan keahlian hidup untuk menjadi orang tua. Faktanya, dari sisi reproduksi pun, remaja belum cukup memadai untuk mengalami kehamilan dan melahirkan di usia tersebut.

“Nah, itu kan nantinya akan berujung dengan kematian ibu hamil di usia remaja. Ada juga nanti yang lakukan aborsi, terjadi infeksi, bahkan kemungkinan anak yang akan lahir tak berkualitas,” urainya.

2 dari 4 halaman

Peran penting orang tua

Julianto menekankan pentingnya peran aktif orang tua, untuk mencegah terjadinya risiko di atas. Peran orang tua sangat penting untuk mengarahkan para remaja agar tidak salah jalan.

Orang tua diharapkan dapat melakukan pendekatan yang sesuai dan membuat remaja mengerti bahwa semua hal ada waktunya. Kebanyakan remaja memang membutuhkan seorang figur sebagai panutan, dan orang tua adalah sebaik-baiknya orang yang dapat memerankannya.

“Selain itu, orang tua pun harus mencari tahu apa masalahnya, kenapa mereka melakukan demikian,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Deputi KB dan KR, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) itu.

3 dari 4 halaman

Risiko melahirkan di usia remaja

Mengutip situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan kehamilan di usia dini masih sangat rendah.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, hanya 35,3% remaja wanita dan 31,2% remaja pria usia 15–19 tahun mengetahui bahwa wanita dapat hamil dengan satu kali berhubungan seksual.

Survei yang sama pun menunjukkan bahwa angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada ibu usia 20–39 tahun.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid, kehamilan pada wanita berusia kurang dari 21 tahun sangat rentan mengalami komplikasi. Komplikasi bisa saja terjadi selama masa kehamilan maupun saat menjalani persalinan. Karena pada usia tersebut, rahim dan organ reproduksi lainnya belum siap untuk menjadi tempat janin bertumbuh.

Pada tingkat yang lebih parah, komplikasi ini dapat memicu kematian pada calon ibu muda tersebut. Di Indonesia, 48% kejadian kematian ibu (saat hamil dan melahirkan) disebabkan karena hamil di usia yang terlalu muda.

Bayi pun berisiko

Tak hanya berakibat buruk pada ibu, kehamilan di usia remaja juga membahayakan bayi, yakni berisiko tinggi untuk lahir prematur dan lahir dengan berat badan yang rendah. WHO juga mencatat bahwa 50% bayi yang lahir dari ibu remaja meninggal pada beberapa minggu pertama kelahirannya.

Tentunya masih ada masalah jangka panjang lainnya yang mungkin akan terjadi saat seseorang harus menjadi ibu ataupun ayah di usia yang terlalu muda. Untuk itu, selalu bekali pengetahuan pada remaja Anda bahwa saat ini belum waktunya mereka melakukan hal demikian.

Ajarkan pula bahaya apa saja yang mungkin terjadi jika mereka nekat. Tentunya dengan pendekatan yang sesuai dan senyaman mungkin, agar anak lebih mendengarkan apa yang Anda sampaikan. Dengan demikian, Anda akan turut mencegah meningkatnya angka kejadian seks pranikah pada remaja.

[RS/ RVS]

 

0 Komentar

Belum ada komentar