Sukses

Mengenal Sosok Achmad Sujudi

Sudah sepatutnya prinsip kewajiban sebelum hak, tertanam dalam pribadi seseorang. Ini adalah kisah nyata kesuksesan seorang dokter sederhana, yang menjadi besar karena menunaikan kewajiban-kewajibannya dengan sungguh-sungguh.

Seperti yang diajarkan sejak sekolah dasar, seseorang hendaknya mendahulukan kewajiban sebelum menuntut haknya. Namun, Indonesia kini tampak banyak melupakan prinsip tersebut. Dr. Achmad Sujudi, MHA., seorang pria sederhana yang lahir 11 April 1941 di kota kecil Bondowoso, kemudian hadir untuk mengembalikan prinsip tersebut.

Prinsip Utama Pesan Ayahanda

Achmad Sujudi dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana. Kedua orang tuanya bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat (SR) di Bondowoso. Ini membuat Achmad Sujudi tumbuh menjadi pribadi yang terpelajar, disiplin, dan sederhana. Gaya hidup kedua orangtuanya sangat memengaruhi perjalanan hidup Achmad Sujudi.

Prinsip yang selalu ditekankan oleh kedua orang tuanya adalah agar ia selalu mendahulukan kewajibannya. Achmad Sujudi percaya bahwa melakukan kewajiban dengan sungguh-sungguh, akan diikuti oleh hak-hak –seperti yang selalu dikatakan oleh sang ayah.Berbekal prinsip tersebut, Achmad Sujudi meraih banyak hal dalam hidupnya. Berkat melaksanakan kewajiban untuk belajar dengan giat, dia selalu berhasil masuk ke jenjang sekolah pilihan terbaik di daerahnya.

Kegigihannya tak berhenti sampai disitu. Prinsip mendahulukan kewajiban yang ia pegang teguh terus membawanya maju dalam hidup. Menjelang ujian akhir kelulusan SMA, sekolahnya mengadakan les tambahan gratis di luar jam sekolah. Achmad Sujudi sebagai murid, merasa harus menunaikan kewajibannya dengan belajar dengan keras, yang membuahkan hasil diterimanya ia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Berkarya dan bekerja untuk Indonesia

Lulus menjadi seorang dokter ternyata tidak serta merta memudahkan jalan hidup Achmad Sujudi. Ia bertugas di pulau Buru dengan niat menunaikan kewajiban sebagai dokter. Sepulangnya dari sana, ia diterima sebagai dokter di RS Persahabatan Jakarta pada tahun 1973, mengambil pendidikan ahli bedah, dan lulus pada tahun 1980.

Ibarat mutiara, diletakkan dimanapun akan tetap bercahaya. Achmad Sujudi menerima tugas untuk memimpin sebuah rumah sakit di Bengkulu, dan membawa banyak perubahan positif yang menuai berbagai pujian. Empat belas tahun dia melaksanakan kewajibannya di Bengkulu, rumah sakit tersebut kemudian dapat bersaing dengan rumah sakit swasta, begitu juga saat ia kemudian diminta untuk mempimpin RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta.

Jejak Achmad Sujudi di kementerian dimulai saat ia ditugaskan oleh Menteri Kesehatan kabinet Pak Habibie untuk melaksanakan Program Kontrasepsi Mantap. Tugas ini membawanya menjadi Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (1998-1999) hingga pada masa pemerintahan Gus Dur, ia diangkat menjadi Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (1999-2001). Ini adalah hak yang pantas ia dapatkan setelah menunaikan berbagai kewajibannya dengan sungguh-sungguh, sekaligus merupakan sebuah tugas dengan berbagai kewajiban baru yang harus ia emban. Prestasinya selama itu, membuatnya kembali dipercaya oleh Ibu Megawati untuk kembali memimpin Departemen Kesehatan dalam Kabinet Gotong Royong (2001-2004).

Perjalanan Achmad Sujudi ini, merupakan bukti nyata bahwa dengan mendahulukan kewajiban, hak-hak akan mengikuti kemudian. Sebuah kisah inspiratif bahwa dengan mendahulukan kewajiban, kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan melainkan sebuah proses menuju sukses.

(MFW/RH)

Baca juga: 

1. Dokter Pejuang di Era Kemerdekaan Indonesia:

2. Dokter Pejuang di Era Sekarang:

0 Komentar

Belum ada komentar