Sukses

Apa yang Terjadi Jika Seseorang Dihukum Kebiri?

Hukuman kebiri telah berlangsung sangat lama dalam sejarah manusia. Sebenarnya, bagaimana mekanisme dan prosedur medis kebiri?
Beberapa waktu belakangan kita diresahkan dengan meningkatnya angka kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak. Hukuman yang ringan mengakibatkan para pelaku tidak jera dan timbul pelaku-pelaku baru kejahatan ini. Korban kejahatan seksual anak tidak hanya meninggalkan cacat fisik bagi korban, namun juga meninggalkan trauma psikologis yang tidak akan pernah terobati seumur hidup.

Untuk menekan angka kejahatan seksual yang terus meningkat, maka pemerintah telah membuat peraturan mengenai hukuman kebiri bagi para pelaku kejahatan seksual, yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Apa Itu Kebiri?

Kebiri atau kastrasi merupakan tindakan yang bertujuan untuk menghilangkan libido (hasrat seksual) pada seseorang dengan cara pembedahan dan atau penggunaan bahan kimia. Alat kelamin merupakan organ utama yang dilakukan pengebirian.

Pada zaman dahulu kebiri dilakukan dengan cara pemotongan penis sehingga orang tersebut tidak dapat lagi melakukan penetrasi ke dalam vagina. Hal tersebut biasa dilakukan terhadap para pengawal kerajaan.

Selain itu, pemotongan penis juga lazim dilakukan pada saat peperangan, di mana pasukan yang kalah perang akan dipotong kemaluannya oleh pihak yang menang sebagai pertanda hilangnya “kejantanan” mereka.

Apa Saja Jenis-Jenis Kebiri?

Saat ini kebiri digunakan sebagai hukuman bagi para pelaku kejahatan seksual. Hukuman kebiri ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan pengangkatan testis dan juga secara kimiawi.

Pada metode pengangkatan testis, maka seseorang akan kehilangan testis sebagai organ utama penghasil hormon androgen. Androgen merupakan hormon yang berfungsi merangsang atau mengontrol perkembangan dan pemeliharaan karakteristik laki-laki. Hormon ini juga berfungsi untuk memasukkan kalsium ke dalam tulang serta mempertahankan massa otot pada pria, sehingga mencegah seseorang untuk terkena osteoporosis dan dapat membuat seseorang untuk selalu tampil maskulin.

Androgen yang paling dikenal ialah testosteron. Testosteron inilah yang dipercaya berfungsi memberikan stimulus pada otak untuk menimbulkan hasrat seksual pada seseorang. Pada pria yang kehilangan testisnya maka orang tersebut akan sangat kekurangan hormon testosteron, sehingga orang tersebut akan menurun atau bahkan kehilangan hasrat seksualnya. Cara pemotongan testis ini tidak lazim dilakukan, karena dianggap sangat tidak manusiawi. Untuk itu, kebiri kimiawi menjadi alernatif hukuman dalam usaha membuat para pelaku kejahatan jera.

Apa yang Dimaksud Kebiri Kimiawi?

Hukuman kebiri yang banyak dilakukan di beberapa negara saat ini ialah metode kebiri kimiawi. Kebiri kimiawi merupakan proses pengebirian tanpa harus membuang organ kelamin. Kebiri cara ini dilakukan dengan cara memasukkan zat yang disebut sebagai antiandrogen.

Antiandrogen atau penghambat androgen, merupakan hormon yang berfungsi menghambat kerja androgen. Akitbat pemberian hormon ini maka produksi hormon-hormon androgen, termasuk testosteron, akan dihambat produksinya. Dengan demikian, kadar testosteron yang rendah dalam tubuh akan mengurangi stimulus terhadap rangsangan seksual, dan menyebabkan kemampuan ereksi maupun hasrat seksual seseorang menurun ataupun hilang sama sekali. Antiandrogen dapat diberikan dalam bentuk suntikan maupun diminum.

Sebenarnya, antiandrogen lazim digunakan di dunia medis sebagai salah satu metode pengobatan untuk beberapa penyakit, seperti pada wanita yang sulit hamil akibat kadar androgen yang terlalu tinggi, dan pengobatan pada kanker prosat. Namun, dalam dosis tinggi hormon ini berfungsi sebagai zat yang dapat “membunuh”  libido seseorang. Meski demikian, pengaruh obat ini tidaklah selamanya karena dalam beberapa minggu hingga bulan efek antiandrogen ini akan hilang, dan orang tersebut akan kembali normal.

Namun apapun hukumannya, tetaplah tidak seimbang dibandingkan dengan apa yang telah dirasakan oleh keluarga maupun korban pemerkosaan. Trauma pasca-kekerasan seksual yang dirasakan oleh korban dan keluarga akan dirasakan seumur hidup. Tidak jarang korban kekerasan seksual merasa malu dengan keadaannya, sehingga dia akan menarik diri dari pergaulan dan lingkungan, kemudian anak akan berhenti sekolah dan enggan bersosialisasi sehingga masa depannya akan menjadi suram.

Walaupun belum terbukti menjadi solusi, hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual diharapkan mampu membuat para pelaku kejahatan seksual jera.

0 Komentar

Belum ada komentar