Sukses

Sindrom Munchausen, Pura-pura Sakit untuk Mendapat Perhatian

Pernahkah Anda melihat orang yang sering berpura-pura sakit untuk mencari perhatian? Bisa jadi itu merupakan sindrom munchausen, Ini penjelasannya.

Tentu setiap orang ingin selalu dikaruniai kesehatan dan tak ingin sakit. Tapi terkadang pada kondisi tertentu, seseorang bisa pura-pura sakit untuk mencari simpati. 

Anda sering melakukannya? Bisa jadi itu adalah tanda sindrom munchausen

Orang dengan Munchausen Syndrome sering kali menunjukkan tanda-tanda seperti:

  • Berbohong dengan berpura-pura sedang mengalami gejala tertentu. Bahkan, untuk meyakinkan gejala tersebut, ia menyakiti diri sendiri atau sengaja memanipulasi hasil pemeriksaan. Misalnya, mengontaminasi hasil urine.
  • Memberikan riwayat medis yang tidak konsisten atau berbeda-beda, terkadang didramatisasi.
  • Terjadi “kekambuhan” gejala berulang.
  • Gejala yang tidak jelas dan justru bertambah “parah” setelah diberikan terapi
  • Memiliki pengetahuan yang “luas” seputar terminologi atau kata-kata kedokteran dan dapat mendeskripsikan penyakit dengan detail.
  • Mempunyai keinginan kuat untuk menjalani prosedur medis atau tindakan lainnya.
  • Memiliki problem identitas dan kepercayaan diri.
  • Timbul gejala baru padahal pemeriksaan menunjukkan hasil negatif.
  • Gejala hanya timbul ketika pasien diperiksa.
  • Memiliki riwayat mencari “kesembuhan” di sejumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.
  • Pasien sering menolak dokter untuk menemui keluarga, teman, atau kerabat pasien.

Artikel lainnya: Suka Tebar Pesona dengan Rekan Kerja, Ini Kata Psikolog

1 dari 3 halaman

Apa Penyebab Sindrom Munchausen?

Sindrom munchausen merupakan kondisi yang kompleks dan sulit dipahami. Pengidap biasanya menolak diterapi secara psikologis. Penyebab sindrom munchausen belum diketahui hingga saat ini. 

Beberapa hal yang mungkin menjadi faktor risiko munculnya sindrom ini antara lain:

  • Trauma masa kecil berupa kekerasan emosional, fisik, ataupun seksual.
  • Penyakit serius saat kanak-kanak.
  • Anggota keluarga mengalami penyakit serius.
  • Kurang kepercayaan atau identitas diri.
  • Pada masa kanak-kanak kehilangan orang yang dicintai akibat suatu kejadian.
  • Tidak terpenuhinya keinginan menjadi dokter atau tenaga kesehatan.
  • Bekerja di bidang kesehatan.
  • Adanya kelainan kepribadian.

Apa Bahayanya?

Penderita sindrom munchausen berisiko mengalami masalah kesehatan bahkan kematian, karena pasien cenderung menyakiti diri sendiri dan melalui berbagai prosedur diagnostik atau tindakan medis. 

Selain itu, pengidap juga berisiko mengalami percobaan bunuh diri. 

Artikel lainnya: Sering Nyinyir di Media Sosial, Tanda Rendah Diri?

2 dari 3 halaman

Bagaimana Cara Mendiagnosis Sindrom Munchausen?

Mendiagnosis sindrom munchausen sering kali sulit karena pasien bersikap tidak jujur. Sebelum diagnosis ditegakkan, perlu disingkirkan dahulu penyebab gangguan mental atau fisik lainnya. 

Sangat sulit untuk mendiagnosis, bahkan mengobati sindrom ini. Pasalnya, orang-orang dengan sindrom munchausen umumnya tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan pengaruh gangguan mental. 

Ia ingin berperan sebagai orang sakit dan tampak mahir dalam membuat-buat kondisi dan penyakit yang berbeda-beda. Akibatnya, sulit bagi tenaga kesehatan untuk menduga adanya sindrom munchausen

Seseorang dengan sindrom ini terlihat sangat meyakinkan, serta memiliki kemampuan manipulasi dan mengeksploitasi dokter. 

Kondisi sindrom munchausen sebetulnya murni merupakan gangguan mental dan memerlukan penanganan psikiater. Penyebabnya pun perlu digali lebih dalam agar tidak berulang. 

Sindrom munchausen harus dibedakan dengan hipokondria maupun malingering. Pada hipokondria, seseorang mengalami rasa takut berlebihan terhadap penyakit dan menilai fungsi tubuh yang normal. Contohnya, berkeringat, rasa nyeri, dan kelainan yang sebenarnya ringan sebagai suatu penyakit yang berat.

Nah, itulah sekilas mengenai sindrom munchausen. Bila Anda ingin konsultasi seputar gangguan mental kepada dokter atau psikolog, pakai Live Chat dari KlikDokter.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar