Sukses

Kemenkes RI: Klorin di Pembalut Indonesia Tidak Berbahaya

Pihak Kementrian Kesehatan RI memberikan pernyataan yang menjelaskan mengenai pemberitaan pembalut berklorin. Berikut penjelasan selengkapnya di sini.

KlikDokter.com – Ramai tersebar di media massa mengenai pemberitaan pembalut yang mengandung klorin. Sebagaimana yang dilansir cnnindonesia.com, YLKI mengumumkan hasil penelitian pembalut yang memiliki kadar klorin dianggap berbahaya. Disebutkan sedikitnya 9 pembalut yang dianggap YLKI berbahaya.

Sandaran YLKI adalah regulasi FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) yang melarang penggunaan klorin  pada pembalut. "Klorin itu terdapat dalam dioksin yang bersifat karsinogenik. Menurut WHO, ada 52 juta berisiko terkena kanker serviks, salah satunya dipicu oleh zat-zat dalam pembalut," jelas Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, demikian yang terlansir dari CNN Indonesia 7 Juli 2015 lalu.

Namun pada kenyataannya temuan klorin pada pembalut di Indonesia tidak dianggap berisiko oleh Kementerian Kesehatan RI. Sebagaimana diungkapkan Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang yang terlansir pada Kompas.com, Selasa (7/7/2015) lalu, bahwa penggunaan klorin pembalut di Indonesia yang memiliki izin edar masih dalam batas aman.

"Yang tidak boleh itu mengandung dioxin dalam pembalut. Dioxin, dalam suhu panas bisa menguap, bisa masuk ke dalam tubuh," jelas Linda sebagaimana terkutip di Kompas. Pun lebih jauh Linda memastikan semua pembalut yang memiliki izin edar di Indonesia bebas dioksin dan aman digunakan.

Lalu benarkah pembalut berkimia berbahaya menyebabkan kanker? Penjelasan selengkapnya di halaman selanjutnya.

1 dari 2 halaman

Kemenkes RI: Klorin di Pembalut Indonesia Tidak Berbahaya

Pembalut Berkimia Berbahaya Pencetus Kanker Serviks? 

Dari pihak YLKI sempat menyampaikan bahwa terdapat potensi pencetus kanker dari zat kimiawi yang berbahaya pada pembalut.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, faktor penyebab kanker leher rahim adalah:

  • Ras
  • Pola aktivitas seks & reproduksi
  • Merokok
  • Penggunaan kontrasepsi pil selama 5 tahun atau lebih
  • Kondisi penurunan kekebalan tubuh
  • Infeksi HPV (human papiloma virus)

Lebih lanjut, belum ditemukan hubungan kuat dari bahan kimiawi berbahaya pada pembalut dan pencetus kanker serviks.

0 Komentar

Belum ada komentar