Kesehatan Umum

Hati-hati, Bahan Kimia Ini Bisa Picu Kegemukan

Ruri Nurulia, 08 Jul 2019

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Selain akibat kebanyakan makan, paparan beberapa bahan kimia juga diam-diam bisa memicu kegemukan.

Hati-hati, Bahan Kimia Ini Bisa Picu Kegemukan

Ternyata bukan cuma kombinasi kebanyakan makanan dan malas berolahraga, paparan beberapa bahan kimia juga bisa bikin berat badan naik. Kondisi ini makin lama akan memicu kegemukan. Lalu bagaimana bisa bahan kimia bikin gemuk?

Sebuah contoh bisa diambil dari sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Qi Sun, profesor di Harvard T. H. Chan School of Public Health, Amerika Serikat (AS) dan rekan. Studi tersebut dipublikasikan di jurnal “PLOS Medicine” tahun 2018. Hasilnya  menemukan bahwa orang dewasa yang gemuk dan obesitas dengan konsentrasi tinggi bahan kimia buatan PFASs dalam darah, setelah berat badannya turun bisa dengan cepat naik kembali.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyebut, PFASs bisa ditemukan di kemasan makanan, produk rumah tangga komersial, tempat kerja, air minum, hingga organisme hidup.

Bahan kimia lainnya yang juga memengaruhi berat badan

Bruce Blumberg, seorang profesor di departemen biologi perkembangan dan ilmu farmasi dari Universitas California Irivine, Amerika Serikat (AS), merupakan orang yang pertama kali menciptakan istilah “obesogen” tahun 2006.

Obesogen dipakai untuk mendeskripsikan zat tak kasatmata (tak terlihat) yang mendorong tubuh untuk menambah atau menahan lemak.

“Ada beberapa bahan kimia yang dapat mengubah cara kerja tubuh dalam menangani kalori,” kata Bruce seperti dikutip di MSN, yang penelitiannya telah menunjukkan bahwa paparan tunggal sejumlah kecil obesogen pada awal kehidupan bisa membuat tikus mengalami obesitas di kemudian hari.

Perbanyak konsumsi makanan whole food dan batasi produk kemasan

Entah target Anda adalah pola makan sehat ataupun mengurangi paparan bahan kimia, cara terbaiknya adalah dengan memperbanyak konsumsi makanan whole food.

Jenis makanan whole food yaitu makanan yang diproses seminimal mungkin. Selain itu juga tanpa pengawet, atau tanpa bahan tambahan lainnya. Langkah lain yang perlu Anda lakukan adalah membatasi pembelian produk kemasan.

Bruce menulis dalam bukunya “The Obesogen Effect” bahwa pemanis buatan, monosodium glutamate (MSG), dan bahan aditif lainnya seperti pewarna buatan adalah “obesogen nutrisi” yang harus dihindari jika Anda membeli makanan kemasan.

Menurut studi dalam jurnal “Cell Metabolism” yang baru-baru ini dipublikasikan, mereka yang banyak makan makanan ultra-proses (ultra-processed) mengonsumsi 500 kalori lebih banyak dibanding dengan konsumsi makanan yang diproses secara minimal.

Sebagai tambahan, studi metaanalisis menunjukkan bahwa penggunaan pemanis buatan dalam jangka panjang mungkin berhubungan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Namun, dugaan ini butuh penelitian lebih lanjut.

Berdasarkan penjelasan dari dr. Fiona Amalia, MPH, dari KlikDokter, yang membuat makanan ultra-proses tidak sehat bukan hanya kandungan gizinya yang dianggap berisiko, tetapi ada akibat dari kandungan kimianya.

“Ini berkaitan dengan perubahan fisik dan kimia yang terjadi akibat proses pengolahan tingkat tinggi, di luar tingginya kadar gula, garam dan lemak. Artinya, beberapa jenis makanan ultra-proses tidak akan lebih baik meski kandungan gizinya telah dimodifikasi menjadi lebih sehat,” katanya menjelaskan.

1 dari 1

Cermat pilih restoran

Tak hanya perlu mencermati beragam faktor yang dipaparkan di atas, Anda juga perlu berhati-hati ketika bosan makan di rumah lalu memilih untuk makan di luar. Pasalnya, beberapa restoran “menghidangkan” phthalates. Zat kimia pengganggu hormon ini sering ditemukan dalam wadah makanan dan minuman plastik, produk perawatan kecantikan, bahkan hingga makanan dan air.

Zat kimia ini mungkin juga termasuk obesogen. Sebagai bukti, studi di Jerman di jurnal “PLOS One” tahun 2015 menemukan, tikus dengan kadar phthalates tertentu dalam air minumnya mengalami kegemukan.

Riset dalam jurnal “Environmental International” menunjukkan, phthalates sering ditemukan dalam makan cepat saji dan kafetaria. Mereka yang paling banyak mengonsumsi makanan tersebut memiliki kadar phthalates 35 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berbelanja dan membuat makanannya sendiri. Jenis makanan yang paling dicurigai adalah burger dan sandwich.

Hindari membawa makanan pulang

Wadah bungkus makanan (misalnya wadah kertas hot dog, wadah kertas bakmi dari restoran Chinese food, atau wadah untuk makanan sisa yang dibawa pulang), juga bisa mengandung PFASs.

“PFASs anti minyak dan anti air dan digunakan secara luas dalam berbagai produk konsumen,” kata Dr. Sun.

Faktanya, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah melarang beberapa PFASs yang umum ditemukan di boks piza pada tahun 2016. Lapisan kantong popcorn microwave juga ‘antagonis’, yang kata Bruce semuanya dilapisi dengan bahan kimia.

Phthalates juga dapat ditemukan dalam wadah plastik, yang mana juga bisa mengandung BPA. BPA terutama ditemukan pada wadah plastik yang memiliki kode daur ulang nomor (recycle code) 7, yaitu polikarbonat atau PC.

“Jika masuk ke dalam tubuh dalam dosis besar, BPA bisa meningkatkan risiko kanker payudara, kanker prostat, dan penyakit jantung. Ketika Anda menggunakan wadah plastik BPA untuk menaruh makanan panas atau memanaskan makanan dengan microwave, komponen BPA tersebut bisa mengontaminasi makanan yang akan dikonsumsi,” jelas dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter.

Selain itu, dr. Karin juga mengatakan bahwa phthalates (dengan kode daur ulang 3 yaitu PVC) juga berbahaya.

“Kadarnya yang tinggi dalam tubuh bisa sebabkan gangguan hormon dan sistem reproduksi,” tegasnya.

Yang harus diperhatikan saat memilih dan mengolah makanan

Meski pada dasarnya semua sayur dan buah bergizi baik itu ditanam dengan cara organik atau konvensional, maupun beku atau dikalengkan, tetapi tidak semua produksi bebas obesogen. Sehingga, beberapa ahli merekomendasikan Anda untuk memilih produk organik jika memungkinkan.

Mengingat banyak pestisida bisa menganggu endokrin yang bisa mengganggu hormon, bahan dalam pestisida juga mungkin berkontribusi dalam kenaikan berat badan.

Karenanya, penting juga mengetahui apa saja sumber makanan yang diketahui menyimpan paling banyak residu pestisida. Berdasarkan laporan “Dirty Dozen” tahun 2019 dari Environment Working Group, waspadai: stroberi, bayam, kale, nectarine, apel, anggur, peach, pir, ceri, tomat, kentang, dan seledri.

Selain itu, Anda juga disarankan untuk tidak memasak makanan di peralatan antilengket, yang mungkin terkontaminasi bahan kimia perfluorinated (PFC). Baiknya memang alat masak berbahan besi (cast-iron).

Jadi bukan hanya kebanyakan makan dan pola makan tak sehat, ada beberapa bahan kimia yang diduga kuat bisa memicu kegemukan. Untuk mencegahnya, upayakan hanya mengonsumsi makanan segar, pilih yang organik jika mungkin, selalu mencuci bersih makanan yang dikonsumsi, membatasi produk kemasan dan makanan ulta-proses, sebaiknya tidak mengonsumsi makanan yang dibungkus kemasan baik plastik maupun kertas, serta selalu membaca label di kemasan  untuk berjaga-jaga jika ada bahan yang berbahaya.

(RN/ RVS)

Bahan kimia
kegemukan
Gangguan hormon
Pestisida
Makanan Organik
Kenaikan Berat Badan
Berat Badan Naik
Makanan Ultra-proses