Covid-19

Fakta Soal Virus NeoCoV, Diduga Lebih Berbahaya

Aditya Prasanda, 04 Feb 2022

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

NeoCoV diduga jauh lebih menular dibanding virus COVID-19 dan lebih mematikan ketimbang virus MERS. Berikut 4 fakta virus NeoCoV yang perlu Anda tahu!

Fakta Soal Virus NeoCoV, Diduga Lebih Berbahaya

Ilmuwan dari Wuhan, Tiongkok, belum lama ini menemukan varian COVID terbaru bernama NeoCoV.

Jenis ini diduga lebih mematikan dan menular dibandingkan strain virus corona lainnya. Virus NeoCoV pertama kali ditemukan menyebar di antara kelelawar di Afrika Selatan.

Meski penularannya masih sebatas dari hewan ke hewan, ilmuwan memperingatkan mutasi NeoCoV selanjutnya bukan tidak mungkin meningkatkan kemampuan infeksi virus tersebut, sehingga dapat pula mengancam manusia.

Berikut sejumlah fakta yang perlu Anda ketahui seputar NeoCoV:

1 dari 4

1. Cirinya Serupa MERS-CoV dan SARS-CoV-2

Studi soal temuan virus NeoCov dimuat melalui BioRXiv pada Januari 2022. Riset tersebut belum ditinjau oleh sejawat.

Peneliti menemukan, virus NeoCoV memiliki karakteristik serupa SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Ciri NeoCoV juga mirip MERS-CoV, yaitu virus corona yang menyebabkan penyakit saluran pernapasan Middle East Respiratory Syndrome alias MERS.

Artikel Lainnya: Peralatan yang Harus Dimiliki Pasien Covid-19 saat Isolasi Mandiri

2 dari 4

2. Berisiko Menginfeksi Manusia

Hingga saat ini, ilmuwan mengungkapkan virus NeoCoV belum bisa menginfeksi manusia. Penularannya juga masih sebatas antara kelelawar di selatan Afrika.

Meski begitu, menilik karakteristik NeoCoV yang mirip SARS-CoV-2 maupun MERS-CoV, peneliti menduga NeoCoV juga berpeluang menginfeksi manusia di kemudian hari.

Kondisi tersebut terjadi ketika virus NeoCoV bermutasi, sehingga memungkinkan terjadinya zoonosis (penularan dari hewan ke manusia). Kemudian, dilanjutkan dengan penularan antarmanusia.

Skema serupa juga dilakoni oleh SARS-CoV-2 maupun MERS-CoV. Kedua jenis coronavirus tersebut sebelumnya menyebar antarhewan, hingga akhirnya menginfeksi dan menular di antara manusia.

Meski begitu, ilmuwan tidak dapat memastikan kapan NeoCoV bermutasi dan menginfeksi manusia.

Pihak WHO pun mengungkapkan dibutuhkan penelitian lanjutan guna mengetahui risiko yang ditimbulkan NeoCoV bagi manusia.

3 dari 4

3. Mekanisme Infeksi NeoCoV Serupa SARS-CoV-2

Peneliti menemukan, mekanisme infeksi NeoCoV pada kelelawar serupa dengan SARS-CoV-2.

“Virus NeoCoV dan kerabat dekatnya, PDF-2180-CoV dapat menginfeksi inang (dalam hal ini kelelawar) dengan mengikat beberapa jenis Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2),” jelas peneliti.

Sederhananya, ACE2 merupakan enzim yang menempel pada permukaan luar beberapa sel organ. Enzim ini juga ditemukan pada sel organ tubuh manusia dan berperan sebagai pintu masuk coronavirus.

Untuk masuk ke sel inang, NeoCoV juga menggunakan spike protein layaknya COVID-19 Karena mekanisme tersebut, peluang NeoCoV dalam menginfeksi manusia di kemudian hari semakin besar.

Artikel Lainnya: Tips Memilih Sabun untuk Bersihkan Tubuh Saat Pandemi

4 dari 4

4. Vaksin COVID-19 Diklaim Tidak Mempan Hadapi NeoCoV

Vaksin COVID-19 yang ada saat ini menurut para peneliti tidak dapat melindungi manusia dari bahaya infeksi NeoCoV di kemudian hari.

Pasalnya, infeksi NeoCov tidak dapat dinetralisir oleh antibodi yang dibangun vaksin dan menargetkan virus SARS-CoV-2.

Peneliti menambahkan, vaksin untuk mengatasi MERS juga tidak mempan melawan virus NeoCoV. Karena itu, hasil riset sejauh ini menyimpulkan NeoCoV memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dibanding strain virus COVID-19 saat ini. 

Infeksi NeoCoV diduga pula menyebabkan tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan MERS-CoV.

Itu dia serba-serbi NeoCoV. Tetap patuhi protokol kesehatan dan dapatkan vaksinasi demi menghindari infeksi virus corona.

Jika ingin tanya lebih lanjut seputar COVID-19, konsultasi dengan dokter lebih praktis lewat LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

Referensi:

  • Deseret News, UAE. Diakses 2022. What is NeoCoV? This mysterious virus is spreading (again) among bats in South Africa.
  • BioRXiv. Diakses 2022. Close relatives of MERS-CoV in bats use ACE2 as their functional receptors.
NeoCoV
infeksi virus
mutasi virus corona