Kesehatan Anak

8 Gangguan Tidur yang Bisa Menyerang Anak

dr. Muhammad Isman S, 11 Nov 2022

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Waktu tidur yang cukup sangat penting bagi anak. Karena itu, waspadai berbagai gangguan tidur yang bisa menyerang anak berikut ini.

8 Gangguan Tidur yang Bisa Menyerang Anak

Tidur cukup sangat penting untuk anak-anak. Selain untuk mengembalikan energi, tidur juga merupakan waktu ketika mereka merekam semua hal yang dipelajari di hari itu.

Berdasarkan berbagai penelitian, anak yang secara teratur memiliki waktu tidur cukup akan memiliki kemampuan perhatian, belajar, ingatan, sikap, fisik, dan mental yang baik. 

Kebutuhan tidur anak semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Anak usia di bawah 1 tahun membutuhkan waktu tidur 12-16 jam per hari. Usia 2 tahun membutuhkan 11-14 jam, dan usia 3-5 tahun membutuhkan 10-13 jam per hari.

Gangguan tidur pada anak dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti hipertensi, obesitas, dan depresi. Oleh karena itu, Mama dan Papa tidak boleh mengabaikan bila anak susah tidur.

Berikut jenis-jenis gangguan tidur yang dapat terjadi pada anak:

1. Night Waking

Wajar atau Tidak Balita Sering Berpindah Posisi Saat Tidur?

Night waking didefinisikan sebagai bangun dan menangis satu kali atau lebih, antara tengah malam hingga jam 05.00 pagi. 

Night waking terjadi paling sedikit 4 malam dalam seminggu, dan dalam 4 minggu dalam sebulan. Kira-kira 25 persen gangguan tidur pada anak ini terjadi pada bayi antara umur 6 bulan dan 12 bulan.

Ada beberapa hal yang bisa orangtua lakukan untuk mencegah night waking yang sering. Misalnya, hindari aktivitas yang intens pada anak saat mendekati waktu tidur. Aktivitas berat menjelang tidur akan membuat anak sulit mengantuk. 

Buatlah suasana lebih tenang ketika memasuki waktu tidur. Selain itu, pastikan anak memiliki tempat tidur dan suasana kamar yang nyaman sehingga dapat tidur nyenyak.

Artikel lainnya: Wajar atau Tidak Balita Sering Berpindah Posisi Saat Tidur?

2. Night Terrors (Pavor Nocturn)

Night terrors umumnya terjadi pada anak berumur 18 bulan hingga 5 tahun. Night terrors adalah kondisi anak yang sedang tidur lalu tiba-tiba duduk, berteriak, tampak bingung, disorientasi, mata terbelalak, dan terlihat sangat ketakutan.

Walaupun tampak sudah terbangun, tetapi anak tidak mengenal orangtuanya atau orang lain. Kondisi ini hanya berlangsung beberapa menit, kemudian anak tidur kembali. Namun, kondisi ini juga dapat berlangsung lama.

Karena gangguan tidur pada anak ini bukan mimpi, maka keesokan harinya anak tidak akan mengingat kejadian yang ia alami tersebut. Peristiwa ini biasanya terjadi pada anak yang sakit, stres, dan kurang tidur, tapi dapat juga terjadi tanpa faktor yang jelas.

Sayangnya, tidak ada treatment khusus yang dapat diberikan kepada anak yang biasa mengalami night terrors

Tips yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasinya adalah jangan berusaha membangunkan anak yang sedang mengalami night terrors. Hal itu hanya akan membuat anak kebingungan dan semakin ketakutan. 

Karena kondisi ini biasanya muncul akibat anak stres, maka cobalah cari tahu masalah apa yang sedang dihadapi anak. Pastikan ia bisa melepaskan semua yang menjadi beban pikiran.

3. Somnambulism (Tidur Berjalan)

Somnambulism atau sleep walking sering terjadi pada anak besar atau remaja, antara umur 5 dan 7 tahun. Gangguan tidur pada anak ini sering dipengaruhi oleh riwayat keluarga dengan gangguan serupa. 

Pada kondisi somnambulism, anak terbangun dari tempat tidurnya, lalu berjalan, naik tangga, atau ke kamar mandi dengan mata terbuka. Bahkan, anak bisa sampai keluar rumah yang dapat membahayakan hidupnya.

Saat anak mengalami kondisi ini, ia tidak dapat menjawab pertanyaan. Umumnya, kondisi ini berlangsung sebentar, hanya beberapa menit, kemudian anak tertidur kembali.

Jenis gangguan tidur ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan ketika orangtua bisa memastikan kondisi kamar anak tidak ada benda-benda yang berbahaya. 

Jika mendapati anak sedang sleepwalking, jangan dibangunkan karena akan membuat anak ketakutan. Lebih baik, arahkan anak ke tempat tidur atau ruangan yang lebih aman. 

Pastikan seluruh jendela dan pintu kamar anak telah terkunci untuk mencegahnya keluar kamar saat tidur berjalan. Jika frekuensi somnambulism sudah sangat sering, sebaiknya hubungi dokter untuk mendiskusikannya.

Artikel lainnya: Cara agar Anak Tidur Tepat Waktu

4. Nightmares (Mimpi Buruk)

Bunda, Ini Tips agar Anak Mau Tidur Siang (Ucchie79/Shutterstock)

Nightmare paling sering terjadi pada anak berumur 4-6 tahun, walaupun penelitian membuktikan beberapa anak berumur 6-12 tahun masih dapat mengalami mimpi buruk. 

Ketika kondisi ini terjadi, anak akan terbangun sepenuhnya dan tampak ketakutan. Hal ini biasanya dapat membuat anak selalu teringat isi mimpi buruknya tersebut, namun dapat ditenangkan oleh orangtua. 

Seperti night terrorsnightmare mudah timbul bila ada faktor stres. Selain itu, beberapa faktor yang dapat menyebabkan mimpi buruk, di antaranya:

  • Mengonsumsi cokelat, keju, dan minuman bersoda pada malam hari 
  • Menonton program televisi tertentu
  • Masa inkubasi penyakit
  • Rasa khawatir akan sesuatu

Sikap Mama dan Papa sebaiknya menenangkan dan mendampingi anak. Yakinkan bahwa hal itu hanyalah sebuah mimpi dan bukan kejadian yang sebenarnya. 

Bila kejadian ini berulang secara teratur, perlu diketahui latar belakangnya dan bila perlu konsultasikan ke psikolog.

5. Sleep Refusal (Bedtime Struggles)

Sleep refusal adalah kondisi menolak tidur dengan cara menarik perhatian orangtua, misalnya meminta sesuatu berulang-ulang. Hal yang diminta bisa berupa minuman, pergi ke toilet, ataupun makanan.

Pada umumnya, gangguan tidur pada anak ini dapat ditangani dengan menciptakan good sleep hygiene, yaitu lingkungan tenang dan cukup gelap dengan suhu yang nyaman. 

Selain itu, sleep refusal dapat juga ditangani dengan menciptakan waktu tidur yang rutin, menempatkan anak di tempat tidur sebelum jam tidur, dan tidak mendapat paparan menakutkan atau aktivitas yang berlebihan satu jam sebelum anak tertidur. 

Cara-cara tersebut sebaiknya dimulai sedini mungkin agar dapat menjadi suatu tindakan pencegahan yang merupakan penanganan utama dari gangguan tidur pada anak.

Artikel lainnya: Bunda, Ini Tips agar Anak Mau Tidur Siang

6. Sleep Paralysis (Kelumpuhan Waktu Tidur)

Sleep paralysis biasa terjadi pada anak yang lebih besar atau remaja. Kondisi ini terjadi pada waktu anak baru saja tertidur, lalu mendadak kondisi badan, tangan, dan kaki anak tidak dapat bergerak. 

Sleep paralysis biasanya hanya berlangsung beberapa detik, dan berakhir spontan atau segera berakhir bila orang yang mengalaminya disentuh. Hampir semua orang pernah mengalami keadaan ini, hingga dikenal dengan istilah “ketindihan”.

Penyebab sleep paralysis adalah masih aktifnya sebagian otak, tapi sebagian otak lainnya telah beristirahat. Hal itu membuat perintah yang dibuat di otak tidak diproses dengan baik, sehingga membuat tubuh seakan tidak dapat bergerak.

Kondisi ini tidak memiliki treatment khusus. Orangtua hanya perlu memastikan anak memiliki waktu tidur cukup, membantu anak melepaskan stresnya, dan cobalah mengganti-ganti posisi tidur anak.

7. Nocturnal Myoclonus

Cara agar Anak Tidur Tepat Waktu

Nocturnal myoclonus adalah serangan mioklonus atau mioklonik yang terjadi pada anak yang baru saja tertidur. 

Gangguan tidur pada anak ini merupakan bentuk fisiologik mioklonus, yang mana salah satu bagian tubuh mengalami gerakan otot yang tidak terkendali secara cepat. Sendawa adalah contoh mioklonus ini. 

Masih belum diketahui penyebab dari jenis gangguan tidur ini. Hanya saja, stres dan aktivitas anak yang melelahkan menjelang tidur bisa menjadi penyebabnya. 

Orangtua tidak perlu khawatir jika anak mengalami nocturnal myoclonus, karena kondisi ini bukanlah masalah berbahaya.

Untuk mencegah munculnya gangguan tidur pada anak ini, atur waktu tidur anak secara konsisten, hindari aktivitas berlebih sebelum tidur, dan kurangi stres pada anak.

Artikel lainnya: Tidur Bisa Meningkatkan Kecerdasan Anak? Ini Faktanya

8. Bed Wetting (Mengompol)

Mengompol biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur malam dan dapat menyebabkan anak bangun mendadak. Hal ini termasuk salah satu jenis gangguan tidur pada anak. 

Kondisi tersebut berhubungan dengan anak yang masih kesulitan mengontrol fungsi kandung kemih pada malam hari. Kemampuan kontrol itu biasanya dicapai pada umur 3 tahun.

Pada umur 6 bulan, rata-rata anak mengompol setiap dua jam. Pada kondisi seperti ini, popok sekali pakai yang berkualitas memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kualitas tidur bayi sepanjang malam.

Untuk mengatasi kondisi ini, Mama dan Papa bisa mulai dengan memberikan reward kepada anak ketika ia tidak pipis saat tidur. Hindari menghukum anak ketika masih ngompol. 

Selanjutnya, pastikan anak buang air kecil dan hindari konsumsi minuman sebelum tidur.

Orangtua juga perlu mampu membedakan antara anak dengan waktu tidur yang singkat (short sleeper) dan anak yang kurang tidur. 

Pasalnya, kurang tidur dapat menyebabkan anak tampak mengantuk, yang nantinya akan memengaruhi aspek kognitif, akademik, dan perilaku selama siang hari. 

Bila gangguan tidur pada anak berlanjut atau memengaruhi aktivitas pada siang hari, ada baiknya segera berkonsultasi kepada dokter. Pakai fitur Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter untuk konsultasi dokter anak lebih cepat.

(FR/JKT)

Gangguan Tidur