Kesehatan Anak

Baru Menginjak Umur 7 Tahun, Sudah Berjuang Melawan Leukemia

Klikdokter, 22 Apr 2026

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Kisah anak 7 tahun yang harus menjalani 108 kali kemoterapi akibat leukemia menjadi pengingat pentingnya deteksi dini. Kenali penyebab, gejala, dan langkah penanganannya sebelum terlambat.

Baru Menginjak Umur 7 Tahun, Sudah Berjuang Melawan Leukemia

Kisah seorang anak 7 tahun asal Bogor yang harus menjalani hingga 108 kali kemoterapi menjadi peringatan serius bagi kita semua. Kasus ini bukan sekadar cerita individu, melainkan gambaran nyata bagaimana leukemia dapat berkembang menjadi kondisi berat jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal.

Leukemia adalah jenis kanker yang menyerang sumsum tulang dan sel darah. Secara biologis, penyakit ini terjadi ketika sel darah putih abnormal berkembang tidak terkendali dan menggantikan sel darah sehat. Dampaknya sangat sistemik: tubuh kehilangan kemampuan melawan infeksi, mengangkut oksigen, hingga menghentikan perdarahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengancam nyawa.

Yang sering tidak disadari, leukemia bukan penyakit langka. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak, dan sering berkembang secara “diam-diam” tanpa gejala khas di tahap awal. Inilah yang membuat banyak kasus baru terdiagnosis ketika sudah memasuki fase lanjut.

Insight penting: keterlambatan diagnosis sering kali bukan karena penyakitnya sulit dikenali, tetapi karena gejalanya dianggap sepele.

Penyebab Leukemia dan Gejala yang Harus Diperhatikan

Secara ilmiah, leukemia terjadi akibat mutasi DNA pada sel darah. Mutasi ini menyebabkan sel kehilangan kontrol pertumbuhan dan terus berkembang secara abnormal. Namun, pemicu mutasi ini tidak selalu jelas.

Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko leukemia antara lain:

  • Paparan bahan kimia berbahaya seperti benzena
  • Paparan radiasi tingkat tinggi
  • Riwayat kemoterapi atau terapi kanker sebelumnya
  • Kebiasaan merokok
  • Faktor genetik tertentu

Namun penting untuk dipahami, tidak semua penderita memiliki faktor risiko tersebut. Artinya, leukemia juga bisa terjadi pada individu yang tampak sehat tanpa riwayat paparan berbahaya.

Dari sisi gejala, leukemia sering muncul dengan tanda yang tidak spesifik, seperti:

  • Mudah lelah dan tampak pucat
  • Demam atau infeksi yang sering kambuh
  • Mudah memar atau mimisan
  • Nyeri tulang atau sendi
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

Secara logis, gejala-gejala ini sangat mudah disalahartikan sebagai kondisi ringan seperti kelelahan atau infeksi biasa. Di sinilah letak masalah utama: persepsi yang salah menyebabkan keterlambatan diagnosis.

Baca Artikel Lainnya: Leukemia seperti Dialami Anak Denada. Apa Penyebabnya?

Tindakan saat Mengalami Gejala Mencurigakan

Banyak pasien menunda pemeriksaan karena merasa gejalanya tidak serius. Padahal dalam konteks leukemia, waktu adalah faktor krusial.

Jika mengalami gejala leukemia yang mencurigakan dan berlangsung terus-menerus, langkah yang sebaiknya dilakukan adalah:

  • Berkonsultasi dengan dokter
  • Melakukan pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count/CBC)
  • Melanjutkan pemeriksaan lanjutan jika diperlukan

Secara medis, tes darah sederhana sudah dapat memberikan indikasi awal adanya kelainan pada sel darah. Jika ditemukan ketidakwajaran, pemeriksaan lanjutan seperti analisis sel darah atau biopsi sumsum tulang dapat dilakukan.

Baca Artikel Serupa: Kenali Gejala Leukemia yang Dialami Shakira Aurum Anak Denada

Deteksi Dini Leukemia: Kunci Penyelamatan

Leukemia, terutama tipe akut, dapat berkembang sangat cepat. Tanpa deteksi dini, kondisi pasien bisa memburuk dalam hitungan minggu hingga bulan.

Metode deteksi yang umum dilakukan meliputi:

  • Tes darah lengkap
  • Pemeriksaan morfologi sel darah
  • Biopsi sumsum tulang

Berbeda dengan beberapa jenis kanker lain, leukemia tidak memiliki metode skrining rutin. Oleh karena itu, kesadaran individu terhadap perubahan kondisi tubuh menjadi sangat penting.

Kasus anak ini menunjukkan bahwa leukemia bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan kesadaran. Banyak kasus menjadi berat bukan karena tidak bisa diobati, melainkan karena terlambat dikenali.

Pada akhirnya, kunci utama dalam menghadapi leukemia bukan hanya terapi, tetapi keputusan untuk bertindak lebih cepat saat tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa.

Dalam konteks ini, konsultasi dengan layanan onkologi seperti ONEONCO dapat membantu mempercepat proses evaluasi dan memastikan penanganan yang lebih tepat sejak awal.

Baca Artikel Terkait: Tips Mencegah Leukemia pada Anak

 

Apa Bisa Kita Mengurangi Risiko Leukemia?

Tidak semua kasus leukemia dapat dicegah, terutama yang berkaitan dengan faktor genetik. Namun, pendekatan berbasis risiko menunjukkan bahwa beberapa langkah dapat membantu menurunkan kemungkinan terjadinya penyakit ini.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menghindari kebiasaan merokok
  • Mengurangi paparan bahan kimia berbahaya
  • Menggunakan alat pelindung diri di lingkungan kerja berisiko
  • Menjaga kesehatan tubuh secara umum

Penting untuk meluruskan persepsi bahwa leukemia sepenuhnya tidak dapat dicegah. Meskipun tidak bisa dieliminasi, risiko tetap dapat diminimalkan melalui gaya hidup dan lingkungan yang lebih sehat.

Mayo Clinic. Leukemia. Diakses pada 23 Maret 2026. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/leukemia/symptoms-causes/syc-20374373

Cleveland Clinic. Leukemia. Diakses pada 23 Maret 2026. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4365-leukemia

Medical NewsToday. What to know about leukemia. Diakses pada 23 Maret 2026. https://www.medicalnewstoday.com/articles/142595

YaleMedicine. Diagnosing Leukemia. Diakses pada 23 Maret 2026. https://www.yalemedicine.org/conditions/leukemia-diagnosis