Kesehatan Anak

4 Penyakit yang Masih Mengintai Anak Kita, dan Mengapa Vaksin Menjadi Kebutuhan

dr. Steven Alviano Yuwono, 29 Jun 2026

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

Banyak orang tua mengira difteri, pertusis, tetanus, dan polio sudah hilang ditelan sejarah. Faktanya, penyakit-penyakit ini masih mengintai dan bisa memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) jika kita menunda

4 Penyakit yang Masih Mengintai Anak Kita, dan Mengapa Vaksin Menjadi Kebutuhan

Empat penyakit yang mungkin cukup asing bagi orang tua muda zaman sekarangNamun di sisi lain, kalau penyakit tersebut tidak pernah kita lihat, kita mudah lupa bahwa ia masih ada. Kita mulai meremehkan. Kita mulai menunda vaksinasi. Dan satu anak yang tidak diimunisasi di satu wilayah yang cakupan vaksinnya rendah bisa menjadi awal masalah medis yang jauh lebih besar.


Difteri: Bukan sakit tenggorokan biasa

Difteri disebabkan oleh bakteriCorynebacterium diphtheriae. Yang membedakannya dari radang tenggorokan biasa adalah munculnya selaput abu-abu tebal yang terbentuk di dalam tenggorokan anak, bukan lendir, melainkan lapisan keras yang bisa menimbulkan sumbatan saluran napas. Anak tampak demam, suara serak, leher membengkak hingga terlihat seperti yang disebut "bull neck." Pada kasus yang sudah parah, racun bakteri ini menyebar ke jantung dan saraf, dan saat itu terjadi, penanganannya jauh lebih sulit.


Yang perlu diketahui orang tua, ini bukan penyakit yang hanya ada di buku sejarah kedokteran. Di Jawa Timur, kasus difteri pada anak terus ditemukan selama lebih dari satu dekade, dan mayoritas pasiennya adalah anak-anak dengan riwayat imunisasi tidak lengkap. Data dari Surabaya selama enam tahun (2017–2022) bahkan lebih spesifik: 67,8% kasus terjadi pada anak yang belum atau tidak tuntas divaksin, paling banyak di kelompok usia 5–12 tahun. Usia sekolah. Usia yang seharusnya sudah mendapatkan booster.


Baca Artikel Lainnya: Fakta Tentang Penyakit Difteri yang Perlu Anda Tahu


Pertusis: Batuk yang Tidak Seperti Batuk Biasa

Batuk rejan atau pertusis dijuluki "batuk seratus hari”. Awalnya mirip flu: pilek, demam ringan, tidak ada yang mencurigakan. Tapi setelah satu hingga dua minggu, karakteristik batuknya berubah. Beruntun, tanpa jeda, bahkan sampai anak dapat kesulitan untuk menarik napas. Lalu muncul suara melengking saat akhirnya berhasil menghirup udara itulah asal nama "whooping cough."


Yang paling berbahaya: pada bayi di bawah 6 bulan, suara melengking itu sering tidak muncul sama sekali. Mereka tidak batuk-batuk lalu "whoop" melainkan hanya tiba-tiba berhenti bernapas atau yang disebut dengan periode apnea, gejala yang relatif lebih minim inilah yang sering kali menjadi penyebab keterlambatan penanganan, karena banyak orang tua belum sempat menyadari ada yang salah.


Secara global, WHO melaporkan hampir satu juta kasus pertusis pada 2024, tepatnya 941.565 kasus. Kematian terbanyak terjadi pada bayi yang belum sempat mendapat vaksin lengkap. Pertusis bukan sekadar "batuk yang agak parah." Namun berpotensi mematikan, dan perlindungan terbaiknya melalui vaksinasi, bukan sekadar dengan obat-obatan di apotek.


Tetanus: Bukan dari Orang Lain, Tapi Tanah di Sekitar Kita

Tetanus berbeda dari tiga penyakit lainnya: ia tidak menular dari manusia ke manusia. Spora bakteriClostridium tetaniada di mana-mana, di tanah, debu, kotoran hewan, bahkan di permukaan paku berkarat. Ketika spora masuk ke luka, sekecil apa pun itu, toksin yang dilepaskan dapat menyerang sistem saraf. Otot rahang menjadi kaku dan terkunci ("trismus" atau lockjaw). Lalu leher, perut, punggung. Kejang bisa dipicu hanya oleh cahaya atau suara. Tubuh anak yang mestinya lentur jadi kaku seperti papan.


Pada bayi baru lahir dari ibu yang tidak divaksin dengan proses persalinan yang tidak steril, ini bisa berubah menjadi tetanus neonatal. Angka kematiannya mendekati 100% di daerah tanpa fasilitas ICU. Ini bukan angka yang dilebih-lebihkan. WHO masih mencatat sekitar 24.000 kematian tetanus neonatal per tahun hingga 2021. Pandemi COVID-19 sempat memperburuk situasi: kasus meningkat di 31% negara prioritas antara 2020–2022 karena program imunisasi rutin terganggu.


Baca Artikel Lainnnya: 8 Bahaya Komplikasi Penyakit Tetanus


Polio: Virus yang berdampak seumur hidup

Polio menakutkan bukan karena gejalanya selalu dramatis, justru sebaliknya. Sebanyak 95% infeksi polio tidak bergejala sama sekali. Anak terlihat sehat. Tapi virus sudah menyebar, sudah ada di lingkungan, dan anak lain yang tidak kebal bisa terkena. Sebagian dari mereka akan mengalami kelumpuhan permanen. Sebagian meninggal karena otot pernapasan ikut lumpuh.


Indonesia sudah pernah dinyatakan bebas polio pada 2014. Tapi pada Oktober 2022, seorang anak laki-laki 7 tahun dari Desa Mane, Aceh yang belum pernah menerima satu dosis pun vaksin polio, tiba-tiba tidak bisa berjalan.  Aceh dikaitkan dengan angka cakupan vaksin yang relatif rendah, banyak orang tua enggan atau bahkan tidak percaya vaksin. Hal ini di pengaruhi oleh berbagai factor mulai dari keyakinan/kepercayaan, alasan keagamaan, hingga berita simpang siur/misinformasi yang kemudian berdampak pada kesehatan anak.

Kasus tersebut kemudian membuka KLB (Kejadian Luar Biasa) yang dalam dua tahun menjalar ke Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku Utara, hingga tiga provinsi Papua. Hampir 60 juta dosis vaksin tambahan harus diberikan. WHO baru menyatakan KLB berakhir pada 19 November 2025, tiga tahun setelah satu anak yang tidak divaksin membuka celah penyebaran infeksi.


Baca Artikel Lainnya: Bisakah Orang Dewasa Mengalami Polio?


Vaksin DTaP-IPV: Satu Suntikan, Empat Perlindungan

Kabar baiknya: keempat penyakit ini bisa dicegah. Dan ada satu vaksin yang bekerja melawan semua sekaligus.


Vaksin DTaP-IPV, memberikan perlindungan terhadap difteri, tetanus, pertusis aselular, dan polio inaktif dalam satu suntikan. Diberikan sebagai booster (penguat) pada anak usia 4-13 tahun, idealnya usia 5 tahun, menjelang masuk sekolah, setelah seri imunisasi dasar di masa bayi selesai.


Kenapa perlu booster? Karena perlindungan dari imunisasi bayi memang melemah seiring waktu. Celah kekebalan itu terbuka persis ketika anak mulai banyak berinteraksi dan bersosialisasi di sekolah, di tempat les, di taman bermain. Namun demikian, ini bukan soal imunisasi yang "gagal." Ini tentang bagaimana sistem imun bekerja dan kapan ia perlu diingatkan kembali.


Soal efektivitas, efikasi vaksin terhadap pertusis klasik mencapai 85% dalam uji klinis. Soal keamanan, studi di Taiwan yang menganalisis 667.497 dosis menemukan efek samping yang dilaporkan hanya 8,8 per 100.000 dosis, paling umum berupa kemerahan dan bengkak ringan di bekas suntikan yang menghilang dalam 1–3 hari. Tidak ada yang perlu ditakutkan.


Sejak KLB polio 2022, Kemenkes juga mengakselerasi cakupan vaksin polio inaktif dan menginisiasi vaksin heksavalen: satu suntikan untuk enam penyakit sekaligus, termasuk polio. Ini langkah yang tepat arah, tapi keberhasilannya tetap bergantung pada satu hal, yaitu orang tua yang mau membawa anaknya untuk vaksin.


Yang Bisa Orang Tua Lakukan Sekarang

  1. Lengkapi imunisasi dasar sejak lahir: Imunisasi DPT, Hepatitis B, HiB dan polio ada di program nasional, pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Bisa juga didapatkan secara gratis di Puskesmas.
  2. Jangan lewatkan booster usia 18 bulan dan 5 tahun: ini yang paling sering terlupakan, padahal justru krusial.
  • Booster usia 18 bulan dengan DTP-HepB-HiB-Polio
  • Booter usia 5 tahun dengan DtaP-IPV
  1. Tanyakan DTaP-IPV ke dokter anak:Sebagai opsi booster DTaP-IPV bila anak belum mendapatkannya.
  2. Jangan tunda karena takut efek samping: Demam ringan atau nyeri bekas suntikan bukan tanda bahaya. Itu tanda tubuh sedang bekerja membentuk perlindungan diri.
  3. Ibu hamil perlu imunisasi Tdap: Ibu Hamil perlindungan imunisasi Tdap untuk melindungi bayi baru lahir dari Pertusis dan Tetanus.

Keempat penyakit ini terasa jauh karena vaksin sudah terbukti efektif bekerja menjaganya tetap jauh. Tapi anak di Aceh yang lumpuh pada 2022 mengingatkan kita bahwa jarak itu tidak permanen. Ia bisa menutup, cepat, kalau kita lengah.

Yang paling efektif yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah tidak memberi penyakit itu celah untuk kembali dengan melakukan vaksinasi.


Lindungi Buah Hati Anda Sekarang Juga

Jangan tunggu sampai penyakit berbahaya mengintai kesehatan anak Anda. Berikan perlindungan terbaik dan lengkapi jadwal imunisasi serta booster si kecil dengan mudah. Yuk, jadwalkan vaksinasi anak Anda melalui Vaccination Hub KlikDokter sekarang demi masa depan mereka yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit menular!

Eleven-Year Report of High Number of Diphtheria Cases in Children in East Java Province, Indonesia. doi:10.3390/tropicalmed9090204


Comparison of Diphtheria Cases in Children Before and During the Pandemic Era in Surabaya, Indonesia: A Study of Six-Year Data. doi:10.7759/cureus.66949

 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Pertussis in Other Countries — Global Pertussis Epidemiology. https://www.cdc.gov/pertussis/php/global/index.html


Centers for Disease Control and Prevention (CDC).Global Impact of Tetanus. https://www.cdc.gov/global-tetanus-vaccination/impact/index.html


World Health Organization.Tetanus — Fact Sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tetanus


CDC.Chapter 16: Tetanus. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. https://www.cdc.gov/surv-manual/php/table-of-contents/chapter-16-tetanus.html


World Health Organization Indonesia Polio Outbreak in Indonesia — Situation Reports 2022–2024. https://www.who.int/indonesia/emergencies/polio-outbreak-in-indonesia


Indonesia Umumkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio Berakhir. https://kemkes.go.id/id/indonesia-umumkan-kejadian-luar-biasa-klb-polio-berakhir


World Health Organization Indonesia.Indonesia Announces Closure of Polio Outbreak. https://www.who.int/indonesia/news/detail/21-11-2025-indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak


A combined DTaP-IPV vaccine (Tetraxim®/Tetravac®) used as school-entry booster: a review of more than 20 years of clinical and post-marketing experience. doi:10.1080/14760584.2022.2084076


A randomized double-blind trial comparing a two-component acellular to a whole-cell pertussis vaccine in Senegal. Doi: 10.1016/s0264-410x(97)00100-x


Adverse events following immunization with DTaP-IPV (Tetraxim) in school-aged children in Taiwan, 2017–2020. doi:10.1016/j.jvacx.2024.100581 

https://polioeradication.org/news/indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak/