Sukses

Diagnosis

Usus buntu dapat sulit terdiagnosis kecuali gejalanya khas—yang hanya muncul pada 50% kasus. Gejala usus buntu sering kali samar atau mirip dengan keluhan lain yang melibatkan organ pencernaan, saluran kemih, maupun organ reproduksi. Beratnya gejala juga tergantung dari posisi usus buntu yang dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Pemeriksaan yang umumnya dilakukan untuk mendiagnosis usus buntu adalah:

  • Pemeriksaan fisik perut
  • Pemeriksaan urine untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih
  • Pemeriksaan colok dubur
  • Pemeriksaan darah untuk melihat adanya infeksi
  • USG dan/atau CT scan untuk melihat apakah usus buntu membengkak
  • Tes kehamilan untuk wanita

Apabila diagnosis masih meragukan, ada kemungkinan dokter akan menganjurkan untuk menunggu dan melihat perubahan gejala dalam 24 jam.

Gejala

Keluhan khas usus buntu dimulai dengan rasa nyeri atau tidak nyaman pada bagian tengah perut (sekitar pusar) yang bersifat hilang timbul. Dalam 12 hingga 24 jam, nyeri ini berpindah dan akhirnya menetap di area perut kanan bawah, tempat usus buntu berada. Rasa nyeri bisa memburuk jika penderita batuk, berjalan, atau adanya penekanan pada area ini.

Berikut adalah gejala-gejala khas usus buntu:

  • Nyeri tumpul di area pusar atau perut bagian atas yang semakin ‘tajam’ dan konstan ketika berpindah ke area perut kanan bawah; biasanya ini merupakan gejala yang pertama kali timbul
  • Hilangnya nafsu makan
  • Mual dan/atau muntah segera setelah nyeri perut mulai terasa
  • Demam ringan hingga sedang (37.2-38.9 oC)
  • Sulit buang angin

Gejala lain yang dapat timbul adalah:

  • Nyeri tumpul atau tajam di area perut atas atau bawah, punggung, atau rektum
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Muntah sebelum nyeri perut muncul
  • Kram perut yang hebat
  • Diare atau konstipasi

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera cari pertolongan medis. Jangan makan, minum, atau menggunakan obat-obatan, yang mengakibatkan usus buntu yang meradang ini pecah.

Pengobatan

Penanganan utama untuk penyakit usus buntu adalah dengan prosedur operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko pecahnya usus buntu.

Apendektomi dilakukan di bawah bius total dengan cara operasi terbuka (laparatomi) dan laparoskopi. Namun, laparoskopi tidak dapat dilakukan apabila usus buntu sudah pecah atau muncul kantong kumpulan nanah (abses).

Jika usus buntu telah membentuk abses, akan dilakukan pengeluaran cairan dan nanah disertai pemberian antibiotik. Operasi baru dapat dilakukan beberapa minggu kemudian setelah infeksi teratasi.

Pemulihan pascaoperasi

Penyembuhan melalui laparoskopi akan lebih cepat dan lebih tidak menimbulkan nyeri pascaoperasi. Sebagian besar pasien dapat pulang dalam 24 jam.

Namun, bisa juga timbul nyeri pada tepi bahu selama kurang lebih satu minggu. Konstipasi juga dapat dialami. Untuk mengurangi keluhan ini, dianjurkan untuk konsumsi makanan berserat dan minum yang cukup.

Sedangkan pada laparatomi tanpa komplikasi, sebagian besar pasien dapat pulang setelah 48 jam.

Keluhan yang umumnya timbul pascaoperasi laparatomi adalah nyeri dan memar pada luka operasi. Keluhan ini akan membaik seiring dengan waktu. Obat antinyeri juga dapat digunakan bila perlu. Penyembuhan akan lebih lama bila usus buntu pecah dan menyebabkan peritonitis.

Penanganan di rumah

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat penyembuhan luka pascaoperasi:

  • Batasi aktivitas selama 3- 5 hari pasca laparoskopi atau 10- 14 hari pasca laparatomi. Selalu konsultasikan pada dokter yang merawat, mengenai aktivitas apa saja yang perlu dibatasi dan kapan dapat beraktivitas normal pascaoperasi. Aktivitas yang berat seperti olahraga yang intens atau fitness baru dapat dilakukan setelah 2- 4 minggu pascaoperasi.
  • Bila batuk, tertawa, atau bergerak, berikan penekanan pada perut (misalnya dengan menaruh bantal) agar rasa sakit berkurang.
  • Mulailah dengan aktivitas fisik yang ringan, misalnya dengan berjalan kaki. Kemudian tingkatkan secara bertahap ketika tubuh dirasa siap dan mampu.
  • Dalam masa penyembuhan pascaoperasi, pasien akan merasa lebih sering mengantuk dari biasanya. Karena itu, segera beristirahat ketika merasa lelah.
  • Segera hubungi dokter yang merawat bila obat-obat antinyeri tidak membantu. Rasa nyeri yang mengganggu akan membuat tubuh semakin ‘stres’ dan memperlambat proses penyembuhan.

Selama proses penyembuhan, dapat terjadi infeksi pada luka operasi. Untuk itu Anda harus segera menghubungi dokter. Berikut beberapa gejala yang bisa Anda kenali:

  • Rasa nyeri dan bengkak yang semakin bertambah pada luka operasi
  • Muntah berulang
  • Demam tinggi
  • Terdapat cairan atau nanah yang keluar dari luka operasi
  • Luka operasi terasa hangat atau panas pada perabaan

Penyebab

Penyakit ini terjadi ketika usus buntu tersumbat oleh tinja, benda asing, atau tumor. Infeksi juga dapat menyebabkan sumbatan usus buntu, sebab secara normal usus buntu akan membengkak sebagai respons dari adanya infeksi dalam tubuh.