Masalah Tulang

Skoliosis

dr. Arina Heidyana, 28 Nov 2022

Ditinjau Oleh

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung ke samping, baik di sisi kanan, kiri, atau keduanya. Ini penjelasan apa itu scoliosis.

Skoliosis

Skoliosis

Dokter spesialis

Spesialis orthopedi

Gejala

Bahu miring, pinggang tidak sejajar, pinggul tidak sama tinggi, tulang belikat menonjol

Faktor risiko

Usia remaja, perempuan, riwayat keluarga

Cara diagnosis

Pemeriksaan fisik, foto rontgen tulang belakang, CT-scan, MRI

Pengobatan

Observasi, orthosis, operasi

Obat

Obat antinyeri

Komplikasi

Kesulitan bernapas, nyeri punggung, penampilan

Kapan harus ke dokter?

Jika merasakan gejala skoliosis

Pengertian

Skoliosis adalah gangguan atau kelainan yang ditandai dengan kelengkungan abnormal pada tulang belakang.

Tulang belakang terdiri dari tumpukan blok bangunan berbentuk persegi panjang yang disebut vertebra. Pada kondisi normal, tulang belakang membentuk kurva dari bahu ke bawah serta terlihat lurus dari belakang.

Tulang hanya akan terlihat sedikit melengkung apabila dilihat dari arah samping. Nah, pada penderita skoliosis, tulang akan terlihat melengkung ke samping meskipun dilihat dari belakang.

Lengkungan ini biasanya membentuk huruf “C” atau “S”.

Terdapat tiga jenis skoliosis, yaitu:

  • Skoliosis Idiopatik

Skoliosis idiopatik berkembang pada awal masa remaja, atau sekitar usia 10 tahun. Penyebab skoliosis ini tidak diketahui. Semakin anak tumbuh, skoliosis bisa jadi semakin parah.

  • Skoliosis Kongenital

Pada skoliosis ini kelengkungan tulang belakang berkembang karena vertebra yang tidak berbentuk. Diagnosis skoliosis kongenital bisa lebih cepat ditegakkan saat awal masa bayi jika ada tanda-tanda skoliosis sejak lahir.

  • Skoliosis Neuromuskular

Orang-orang dengan kondisi seperti cerebral palsy, spina bifida dan distrofi otot, otot sering lemah dan tidak seimbang, dapat berisiko menderita skoliosis.

Artikel lainnya: Ragam Pengobatan dan Terapi untuk Skoliosis

Penyebab

Penyebab skoliosis dapat dibedakan sesuai dengan jenisnya, antara lain:

  • Skoliosis Idiopatik

Sampai saat ini, para ahli masih belum mengetahui apa penyebab skoliosis idiopatik secara pasti.

Itulah sebabnya, skoliosis sulit untuk dicegah. Namun, hampir 80 persen penderita skoliosis termasuk dalam kategori ini.

  • Skoliosis Kongenital

Penyebab skoliosis tipe ini karena proses pembentukan tulang belakang yang tidak sempurna/atau tumbuh normal sewaktu bayi masih dalam kandungan.

  • Skoliosis Degeneratif

Jenis skoliosis yang satu ini terjadi akibat kerusakan tulang belakang yang berlangsung secara perlahan-lahan.

Beberapa penyakit seperti Parkinson dan osteoporosis diduga turut memicu terjadinya skoliosis degeneratif.

Faktor Risiko

Berikut beberapa faktor risiko skoliosis:

  • Usia

Tanda dan gejala skoliosis paling sering mulai muncul pada saat remaja.

  • Jenis kelamin

Meskipun anak laki-laki dan perempuan mengalami skoliosis ringan pada tingkat yang hampir sama, anak perempuan memiliki risiko perburukan yang jauh lebih tinggi dan membutuhkan perawatan.

  • Riwayat keluarga

Penyakit skoliosis juga dapat diturunkan dalam keluarga.

Gejala

Kondisi skoliosis biasanya tidak disadari. Skoliosis baru disadari oleh orangtua ketika anak beranjak besar, yaitu terlihat bahu yang tidak sama tinggi atau pinggul yang tidak sama.

Pada keadaan ini, biasanya derajat pembengkokan kurva sudah lebih dari 30 derajat.

Selain itu, berikut ciri-ciri skoliosis yang bisa muncul:

  • Pinggang tidak sejajar
  • Kepala tidak berada sejajar dengan garis tengah tubuh
  • Penonjolan tulang belikat pada satu sisi
  • Saat berdiri tegak, lengan mengalami perbedaan tinggi
  • Kesulitan berdiri tegak
  • Beberapa penderita skoliosis mengeluhkan nyeri, kelemahan, dan mati rasa pada kaki

Artikel lainnya: Sering Nyeri Punggung? Waspada Risiko Skoliosis

Diagnosis

Diagnosis skoliosis dapat dilakukan lewat pemeriksaan fisik, yang meliputi area bahu, tulang belakang, tulang rusuk, dan pinggul. Tujuannya adalah untuk melihat adanya lengkungan abnormal atau tonjolan pada bagian tersebut.

Selain pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan untuk mendiagnosis skoliosis antara lain:

  • Sinar X dan rontgen

Penggunaan prosedur radiasi diperlukan untuk mendapatkan gambaran citra tulang belakang.

  • MRI

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakangelombang radio dan magnet untuk mendapatkan citra tulang belakang dan jaringan di sekitarnya.

  • CT scan

Proses pemeriksaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran kerangka tulang dalam bentuk 3 dimensi.

Pengobatan

Pengobatan skoliosis dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan lengkungan tulang belakang. Selain itu, dokter juga akan mempertimbangkan faktor usia dan jenis skoliosis.

Namun pada umumnya, penanganan dan pengobatan skoliosis yang dapat dilakukan adalah:

1. Observasi

Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu 25 derajat pada tulang yang masih tumbuh atau 50 derajat pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata-rata tulang berhenti tumbuh pada saat usia 19 tahun.

2. Orthosis

Ini merupakan penggunaan alat penyangga yang dikenal dengan nama brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah derajat pembengkokan sekitar 30-40 derajat, terdapat progresivitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat.

3. Operasi

Tidak semua skoliosis memerlukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada skoliosis adalah progresivitas peningkatan derajat pembengkokan 40-45 derajat pada anak yang sedang tumbuh.

Selain itu, terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis, dan pembengkokan 50 derajat pada orang dewasa.

Pencegahan

Sampai saat ini, sebagian besar kasus skoliosis tidak dapat dicegah. Sebagian besar kasus skoliosis (sekitar 80 persen) adalah idiopatik, yang artinya tidak diketahui penyebabnya. Karena itulah, tidak ada tindakan pencegahan yang dapat dilakukan.

Sama halnya dengan skoliosis yang muncul sejak lahir dan kelainan genetik. Hal tersebut juga tidak dapat dicegah.

Namun, ada satu jenis skoliosis yang terkadang dapat dicegah, yakni skoliosis dewasa yang disebabkan oleh osteoporosis.

Kondisi ini menyebabkan tulang menjadi lemah dan rapuh, yang dapat menyebabkan kelengkungan tulang belakang yang tidak normal.

Cara mencegah skoliosis karena osteoporosis adalah dengan nutrisi yang tepat dan olahraga yang teratur.

Konsumsilah makanan dan minuman yang kaya akan vitamin D dan kalsium, seperti susu, ikan, telur, dan produk olahan susu lainnya.

Artikel lainnya: Gejala dan Pengobatan Bayi dengan Skoliosis

Komplikasi

Penyakit skoliosis dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu:

  • Masalah jantung dan paru-paru

Pada kasus skoliosis yang parah atau tulang belakang yang melengkung lebih dari 70 derajat, penderitanya akan mengalami kesulitan bernapas.

Selain itu jantung juga akan mengalami kesulitan untuk memompa darah ke seluruh tubuh akibat tertekannya jantung dan paru-paru oleh rongga dada.

  • Masalah punggung

Biasanya nyeri punggung jangka panjang dan artritis banyak dikeluhkan oleh orang dewasa yang menderita skoliosis sewaktu kecil.

  • Penampilan

Saat skoliosis memburuk, hal itu dapat menyebabkan perubahan yang lebih nyata pada penampilan penderitanya.

Postur tubuh yang tidak normal akan terlihat, seperti pinggul dan bahu yang tidak rata, tulang rusuk yang menonjol, dan pergeseran pinggang ke samping.

Kapan Harus ke Dokter?

Lekas temui dokter jika kamu atau si kecil menderita sering sakit punggung, bahu atau pinggul yang tidak rata, atau gejala skoliosis lainnya yang telah disebutkan di atas.

Dokter akan melakukan pemeriksaan pada tulang belakang dan pemeriksaan penunjang juga dibutuhkan jika dicurigai skoliosis.

Yuk, manfaatkan Tanya Dokter online di aplikasi KlikDokter. Jangan tunggu sakit. #JagaSehatmu dari sekarang.

[HNS/NM]

  • Hopkinsmedicine.org. Diakses 2022. Scoliosis: Overview. (n.d). 
  • AANS.org. Diakses 2022. Scoliosis
  • Janicki, J. A., & Alman, B. Diakses 2022. Scoliosis: Review of diagnosis and treatment. Paediatrics & child health, 12(9), 771–776