Masalah Saraf dan Otak

Kelumpuhan

dr. Marsita Ayu Lestari, 01 Sep 2023

Ditinjau Oleh

Kelumpuhan terjadi saat seseorang kehilangan fungsi menggerakkan otot (motorik). Apa saja penyebab dan gejalanya? Bagaimana cara mengatasinya? Simak di sini.

Kelumpuhan

Kelumpuhan

Dokter Spesialis

Spesialis saraf, spesialis bedah saraf, spesialis kedokteran jiwa, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik

Gejala 

Mati rasa, kejang otot, tidak mampu menggerakkan otot

Faktor Risiko

Merokok, kegemukan, kurang terpapar dengan sinar matahari, pola diet yang kurang tepat

Diagnosis 

Wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang

Pengobatan 

Terapi obat, terapi fisik, terapi pekerjaan, psikoterapi, operasi, penggunaan alat bantu

Obat

Pelemas otot, obat pengencer darah

Komplikasi

Ulkus dekubitus, depresi, infeksi paru, atrofi otot, kontraktur, inkontinensia urin dan alvi

Kapan harus ke dokter?

Terdapat keluhan kesemutan, mati rasa, kejang otot, hilang kemampuan bergerak

Pengertian Kelumpuhan

Kelumpuhan atau dalam bahasa medis disebut dengan paralisis adalah kehilangan fungsi menggerakkan otot (motorik) dari salah satu bagian atau lebih banyak otot tubuh. Kondisi ini dapat disertai dengan kehilangan rasa atau sensori pada area tertentu.

Kelumpuhan juga dapat terjadi secara sementara atau permanen. Pengobatan kelumpuhan bergantung dari penyebab kelumpuhan.

Artikel lainnya: Bisa Lumpuh Akibat Cedera Tulang Belakang?

Jenis Kelumpuhan

Kelumpuhan dibagi dalam beberapa jenis:

1. Monoplegia 

Kelumpuhan pada salah satu tangan atau kaki

2. Hemiplegia

Kelumpuhan pada satu tangan dan kaki pada sisi yang sama 

3. Paraplegia

Kelumpuhan pada kedua kaki

4. Quadriplegia atau tetraplegia

Kelumpuhan pada kedua tangan dan kaki

Selain itu, terdapat kelumpuhan:

5. Flaccid (lembek)

Kelumpuhan flaccid akan menyebabkan otot mengecil dan menjadi lembek, sehingga menyebabkan kelemahan otot.

6. Spastik (kaku)

Kelumpuhan spastik menyebabkan otot kencang dan keras sehingga kadang otot menjadi kejang atau berkedut tanpa dikendalikan.

Penyebab Kelumpuhan

Kelumpuhan dapat terjadi sejak lahir atau akibat kecelakaan dan penyakit. Penyebab kaki tiba-tiba lumpuh dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti:

1. Cedera Tulang Belakang

Cedera tulang belakang adalah gangguan di sumsum tulang belakang dengan gejala berupa hilangnya fungsi saraf tubuh, baik motorik (gerakan tubuh) dan sensorik (menerima rangsangan tubuh). Kondisi ini sering disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Menurut data WHO tahun 2013, terdapat 250.000 - 500.000 jiwa yang menderita cedera tulang belakang setiap tahun di dunia.

2. Stroke

Stroke disebut serangan otak, yang disebabkan oleh sumbatan dan pecah pembuluh darah. Sindrom ini tidak hanya memiliki gejala kelumpuhan kaki, tapi dapat disertai nyeri kepala hebat, wajah terkulai di satu sisi, bicara pelo (kurang jelas), kelemahan sebelah tubuh, dan kesemutan. Terdapat stroke iskemik (sumbatan) dan stroke hemoragik (perdarahan).

3. Polio

Polio merupakan kondisi lumpuh layu secara tiba-tiba yang disebabkan oleh infeksi virus seperti enterovirus dan adenovirus. Kondisi ini juga memiliki gejala seperti flu (nyeri kepala, mual, lemah, dan nafsu makan menurun).

4. Sklerosis Multipel

Sklerosis multipel adalah gangguan degeneratif sel-sel saraf yang dimediasi oleh sistem imun (kekebalan tubuh)

5. Guillain-Barre Syndrome

Guillain-Barre Syndrome (GBS) merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf tepi (saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang). Kondisi ini sering diawali dengan lumpuh kedua kaki, lalu menyebar ke lengan.

6. Periodik Paralisis Hipokalemia

Periodik paralisis hipokalemia merupakan kelemahan otot berulang yang dihubungkan dengan penurunan kadar kalium darah. Biasanya terjadi kelemahan empat anggota gerak. Bila kelainan belum komplet, biasanya ditemukan kelemahan kedua kaki.

7. Defisiensi Vitamin D

Defisiensi vitamin D adalah kadar vitamin D darah <20 ng/mL. Kondisi ini ditandai dengan sulit menggerakkan kedua kaki, nyeri tulang, rambut rontok, dan sering mengalami ISPA.

8. Gangguan Konversi

Gangguan konversi merupakan kondisi kejiwaan seseorang yang berdampak pada gangguan penglihatan atau kemampuan bergerak, seperti lumpuh dan gerakan abnormal. Ini dikaitkan dengan kemampuan dalam mengatasi stres emosional.

Artikel lainnya: Bisa Lumpuh Akibat Cedera Tulang Belakang?

Gejala Kelumpuhan

Gejala kelumpuhan yang utama adalah kehilangan kemampuan untuk menggerakkan salah satu otot atau banyak otot dari tubuh. Gejala lain yang mendahului kelumpuhan dapat berupa:

1. Kesemutan

Sensasi kulit yang abnormal pada anggota gerak berupa rasa tertusuk atau terbakar

2. Kebas (Mati rasa)

Hilang rasa di bagian tubuh tertentu

3. Kram

kondisi otot yang mengalami kontraksi tiba-tiba, sehingga otot menegang

Faktor Risiko Kelumpuhan

Beberapa kondisi atau penyakit tertentu yang dapat meningkatkan risiko kelumpuhan:

1. Merokok

Seseorang yang merokok berisiko mengidap penyakit yang disebabkan oleh masalah di pembuluh darah seperti stroke.

2. Kegemukan

Seseorang yang overweight dan obesitas memiliki risiko untuk mengidap kencing manis dan tekanan darah tinggi, yang menjadi faktor risiko stroke.

3. Kurang Terpapar Sinar Matahari

Kurang terpapar dengan sinar matahari di pagi atau sore hari dapat menyebabkan kekurangan vitamin D yang sangat penting dalam proses pergerakan otot dan pengangkutan kalsium.

4. Pola Diet yang Kurang Tepat

Diet yang tidak seimbang, seperti kurang mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D dan B12.

Diagnosis Kelumpuhan

Dokter akan menetapkan diagnosis kelumpuhan dan mencari penyebab yang mendasarinya melalui beberapa tahap. Mulai dari wawancara medis yang terperinci, lalu pemeriksaan fisik untuk menentukan bagian tubuh mana yang mengalami kelumpuhan dan mengetahui jenisnya. Kemudian setelah melakukan dua tahapan tersebut, selanjutnya adalah pemeriksaan penunjang, seperti rontgen, pemeriksaan laboratorium, CT-scan, MRI, EMG, dan lainnya.

Pengobatan Kelumpuhan

Pengobatan kelumpuhan tergantung dari penyebabnya. Kamu dapat berobat ke dokter spesialis saraf, spesialis bedah saraf, serta kedokteran fisik dan rehabilitasi medik. Beberapa pilihan pengobatan yang disarankan untuk mengatasi kelumpuhan pada kaki antara lain:

  • Operasi (pembedahan)
  • Terapi fisik
  • Terapi pekerjaan
  • Penggunaan alat bantu, seperti kursi roda, penyangga, dan lain-lain
  • Psikoterapi
  • Terapi obat bergantung penyakit yang mendasari, seperti pelemas otot dan obat pengencer darah

Cara melatih kaki yang lumpuh juga dapat dikonsultasikan dengan dokter yang menangani kamu. Adapun cara yang disarankan:

Peregangan (stretching)

Peregangan bertujuan untuk melenturkan otot-otot tubuh, dan dilakukan sekurang-kurangnya 20 menit per hari.

Senam kaki

Senam kaki bertujuan untuk memperlancar aliran darah dan memperkuat otot. 

Pencegahan Kelumpuhan

Upaya mencegah kelumpuhan bergantung pada faktor risiko dan penyakit yang mendasarinya, seperti:

  • Tidak merokok.
  • Menurunkan berat badan bagi yang gemuk.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Berjemur di sinar matahari pagi dan sore hari, sebagai upaya untuk memperoleh asupan vitamin D yang optimal.
  • Mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang seimbang, sumber vitamin D, seperti telur, sarden, salmon, jamur, dan minyak hati ikan kod, serta sumber kalium, seperti pisang.
  • Memakai helm bagi pengendara sepeda motor atau sabuk pengaman bagi pengemudi mobil dan tidak ngebut saat berkendara.
  • Tidak mengonsumsi alkohol.

Komplikasi Kelumpuhan

Kelumpuhan yang tidak tertangani dengan baik dapat berisiko komplikasi, seperti:

  • Ulkus dekubitus, yaitu luka akibat penekanan di daerah kulit yang disebabkan oleh posisi tubuh yang tidak berganti dalam waktu yang lama
  • Depresi
  • Infeksi paru, seperti pneumonia
  • Atrofi (pengecilan ukuran) otot
  • Deformitas/kontraktur (kekakuan jaringan tubuh)
  • Inkontinensia urin (tidak dapat mengendalikan buang air kecil)
  • Inkontinensia alvi (tidak dapat mengendalikan buang air besar)

Obat Terkait Kelumpuhan

Artikel lainnya: Cara Pulihkan Psikis Penderita Kelumpuhan Akibat Cedera

Kapan Harus ke Dokter?

Sangat penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan mengetahui penyakit yang mendasari kelumpuhan. 

Periksakan diri kamu segera ke Dokter bila merasakan gejala seperti:

  • Kesemutan dengan faktor resiko
  • Mati rasa dengan faktor resiko
  • Kejang otot dengan faktor resiko
  • Menyeret kaki saat berjalan
  • Hilang kemampuan bergerak

Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang cara mengatasi kelumpuhan, yuk #JagaSehatmu dengan download aplikasi KlikDokter dan manfaatkan layanan konsultasi kesehatan 24 jam langsung dengan dokter melalui fitur Tanya Dokter online.

[LUF]

  1. Armour BS, Courtney-Long EA, Fox MH, Fredine H, Cahill A. Prevalence and Causes of Paralysis-United States, 2013. Am J Public Health. 2016;106(10):1855-7
  2. Dominguez LJ, Farruggia M, Veronese N, Barbagallo M. Vitamin D Sources, Metabolism, and Deficiency: Available Compounds and Guidelines for Its Treatment. Metabolites. 2021;11(4):255. 
  3. NHS. Paralysis. 2020. https://www.nhs.uk/conditions/paralysis/. Accessed 14 April 2023.
  4. WHO. Spinal Cord Injury. 2013. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/spinal-cord-injury. Accessed 14 April 2023.
  5. Johnston SC, Easton JD, Farrant M, Barsan W, Conwit RA, Elm JJ, Kim AS, Lindblad AS, Palesch YY. Clopidogrel and aspirin in acute ischemic stroke and high-risk TIA. New England Journal of Medicine. 2018;379(3):215-25.
  6. Nellis JC, Ishii M, Byrne PJ, Boahene KDO, Dey JK, Ishii LE. Association Among Facial Paralysis, Depression, and Quality of Life in Facial Plastic Surgery Patients. JAMA Facial Plast Surg. 2017;19(3):190-6. 
  7. Wiendl H, Gold R, Berger T, Derfuss T, Linker R, Mäurer M, et al. ‘Multiple Sclerosis Therapy Consensus Group’ (MSTCG). Multiple Sclerosis Therapy Consensus Group (MSTCG): position statement on disease-modifying therapies for multiple sclerosis (white paper). Ther Adv Neurol Disord. 2021;
  8. Rancourt D, & Darkes J. Conversion Disorder (Functional Neurological Symptom Disorder) in Primary Care Mental Health. Clinical Case Studies. 2019;18(1):54–68.
  9. Kleindorfer DO, Towfighi A, Chaturvedi S, Cockroft KM, Gutierrez J, Lombardi-Hill D, et al. 2021 Guideline for the Prevention of Stroke in Patients With Stroke and Transient Ischemic Attack: A Guideline From the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2021;52(7):e364-e467. 
  10. Rasheed K, Sethi P, Bixby E. Severe vitamin d deficiency induced myopathy associated with rhabydomyolysis. N Am J Med Sci. 2013;5(5):334-6.
  11. Dinata GS, Syafrita Y. Profil Pasien Periodik Paralisis Hipokalemia Di Bangsal Saraf RSUP DR M Djamil. Jurnal Kesehatan Andalas. 2018;7:91-6.
  12. Marcus R. What Is Guillain-Barré Syndrome? JAMA. 2023;329(7):602. 
  13. Harvey LA, Katalinic OM, Herbert RD, Moseley AM, Lannin NA, Schurr K. Stretch for the treatment and prevention of contractures. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017.
  14. Kumar MR, Bharath R, Rammohan P, Agrawal A. Clinical Profile in Hypokalemic Periodic Paralysis Cases. EUR J GEN MED. 2014;11(1):6-9.
  15. Mitwalli AH, Hammad D, Albakr RB, Alrashoudi A, Aljomaiah A. Neurological manifestations of Vitamin D deficiency among medical students. J Neurol Neurol Sci Disord. 2019.
  16. Carolus AE, Becker M, Cuny J, Smektala R, Schmieder K, Brenke C. The Interdisciplinary Management of Foot Drop. Dtsch Arztebl Int. 2019;116(20):347-54.