Sukses

Kapan Anak Harus Tes Alergi?

Anda mencurigai anak alergi? Lalu, kapankah saat yang tepat baginya untuk menjalani tes alergi?
Apakah Anda sering menemukan kulit anak merah atau bentol-bentol setelah makan ikan? Atau, ia selalu nyeri perut dan diare setelah minum susu? Kemungkinan anak memiliki alergi.

Untuk dapat mengatasi alergi tersebut – selain dengan obat-obatan dari dokter – harus diketahui pencetus alerginya. Dengan menghindari pencetus alergi tersebut, diharapkan alergi tidak kambuh kembali.

Namun, karena begitu banyaknya benda dan bahan yang berada di sekitar anak – mulai dari makanan yang beraneka ragam jenisnya yang ia konsumsi setiap hari, debu, polusi, bulu hewan, serbuk sari bunga – Anda pun tidak yakin, apa sebenarnya yang menyebabkan alergi pada anak?

Anda dapat mengusahakan dengan membuat buku harian alergi, yaitu dengan mencatat setiap kegiatan yang dilakukan anak, di mana, pukul berapa, dan menu makanan beserta bahan makanan yang terkandung di dalamnya. Apabila timbul gejala alergi, catat pula gejala apa saja yang muncul dan waktunya. Buku harian Anda akan sangat berguna untuk membantu dokter menegakkan diagnosis dan mencari penyebab alergi anak.

Selain itu, ada pula cara yang lebih pasti, yakni dengan melakukan tes alergi. Ada beberapa jenis tes alergi yang dapat dilakukan, yaitu uji cukit kulit (skin prick test), pemeriksaan IgE, dan uji eliminasi provokasi.

Uji Cukit Kulit

Sebelum melakukan uji ini, anak harus berhenti mengonsumsi obat antialergi kurang lebih selama satu minggu. Uji ini dilakukan pada lengan bawah bagian dalam atau di punggung. Anak baru dapat melakukan pemeriksaan ini apabila sudah berusia lebih dari empat bulan.

Selain lebih murah dan memiliki risiko yang rendah, keuntungan dari tes ini adalah minimalnya rasa sakit yang dialami oleh anak.

Ekstrak berbagai alergen yang telah dilarutkan dicukitkan sedikit ke kulit. Ekstrak tersebut dapat berupa ekstrak tungau debu rumah, serbuk sari bunga, bulu hewan, lateks, dan ekstrak berbagai jenis makanan.

Uji cukit kulit ini dikatakan positif apabila terbentuk bentol dengan diameter lebih besar dari 2 mm. Meskipun telah mendapatkan hasil positif, temuan tersebut harus dicocokkan kembali dengan keadaan pasien, apakah memang hasil tersebut relevan atau tidak. Karena bisa saja terjadi hasil positif palsu.

Uji IgE

Pemeriksaan ini merupakan alternatif apabila uji cukit kulit tidak memungkinkan. Misalnya, terdapat kelainan kulit yang luas pada area pemeriksaan atau anak tidak dapat lepas dari obat anti alergi karena penyakitnya terlalu berat.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel darah dari anak. Meskipun memiliki keakuratan yang tinggi, tes ini terbilang mahal dan agak menyakitkan bagi anak ketika proses pengambilan darah.

Uji Eliminasi Provokasi

Uji ini merupakan pemeriksaan baku emas untuk mengonfirmasi alergi pada anak. Pertama, orangtua diharuskan untuk memantang satu jenis makanan yang dicurigai selama dua hingga empat minggu – tidak dapat dilakukan sekaligus untuk beberapa jenis makanan.

Atau jika pemicu alergi yang dicurigai adalah debu, bulu binatang, atau apapun, prinsipnya adalah sama. Hindarkan anak sebisa mungkin dari bahan yang dicurigai selama dua hingga empat minggu. Perhatikanlah, apakah gejala alergi yang biasa dialami anak kambuh selama masa pantang tersebut.

Apabila gejala alergi menghilang, maka Anda sudah tidak perlu terlalu khawatir. Namun apabila gejala alergi masih tetap muncul, mungkin bukan hal tersebut yang menyebabkan alergi pada anak.

Setelah masa pantang dilakukan, paparkan anak kembali kepada alergen yang dimaksud. Apabila gejala muncul kembali, maka uji dinyatakan positif. Namun sebaliknya, hasil uji dinyatakan negatif apabila gejala alergi yang diharapkan tidak muncul dalam waktu satu minggu sejak uji dilakukan.

Perlu diingat, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan reaksi alergi yang serius, maka uji provokasi harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap, serta didampingi oleh dokter anak.

0 Komentar

Belum ada komentar