Sukses

Penting! Jenis-Jenis Malnutrisi pada Si Kecil

Kejadian malnutrisi sangatlah mengkhawatirkan, karena menyumbang kasus kematian anak setiap tahunnya. Telusuri lebih dalam di sini, bersama dr. Citra Roseno.

KlikDokter.com - Malnutrisi merupakan suatu kondisi konsumsi gizi yang tidak seimbang, yang dapat berupa kekurangan atau kelebihan asupan energi, protein, dan zat gizi. Secara garis besar, faktor penyebab malnutrisi pada anak antara lain faktor sosio-ekonomi yang rendah, kurangnya edukasi orang tua mengenai nutrisi, dan faktor penyakit pada anak.

Menurut IDAI, kejadian malnutrisi di masyarakat menyumbang 60% kasus kematian anak setiap tahunnya, dan 2/3 dari kematian tersebut terkait dengan praktik pemberian makan yang tidak tepat pada tahun pertama kehidupan anak. Oleh sebab itu, penting bagi Bunda untuk memahami pemenuhan kebutuhan nutrisi Si Kecil serta malnutrisi yang mengancam jika nutrisinya tidak memenuhi syarat.

Terdapat dua definisi malnutrisi, yakni undernutrition dan overnutrition. Di Indonesia, porsi terbesar kasus malnutrisi diakibatkan oleh undernutrition.

Undernutrition terjadi akibat asupan makanan yang kurang secara terus-menerus, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh untuk menghasilkan energi. Penyerapan dan metabolisme zat gizi yang masuk juga terganggu. Akibatnya, berat badan menurun dan status gizi menjadi kurang atau buruk.

Sementara itu, overnutrition terjadi akibat asupan makanan yang melebihi kebutuhan energi yang diperlukan tubuh, sehingga tubuh mengalami kegemukan dan obesitas – faktor risiko sebagian besar penyakit kronis seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, diabetes, dan kanker. Pada kasus overnutrition, sering kali jenis asupan makanan yang masuk tidak mengandung cukup gizi yang bermanfaat untuk tubuh meskipun banyak secara kuantitas.

Akibat malnutrisi, anak akan mengalami kesulitan belajar dan berpikir, lebih rentan terhadap penyakit, serta lebih berisiko mengalami kematian dini.

Secara klinis, keadaan malnutrisi dapat bermanifestasi sebagai:

  1. Protein Energy Malnutrition (PEM).

PEM merupakan kondisi ketika asupan makanan tidak memiliki cukup makronutrien (karbohidrat, protein dan lemak). Anak dengan PEM akan mengalami kondisi gagal tumbuh. 

Pada kasus akut, terjadi penurunan berat badan yang dikenal sebagai wasting, di mana anak tampak kurus dan kehilangan lemak tubuhnya.

Pada kasus kronis, gizi yang tidak memadai dalam periode waktu lama akan menyebabkan kondisi stunting, di mana tubuh anak menjadi pendek atau tidak bertambah tinggi dibandingkan rentang tinggi badan normal.

PEM adalah kelompok penyakit yang terdiri atas:

  • Marasmus merupakan kondisi kekurangan kalori dan energi. Penderita mengalami penurunan berat badan ekstrem, sehingga tulang tampak hanya terbungkus kulit, dan paras terlihat tua.

  • Kwashiorkor merupakan kondisi kekurangan protein. Penderita mengalami tangan dan kaki bengkak, perut buncit, perubahan warna kulit dan rambut, serta tampak rewel.

  • Marasmic kwashiorkor merupakan gabungan kedua kondisi di atas.

  1. Micronutrient Deficiency Diseases (MDD).

MDD merupakan kekurangan mikronutrien yang spesifik, seperti:

  • Kekurangan zat besi merupakan bentuk paling umum dari malnutrisi di dunia. Dialami 40-60% anak usia 6-24 bulan di negara-negara berkembang. Zat besi berperan membentuk molekul yang membawa oksigen dalam darah. Kekurangan zat besi menyebabkan kelelahan dan kelesuan, serta menghambat perkembangan kognitif anak.
  • Kekurangan vitamin A dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga anak rentan terhadap penyakit—meningkatkan risiko kematian akibat diare, campak, dan malaria sebanyak 20-24%, serta merupakan penyebab utama kebutaan anak di negara-negara berkembang.
  • Kekurangan yodium tampak sebagai pembengkakan kelenjar tiroid yang disebut gondok. Dampak paling serius adalah gangguan perkembangan otak. Menurut penelitian PBB, sekitar 20 juta anak lahir dengan gangguan mental karena ibu mereka tidak cukup mengonsumsi yodium.
  • Kekurangan seng juga dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan dan melemahnya kekebalan tubuh, sehingga anak memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami diare dan pneumonia.

0 Komentar

Belum ada komentar