Sukses

Bisakah Balita Mengalami Anemia?

Bisakah Balita Mengalami Anemia? Anemia sering disebut sebagai penyakit yang kerap diderita wanita. Tapi sudah tahukah Anda, kalau anemia dapat juga terjadi pada balita? Berikut penjelasan dr. Anita Amalia Sari di sini selengkapnya.

KlikDokter.com - Kurang darah atau anemia bukanlah penyakit yang hanya dapat menyerang orang dewasa saja. Bayi dan balita pun dapat mengalami anemia. Sekitar 80% anak dan balita di negara berkembang diduga mengalami anemia. Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan terjadinya anemia pada balita, mulai dari masa kehamilan, pemberian air susu ibu (ASI) yang kurang tepat, perubahan pola makan dan pemilihan makanan yang tidak tepat, faktor ekonomi ataupun akibat sakit tertentu.

Pada balita dan anak-anak, anemia dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak. Paling sering anemia pada balita disebabkan asupan gizi yang kurang yaitu kurangnya zat besi yang sangat penting bagi pembentukan sel darah merah baru. Pada anak di bawah usia 2 tahun, dimana saat periode emas perkembangan otak, anemia akibat kekurangan zat besi dapat menyebabkan tidak optimalnya fungsi otak dan mental anak.

Anemia pada balita pun selain akibat kekurangan zat besi dapat pula disebabkan oleh penyebab lain seperti gangguan genetik (talasemia, anemia sel sabit). Pada anemia jenis ini tentunya anak membutuhkan penanganan anemia yang lebih khusus.

Saat periode pertumbuhan dan perkembangan si kecil membutuhkan zat besi dalam jumlah yang besar. Simak halaman berikutnya untuk mengetahui lebih jauh.

1 dari 4 halaman

Bisakah Balita Mengalami Anemia?

Sakatonik Liver

Saat periode pertumbuhan dan perkembangan si kecil membutuhkan zat besi dalam jumlah yang besar. Bayi dilahirkan dengan cadangan zat besi di dalam tubuhnya, karena tubuhnya bertumbuh secara cepat, balita butuh untuk menyerap zat besi setiap harinya. Anemia defisiensi zat besi paling sering ditemukan pada bayi usia 9 bulan  hingga 24 bulan.

Penyebab anemia defisiensi zat besi pada balita:

  • Penghentian pemberian ASI yang terlalu cepat. Disarankan untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi karena kandungan zat besi dalam ASI jauh lebih tinggi dan mudah dicerna dibandingkan susu formula.
  • Setelah usia 6 bulan, bayi sudah membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI). Kandungan zat besi dan nutrisi dari ASI saja sudah tidak mencukupi. Hal ini perlu diperhatikan oleh orang tua, pemilihan MPASI yang kurang tepat ataupun memaksakan bayi hanya mengonsumsi ASI saja di atas 6 bulan dapat menyebabkan bayi mengalami anemia.
  • Bayi dibawah usia 12 bulan yang mengonsumsi susu sapi bukan ASI atau susu formula yang difortifiksi zat besi akan cenderung mengalami anemia karena susu sapi memiliki zat besi yang rendah, menyebabkan kehilangan darah melalui usus (perdarahan saluran cerna sedikit), dan menyebabkan sulitnya pencernaan zat besi oleh tubuh
  • Anemia pada anak dipicu oleh kebiasaan anak yang terlalu banyak meminum susu formula yang miskin zat besi sehingga menyebabkan anak sudah merasa kenyang terlebih dahulu dan malas atau kurang nafsu makan. Kecuali anak diberikan susu formula yang sudah mengandung tambahan zat besi yang difortifikasi. Hal tersebut menyebabkan asupan zat besi memalui makanan menjadi kurang optimal.
  • Pola makan dan asupan gizi yang kurang seimbang
  • Anak terlahir premature memiliki berat badan lahir rendah yang lebih berisiko terkena anemia
  • anak dan balita yang mengalami penyakit kronis seperti cacingan, tuberculosis dan infeksi lainnya lebih rentan mengalami anemia.

Apa saja gejala anemia pada wanita? Simak halaman berikutnya.

2 dari 4 halaman

Bisakah Balita Mengalami Anemia?

Sakatonik Liver

Gejala anemia pada balita:

Anemia ringan bisa saja tidak bergejala, ketika jumlah zat besi di dalam darah menurun, dapat muncul gejala sebagai berikut pada si kecil:

  • badan lesu
  • pucat
  • si kecil menjadi lebih sensitive (irritable)
  • pusing
  • makan makanan yang tidak wajar (pica)
  • detak jantung lebih cepat
  • si kecil terlihat sesak napas
  • daya tahan tubuh melemah

Bila Si Kecil mengalami gejala tersebut atau Anda curiga anak mengalami anemia maka segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis anak. Dokter akan mengajukan pertanyaan dan melakukan serangkaian pemeriksaan darah untuk menentukan diagnosis.

Simak halaman berikut untuk mengetahui tips untuk mengatasi anemia pada balita.

3 dari 4 halaman

Bisakah Balita Mengalami Anemia?

Sakatonik Liver

Untuk mengatasi anemia pada balita berikut adalah beberapa tips yang dapat diikuti:

  • hindari memberikan susu sapi hingga Si Kecil berusia 1 tahun. Bayi usia di bawah 1 tahun memiliki kesulitan mencerna susu sapi. Anda dapat memberikan ASI atau susu formula yang difortifiikasi zat besi
  • setelah usia 6 bulan Si Kecil akan membutuhkan lebh banyak zat besi. Mulai pemberian MPASI dengan sereal bayi yang difortifikasi zat besi yang dicampur dengan ASI atau formula.
  • Makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah (sapi, kambing, termasuk unggas seperti ayam, kalkun), telur, hati, sayuran hijau (bayam, kangkung), ikan, kacang-kacangan dapat dimasukkan dalam menu makanan si kecil.
  • Bila tidak membaik dengan perubahan pola makan maka dokter akan merekomendasikan pemerian suplemen penambah darah. namun perlu diingat untuk tidak memberikan suplemen tanpa saran dari dokter anak yang menangani Si Kecil agar tidak keracunan suplemen.

Penting sekali untuk mengatasi anemia pada balita dan anak-anak. Jumlah zat besi yang sedikit di dalam tubuh dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan konsentrasi, gangguan belajar dan gangguan pertumbuhan (pertumbuhan terhambat) pada Si Kecil.

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai topik ini, silakan ajukan pertanyaan Anda di fitur Tanya Dokter Klikdokter.com di laman website kami.

0 Komentar

Belum ada komentar